🗓 Minggu, 15 Februari 2026
🕖 Jam: 07.00 WIB
👕 Dress Code : nuansa pink
📍 Run Site : Perumahan Citra Land
Setiap jejak kaki di tanah ini
adalah bisikan hati; setiap napas di hutan, sungai, dan bukit adalah renungan
jiwa. “Trails of the Heart – Jejak Hati” mengingatkan kita: perjalanan bukan
hanya tentang menempuh jarak, tetapi tentang menapaki makna. Hati kita menuntun
langkah, persahabatan menjadi peta, dan alam menjadi cermin. Dalam setiap
langkah, kita belajar bahwa kehidupan sejati terukir bukan dari kecepatan atau
tujuan, tapi dari kesadaran dan rasa yang ditinggalkan di
setiap jejak. Jejak
hati, seperti hidup, abadi dalam ingatan, keheningan dan cinta.
Run site hari ini berada di kantor marketing CitraLand Bandar Lampung, kawasan perumahan premium di Bandar Lampung yang dikembangkan oleh Ciputra Group. Terletak di perbukitan Sumur Putri, Teluk Betung Utara, banyak hunian di sini menghadap indahnya Teluk Lampung, dengan udara yang lebih sejuk dibanding pusat kota. Kawasan ini bukan sekadar perumahan, tetapi ruang hidup terpadu—area komersial, ruang terbuka hijau, dan jalan yang tertata rapi menyatu dengan kontur alam.
Namun hari ini, kawasan itu bukan
hanya menjadi latar perjalanan fisik, melainkan ruang permenungan batin.
Seperti biasa, kegiatan diawali dengan foto bersama, lalu run dimulai pukul 07.10 WIB. Sebagian hasher memilih jalur dalam kawasan perumahan yang menanjak, sementara yang lain mengikuti rute yang telah disiapkan tim hare. Jalan beraspal yang menanjak membawa kami masuk ke kebun, dan di sanalah tantangan mulai terasa tanah basah, becek, dan licin akibat hujan deras semalam.
Setiap jejak kaki di tanah ini
adalah bisikan hati; setiap napas di hutan, sungai, dan bukit adalah renungan
jiwa. “Trails of the Heart – Jejak Hati” menjadi nyata di lintasan hari
ini. Perjalanan bukan sekadar menempuh jarak, tetapi menapaki makna. Hati
menuntun langkah, persahabatan menjadi peta, dan alam menjadi cermin.
Peserta baru bergabung dengan semangat yang menyala, sementara hasher senior mengambil peran sebagai penuntun dan penjaga ritme kebersamaan. Kami terbagi dalam jalur long dan short. Saya, dengan perlengkapan fotografi dan drone, mengikuti jalur long melewati hutan pinus, turun ke lembah yang licinnya menguji keseimbangan dan kesabaran.
Di medan seperti ini, sepatu
boleh saja kurang memadai, trekking pole mungkin tak semua punya, tetapi yang
paling penting adalah tangan yang terulur. Saling membantu, berpegangan, dan
menarik satu sama lain menjadi bukti bahwa perjalanan sejati tak pernah
ditempuh sendirian.
Di sebuah vila dengan pemandangan lembah yang hijau dan udara sejuk, kami berhenti sejenak. Kamera menangkap senyum, tawa, bahkan wajah
lelah yang jujur. Beberapa peserta memilih kembali karena kelelahan, sementara yang lain melanjutkan langkah. Tidak ada yang lebih benar—setiap orang berjalan sesuai iramanya sendiri.
Turunan berikutnya tak kalah menantang. Licin membuat beberapa terpeleset, bahkan harus merosot untuk sampai ke bawah. Namun justru di situlah tawa pecah, ego luruh, dan solidaritas tumbuh.
Di lembah, kami bertemu sungai.
Sepatu yang penuh lumpur dibersihkan, kaki dicelupkan, dan sungai yang sama
kami seberangi berulang kali sekitar dua belas kali.
Menyeberang, naik ke
daratan, turun kembali, lalu menyeberang lagi. Seolah hidup sendiri mengajarkan
bahwa untuk maju, kadang kita harus bolak-balik, mencoba, jatuh, lalu bangkit.
Setelah penyeberangan terakhir, tanjakan menuju jalan utama kembali menguras napas. Bukan lagi soal kuat atau cepat, tetapi soal bertahan dan menyadari setiap langkah.
Berdasarkan rekaman aplikasi di ponsel, jarak tempuh sekitar 7 km dengan waktu hampir 4 jam. Angka itu mungkin sederhana, tetapi maknanya tidak.
Karena kehidupan sejati terukir
bukan dari kecepatan atau tujuan, melainkan dari
kesadaran dan rasa yang
ditinggalkan di setiap jejak. Jejak hati seperti hidup abadi dalam ingatan,
dalam keheningan, dan dalam cinta.
