Saturday, May 09, 2026

MLZ 03, WITH MARY ON THE JOURNEY OF HOPE

 

Komunitas Mlampah Ziarah Lampung berawal dari gagasan sederhana beberapa orang yang pernah mengikuti kegiatan mlampah ziarah di Kota Yogyakarta dan beberapa kota lain di Indonesia, serta teman-teman yang sudah terbiasa melakukan kegiatan hiking. Ide sederhana itu ternyata mendapat sambutan hangat dan perlahan berkembang menjadi kegiatan baru bagi para penyuka jalan kaki sekaligus peziarahan.

Mlampah Ziarah Lampung, yang selanjutnya disebut MZL, pertama kali dilaksanakan pada MZL01 tanggal 7 Maret 2026 dengan rute dari Asilo Hermelink menuju Taman Doa Sendang Banyu Biru di Way Kandis. Perjalanan ini diikuti 18 peserta dengan jarak tempuh sekitar 8 kilometer, melewati jalan-jalan utama Kota Bandar Lampung seperti Jl. ZA Pagar Alam, Jl. Sultan Agung, Jl. Ki Maja, hingga Jl. Ratu Dibalau.

Selanjutnya, MZL02 diadakan pada 11 April 2026 dengan rute dari Asilo Hermelink menuju Panti Wreda Griya Nugraha. Perjalanan kali ini melewati jalur yang cukup menanjak dengan jarak sekitar 7 kilometer.

MZL03 dilaksanakan pada Sabtu, 9 Mei 2026, dengan titik kumpul tetap di Asilo Hermelink dan tujuan akhir Kapel Santa Anna di komunitas induk Suster-suster Hati Kudus Teluk Betung.

Malam masih menyelimuti Asilo Hermelink ketika waktu menunjukkan pukul 04.45 WIB. Satu per satu peserta mulai berkumpul untuk mengikuti kegiatan komunitas ini. Acara diawali dengan briefing keselamatan perjalanan, pembagian kelompok seperti yang telah dibagikan di grup WhatsApp, dilanjutkan dengan pemanasan dan peregangan sebelum memulai perjalanan, serta doa pembuka.

Tepat pukul 05.20 WIB perjalanan dimulai, dengan kelompok satu berada di posisi terdepan. Kali ini jumlah peserta mencapai 36 orang. Menyusuri Jl. ZA Pagar Alam, pagi itu cuaca cerah dan langit masih menampakkan cahaya bulan. Beberapa orang di pinggir jalan menyapa rombongan kami. Aktivitas kota pun mulai terasa hidup; kendaraan berlalu-lalang dengan kecepatan cukup tinggi sehingga kami harus terus berhati-hati sepanjang perjalanan.

Dengan jumlah peserta yang cukup banyak dan kemampuan berjalan yang berbeda-beda, ritme perjalanan harus terus disesuaikan. Ketika ada teman yang mulai tertinggal, setiap kelompok berusaha menjaga irama langkah agar tidak meninggalkan peserta yang berjalan lebih lambat.

Perjalanan ini juga menghadirkan refleksi tentang kondisi pejalan kaki di Kota Bandar Lampung. Trotoar yang seharusnya menjadi ruang aman bagi pejalan kaki masih banyak yang kurang layak: ada lubang menganga di tengah jalur, sebagian dipakai berdagang, bahkan menjadi tempat sampah. Kondisi ini seharusnya menjadi perhatian bersama agar tersedia ruang berjalan yang aman dan nyaman bagi masyarakat.

Memasuki kilometer kedua, kelompok empat tertinggal cukup jauh dari rombongan lain. Akhirnya kelompok satu berpindah ke bagian belakang, sementara kelompok empat mengambil posisi terdepan agar ritme perjalanan kembali seimbang.

Perjalanan ini bukan sekadar jalan kaki, melainkan sebuah peziarahan hati. Di setiap langkah ada doa yang dipanjatkan, rasa syukur yang tumbuh, dan keyakinan bahwa Tuhan selalu berjalan bersama dalam setiap perjalanan hidup.

Berjalan bersama, saling bercerita, dan berbagi kegembiraan membuat setiap langkah terasa lebih ringan. Dalam perjalanan ziarah, bukan hanya tujuan akhir yang menjadi makna, melainkan juga kebersamaan yang menguatkan hati dan menghadirkan syukur sepanjang jalan.

Saat melewati Gereja Katedral Kristus Raja, kami memang tidak berhenti. Namun langkah yang terus berjalan justru menjadi ruang permenungan. Kami diingatkan bahwa setiap jalan dapat menjadi tempat berdoa, setiap langkah membawa harapan, dan setiap hati belajar semakin bersyukur.

Perjalanan juga melewati kawasan pertokoan dan Ramayana yang dahulu begitu ramai, namun kini terasa lebih sepi. Pemandangan itu mengingatkan bahwa waktu terus berjalan, suasana dapat berubah, tetapi kenangan dan cerita akan selalu tinggal dalam ingatan orang-orang yang pernah melewatinya.

Ketika melewati Jl. Raden Intan, peserta yang berada paling depan sempat berjalan terlalu jauh meninggalkan rombongan belakang. Saya sebagai leader harus berlari mengejar untuk mengingatkan agar rombongan berhenti sejenak menunggu peserta lain yang tertinggal. Tidak semua peserta memiliki kemampuan berjalan cepat, sehingga ritme perjalanan kembali diatur agar seluruh peserta tetap dapat berjalan bersama.

Setelah seluruh peserta berkumpul kembali, kami mengabadikan perjalanan ini melalui foto dan video di Tugu Adipura, ikon Kota Bandar Lampung. Kawasan ini juga dikenal sebagai pusat kegiatan car free day setiap hari Minggu, tempat masyarakat menikmati jalan kaki dan olahraga tanpa gangguan kendaraan bermotor.

Perjalanan kemudian dilanjutkan melewati Jl. Diponegoro yang menurun dengan kondisi trotoar yang relatif lebih baik, meskipun di beberapa titik masih terdapat kerusakan. Kami memilih tetap berjalan di trotoar demi keamanan karena arus kendaraan di jalan utama sudah cukup ramai dan melaju cepat.

Di pertigaan Balai Kota terdapat spot foto yang menarik, namun kami hanya berhenti sejenak untuk berfoto sendiri-sendiri sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Jalan yang menurun membuat peserta kembali bersemangat dan mempercepat langkah. Meski demikian, satu peserta tertua yang berjalan lebih pelan tetap kami dampingi agar tetap nyaman mengikuti perjalanan.

Pukul 07.42 WIB kami akhirnya tiba di tujuan, yaitu Kapel Biara Induk Suster-suster Hati Kudus Teluk Betung. Syukur kami rasakan ketika seluruh peserta dipastikan tiba dalam keadaan sehat dan baik.

Setelah beristirahat sejenak, kami dijamu oleh para suster HK dengan roti goreng, pisang rebus, air mineral, kopi, dan teh hangat yang sangat membantu mengembalikan tenaga setelah perjalanan pagi itu.

Selanjutnya kami memasuki kapel untuk berdoa Rosario sebagai penutup perjalanan ziarah ini. Doa Rosario dipandu oleh Ibu Mariana Kowe. Suasana hening, khidmat, dan penuh rasa syukur begitu terasa dalam doa bersama yang menjadi penutup perjalanan hari itu.

Usai doa Rosario, kami berpamitan kepada para Suster HK serta Direktur RS Santa Anna yang telah menyambut kami dengan hangat dan penuh keramahan.

 

MZL003

Mlampah Ziarah Lampung

WITH MARY ON THE JOURNEY OF HOPE

🗓️ Sabtu, 9 Mei 2026

⏰ 05.00 WIB

📍 Start : Asilo Hermelink

🏁 Finish : Kapel Santa Anna, Teluk Betung

Mlampah Ziarah Lampung 03 (MZL 03) mengajak kita melangkah dalam perjalanan iman bersama Bunda Maria, sosok yang setia berjalan dalam harapan, bahkan di tengah ketidakpastian. Dalam setiap langkah ziarah ini, kita diajak untuk meneladani hati Maria yang penuh iman, ketaatan, dan kepercayaan kepada kehendak Tuhan.

Perjalanan ini bukan sekadar menempuh jarak, tetapi menjadi ruang untuk merenung, berdoa, dan memperdalam relasi dengan Tuhan. Bersama Maria, kita belajar bahwa harapan tidak pernah padam, bahkan ketika jalan terasa menanjak atau melelahkan. Justru dalam proses itulah, iman kita diteguhkan dan hati kita dibentuk.

Dalam kebersamaan sebagai peziarah, kita saling menguatkan, saling mendoakan, dan berjalan dalam satu tujuan: menemukan damai dan harapan sejati. Doa-doa yang terlantun, langkah-langkah yang diayunkan, serta keheningan yang kita alami menjadi bagian dari perjalanan rohani yang menyentuh hati.

Melalui MZL 03, kita diajak untuk menyerahkan setiap pergumulan, harapan, dan rasa syukur kepada Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria.

Semoga perjalanan ini membawa kita semakin dekat pada kasih Tuhan, dan menumbuhkan harapan baru dalam setiap langkah kehidupan.

With Mary on the Journey of Hope

Bersama Maria dalam perjalanan pengharapan

 

PERSIAPAN MLAMPAH ZIARAH LAMPUNG

🌸 I. RUN DOWN 🌸

Sabtu, 9 Mei 2026

Route : Asilo Hermelink -  RS Santa Anna

04.45  : Peserta berkumpul di Asilo Hermelink

* Registrasi (memastikan yang daftar sudah hadir, mengambil stiker nama di bu Pieri)

* Persiapan pribadi

05.00 Pembuka

* Pengantar singkat (Bu Pieri)

* Briefing teknis perjalanan (Pak Hendro @Piet Hendro )

* Pemanasan fisik (Bu Yuli @Yuli Nugrahani )

* Doa pembuka (Suster  Dymphna @~Sr. Dymphna, HK )

05.15 Mulai berjalan

Suasana hening  langkah menjadi doa. Bersama kelompok masing masing

07.15 Tiba di Santa Anna. Istirahat

07. 30 ke Kapel

* Hening

* Doa Rosario (Bu Maria @~Mariana Kowe  )

* Doa ujud pribadi

08.30 Penutup

* Berkat

* Sayonara

* Foto bersama

 

🌸II. SAFETY BRIEFING🌸

1.     Pastikan kondisi tubuh sehat dan siap berjalan ±8 - 9 km.

2.     Gunakan sepatu yang nyaman dan tidak licin.

3.     Bawa air minum pribadi minimal 600 ml.

4.     Tetap berjalan di sisi kiri jalan dan patuhi aturan lalu lintas.

5.     Jangan berjalan sendirian, tetap dalam kelompok.

6.     Ikuti arahan koordinator dan tim sweeper.

7.     Jika merasa pusing, lelah berlebihan, atau cedera, segera lapor ke koordinator kelompok.

8.     Dimohon untuk tidak bercanda berlebihan yang membahayakan diri sendiri atau peserta lain.

9.     Jaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan.

10.  Transport ke Asilo dari rumah masing masing dan dari Santa Anna ke Asilo/rumah masing masing dilakukan secara mandiri.

Ingat: Ini adalah ziarah rohani. Mari kita menjaga sikap, kata-kata, dan suasana doa.

 

🌷III. PERSIAPAN PRIBADI PESERTA🌷

🌷A. Perlengkapan

v Sepatu nyaman (sudah pernah dipakai, bukan baru)

v Kaos kaki Cadangan

v Topi / buff

v Jas hujan ringan / paying

v Tas kecil / daypack

v Track pole atau tongkat

v Head lamp atau senter

🌷B. Konsumsi

v Air minum minimal 600 ml

v Snack ringan (telur rebus/arem arem/roti / kurma / pisang / energy bar / coklat / madu)

🌷C. Kesehatan

v Obat pribadi (jika ada)

v Plester luka / plester anti lecet

v Minyak angin

v Sunblock (jika perlu)

D. Lain-lain

v HP dengan baterai cukup

v Uang secukupnya

v Identitas diri

 

🍄IV. PELAKSANA LAPANGAN🍄

v Korlab : Pak Hendro @Piet Hendro

v Leader : Pak Hendro @Piet Hendro , Pak Nur Santosa @Nur Santoso , Pak Joko @~Yohanes Joko Purwanto SH , Pak Singgih @~Singgih

v Sweeper : Pak Dono @~Dono , Pak Susilo @~V Susilo Sugiarto , Pak Lukas  Koes @Lukask Kaling Sta. Scholastika , Pak Parman @Martinus Suparman

v Doa pembukaan di Asilo: Suster Dymphna @~Sr. Dymphna, HK

v Doa Rosario di Santa Anna: Ibu Maria @~Mariana Kowe

v CP keluhan medis : Pak Dono @~Dono

v CP mobil sweeper : Pak Alex

 

Mlampah Ziarah Lampung

1.     Niat & Doa : Awali dengan niat ziarah sebagai perjalanan iman, bukan sekadar jalan kaki.

2.     Persiapan Diri : Siapkan fisik, perlengkapan sederhana, dan hati yang terbuka.

3.     Perjalanan : Nikmati setiap langkah dengan doa, nyanyian, atau hening refleksi.

4.     Tiba di Tempat Ziarah : Ikuti ibadat, doa pribadi, atau devosi dengan khusyuk.

5.     Refleksi : Renungkan pengalaman, syukur atas perjalanan yang dilalui.

6.     Kembali & Membawa Makna :  Pulang dengan semangat baru untuk hidup sehari-hari.

 

 

Monday, March 30, 2026

PENDAKIAN GUNUNG PESAWARAN (1662 MDPL)

 Sudah cukup lama tidak naik gunung, rasa rindu untuk kembali mendaki selalu muncul. Dengan perencanaan singkat, kami mempertimbangkan beberapa pilihan gunung yang akan didaki, di antaranya Gunung Betung dan Gunung Ratai yang sebelumnya pernah kami kunjungi. Namun setelah mempertimbangkan waktu dan jarak tempuh, akhirnya kami memutuskan untuk mendaki Gunung Pesawaran.

Gunung Pesawaran merupakan gunung yang berada di wilayah Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, dan termasuk dalam rangkaian Bukit Barisan, dengan ketinggian sekitar ±1.662 mdpl. Gunung ini dikenal memiliki hutan tropis yang masih cukup asri, jalur pendakian yang menantang namun relatif sepi, serta panorama luas ke arah Teluk Lampung. Dari beberapa titik, juga terlihat Gunung Tanggamus di kejauhan. Kondisi tersebut menjadikan Gunung Pesawaran cocok untuk kegiatan hiking, eksplorasi alam, maupun perjalanan reflektif di alam terbuka.

Seperti biasa, sebelum mendaki kami menyusun itinerary. Awalnya berencana mengajak beberapa teman, namun karena berbagai kesibukan, hanya satu orang yang dapat bergabung, yaitu Arya.

Kami berangkat dari rumah sekitar pukul 11.07 WIB melalui Jl. Radin Gunawan (sering disebut jalan baru) melewati pertigaan Tugu Cokelat. Lalu lintas menuju Pringsewu cukup padat, kemungkinan karena masih dalam suasana setelah Idul Fitri, banyak masyarakat yang berkunjung ke sanak saudara maupun tempat wisata, baik menuju Bandar Lampung maupun Pringsewu.

Perjalanan dilanjutkan menuju Gedong Tataan, kemudian berbelok ke arah Kedondong di pertigaan Tugu Pengantin Pesawaran. Arus lalu lintas mulai terurai sehingga perjalanan terasa lebih lancar hingga sampai di Kedondong. Dari pertigaan Indomaret Simpang Ratai, perjalanan dilanjutkan menuju jalan Padang Cermin – Kedondong sekitar 7 km, kemudian terdapat pertigaan ke kanan di dekat Masjid Babussalam, menuju basecamp Gunung Pesawaran. Kami tiba di basecamp sekitar pukul 13.00 WIB.

Di basecamp, kami membongkar carrier untuk mendata barang bawaan yang berpotensi menjadi sampah. Setiap kemasan dihitung secara rinci, misalnya mie instan dihitung menjadi tiga potensi sampah (bungkus, bumbu, minyak), air mineral dua sampah (botol dan tutup), sosis isi tiga dengan satu bungkus dihitung empat sampah, termasuk jas hujan, dan lainnya. Tisu basah tidak diizinkan dibawa karena sulit terurai. Sistem ini menjadi salah satu cara efektif untuk mengurangi sampah di gunung.

Kami makan siang bekal dari rumah di basecamp sebelum kembali merapikan perlengkapan. Selanjutnya dilakukan pencatatan identitas pendaki meliputi nama, alamat, serta kontak yang dapat dihubungi. Biaya registrasi sebesar Rp20.000 per orang dan parkir sepeda motor Rp10.000 per kendaraan. Dari basecamp tersedia ojek menuju pondok ojek dengan biaya sekitar Rp20.000–Rp25.000 per orang.

Kami memutuskan menggunakan ojek karena jalur awal berupa jalan aspal dan beton, sementara cuaca siang hari cukup terik. Berangkat pukul 13.52 WIB dan tiba di pondok ojek di area kebun kakao pukul 14.09 WIB. Keputusan menggunakan ojek terasa tepat karena panas cukup menyengat.

Perjalanan dilanjutkan menuju camping ground melalui kebun kakao. Meskipun melewati area pepohonan, sinar matahari masih cukup terasa. Kami berusaha menjaga kondisi tubuh dengan cukup minum agar terhindar dari dehidrasi. Tanjakan demi tanjakan mulai terasa menguras tenaga.

Pukul 14.32 WIB kami tiba di camping ground. Dari lokasi ini terlihat pemandangan luas. Area ini disiapkan sebagai lokasi mendirikan tenda, namun tampaknya jarang digunakan karena tidak memiliki peneduh sehingga cukup panas pada siang hari. Kami hanya beristirahat sejenak.

Pukul 14.45 WIB perjalanan dilanjutkan menuju pintu rimba, yang dicapai pukul 14.56 WIB. Setelah berfoto dan beristirahat singkat, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 1.

Jalur menuju Pos 1 cukup terjal, dengan bantuan akar pohon dan tali yang dipasang pengelola. Beruntung beberapa hari terakhir tidak hujan sehingga jalur tidak terlalu licin. Pukul 15.06 WIB kami tiba di Pos 1 (Jalur Akar) pada ketinggian sekitar 1.200 mdpl. Setelah berfoto dan istirahat singkat, perjalanan dilanjutkan pukul 15.09 WIB menuju Pos 2.

Jalur menuju Pos 2 tetap menantang, dengan tanjakan curam yang membuat napas cukup terkuras, terlebih dengan beban carrier hampir 20 kg. Beberapa tali membantu pendaki melewati bagian yang cukup sulit. Di perjalanan kami berpapasan dengan beberapa pendaki yang turun dari puncak. Sebagian besar pendaki Gunung Pesawaran memilih sistem tek-tok (naik ke puncak lalu turun kembali pada hari yang sama), sehingga relatif jarang yang berkemah di puncak.

Pukul 15.36 WIB kami tiba di Pos 2 yang dikenal sebagai Jalur Patah Hati, pada ketinggian sekitar 1.300 mdpl. Setelah beristirahat dan makan camilan, perjalanan dilanjutkan. Jalur tetap didominasi tanjakan tanpa bonus trek datar. Vegetasi mulai didominasi pakis dengan beberapa punggungan yang menawarkan panorama luas.

Pukul 17.25 WIB kami tiba di Pos 3 (1.400 mdpl). Setelah istirahat singkat, perjalanan dilanjutkan menuju Pos 4. Tanjakan menuju Pos 4 tetap menantang dan cukup terjal.

Pukul 18.14 WIB kami tiba di Pos 4 pada ketinggian sekitar 1.580 mdpl. Vegetasi kembali didominasi pepohonan tinggi. Dari sisi barat terlihat cahaya matahari terbenam yang menyelinap di antara pepohonan.

Pukul 18.20 WIB kami akhirnya tiba di puncak Gunung Pesawaran (1.662 mdpl). Rasa syukur kami panjatkan karena dapat mencapai puncak dengan selamat. Tidak ada pendaki lain di puncak saat itu, hanya kami bertiga. Sisa-sisa cahaya senja kami abadikan melalui foto dan video.

Kami kemudian mendirikan tenda di lokasi yang cukup strategis, dengan pintu tenda menghadap ke arah timur, sehingga pada malam hari terlihat kerlap-kerlip lampu Kota Bandar Lampung dari kejauhan.

Memasak di puncak gunung memiliki kesan tersendiri. Suasana malam yang sunyi, langit penuh bintang, suara satwa malam, serta pemandangan kota dari kejauhan menghadirkan pengalaman yang sangat berkesan. Bersyukur cuaca cerah tanpa hujan sehingga langit terlihat jernih dan udara tidak terlalu dingin.

Setelah beristirahat, pukul 05.24 WIB cahaya fajar mulai terlihat di ufuk timur di antara awan putih. Momen indah tersebut kami abadikan. Untuk sarapan, kami memasak pisang goreng, ditemani secangkir kopi hangat. Menu dilanjutkan dengan mie instan, kornet, dan telur goreng yang terasa sangat nikmat di tengah suasana alam terbuka.

Kami juga mengabadikan berbagai foto dan video, termasuk menggunakan drone untuk menangkap panorama yang lebih luas.

Berdasarkan pengamatan, Gunung Pesawaran tergolong cukup bersih dari sampah plastik maupun sisa makanan. Tidak terlihat tikus berkeliaran, menandakan tidak banyak sisa makanan yang ditinggalkan pendaki. Aturan membawa kembali sampah ke basecamp terbukti efektif menjaga kebersihan jalur dan puncak. Selain itu, tidak terlihat bekas api unggun yang berpotensi menimbulkan kebakaran hutan.

Pagi itu kami juga ditemui beberapa ekor tupai yang mendekat, kemungkinan mencari makan. Kebetulan kami membawa pisang dan mereka tampak tertarik. Kami juga berpapasan dengan dua pendaki tek-tok yang memulai pendakian sejak subuh.

Setelah cukup mengeksplorasi puncak, kami membongkar tenda dan melakukan packing. Kami memastikan tidak ada barang tertinggal, termasuk sampah. Pukul 09.02 WIB kami mulai turun kembali menuju basecamp.

Medan turun tidak kalah menantang dibanding saat naik. Kontur jalur berupa tanah, akar, dan batu membuat kami tetap berhati-hati agar tidak membebani sendi secara berlebihan. Di perjalanan turun kami bertemu beberapa pendaki, sebagian besar anak muda yang penuh semangat.

Di antara Pos 3 dan Pos 2 kami bertemu sekelompok pendaki. Salah satu di antaranya memutuskan turun karena tidak mampu melanjutkan perjalanan. Prinsip dalam pendakian adalah saling menjaga, terutama mendampingi anggota yang paling membutuhkan, bukan meninggalkannya sendirian.

Kami tiba di Pos 2 pukul 10.49 WIB, beristirahat sejenak sambil menikmati teh hangat dan camilan. Pukul 11.25 WIB perjalanan dilanjutkan bersama dua pendaki perempuan yang memutuskan tidak melanjutkan ke puncak. Kami tiba di Pos 1 pukul 11.49 WIB dan di pintu rimba pukul 11.58 WIB.

Cuaca siang hari terasa cukup panas saat kembali menuju area kebun kakao. Salah satu rekan membawa payung yang cukup membantu mengurangi paparan panas matahari.

Kami sempat membantu seorang pendaki merapikan packing carrier, karena tendanya dibawa dengan cara ditenteng sehingga cukup menyulitkan. Penataan beban yang baik dapat membantu menjaga keseimbangan dan mengurangi kelelahan selama pendakian.

Sesampainya di pondok ojek, saya memilih naik ojek, sementara rekan lainnya berjalan kaki menuju basecamp melalui jalan beton.

Di basecamp, barang bawaan kembali diperiksa untuk memastikan sampah yang dibawa turun sesuai dengan data awal. Setelah beristirahat sejenak, kami bersiap untuk perjalanan pulang.


Catatan dan Evaluasi Basecamp

Berdasarkan pengamatan selama pendakian Gunung Pesawaran:

1. Administrasi & Pencatatan

  • Form registrasi pendaki
  • Pemeriksaan barang bawaan untuk mendata potensi sampah
  • Sistem check-in dan check-out untuk memastikan semua pendaki turun dengan selamat

2. Informasi yang sebaiknya tersedia di basecamp

  • Peta jalur pendakian
  • Informasi jumlah pos
  • Estimasi waktu tempuh
  • Titik air terakhir
  • Rekomendasi lokasi camping
  • Informasi jalur rawan (licin, longsor, simpangan)
  • Fasilitas isi ulang air
  • Tempat sampah organik dan anorganik

3. Keselamatan & Keamanan

  • Nomor kontak basecamp
  • Informasi jalur evakuasi dasar
  • Pengetahuan dasar P3K
  • Daftar nomor penting (BPBD, Basarnas, puskesmas terdekat)

4. Edukasi Etika Pendakian

  • Membawa turun kembali sampah
  • Tidak merusak tanaman
  • Tidak membuat api sembarangan
  • Tidak mengambil flora maupun fauna
  • Menghormati masyarakat sekitar

5. Petunjuk Arah

  • Gapura awal jalur (trailhead)
  • Penanda arah menuju pos-pos pendakian

6. Buku Kesan Pendaki (opsional)

  • Testimoni pendaki
  • Saran perbaikan fasilitas

Motto Pecinta Alam

  1. Jangan ambil apa pun, kecuali foto.
  2. Jangan tinggalkan apa pun, kecuali jejak dan kenangan.
  3. Jangan bunuh apa pun, kecuali waktu.

Bottom of Form

 

Wednesday, February 18, 2026

RUN 1147, TRAILS OF THE HEART

 

🗓 Minggu, 15 Februari 2026

🕖 Jam: 07.00 WIB

👕 Dress Code : nuansa pink

📍 Run Site : Perumahan Citra Land

Setiap jejak kaki di tanah ini adalah bisikan hati; setiap napas di hutan, sungai, dan bukit adalah renungan jiwa. “Trails of the Heart – Jejak Hati” mengingatkan kita: perjalanan bukan hanya tentang menempuh jarak, tetapi tentang menapaki makna. Hati kita menuntun langkah, persahabatan menjadi peta, dan alam menjadi cermin. Dalam setiap langkah, kita belajar bahwa kehidupan sejati terukir bukan dari kecepatan atau tujuan, tapi dari kesadaran dan rasa yang ditinggalkan di setiap jejak. Jejak hati, seperti hidup, abadi dalam ingatan, keheningan dan cinta.

Run site hari ini berada di kantor marketing CitraLand Bandar Lampung, kawasan perumahan premium di Bandar Lampung yang dikembangkan oleh Ciputra Group. Terletak di perbukitan Sumur Putri, Teluk Betung Utara, banyak hunian di sini menghadap indahnya Teluk Lampung, dengan udara yang lebih sejuk dibanding pusat kota. Kawasan ini bukan sekadar perumahan, tetapi ruang hidup terpadu—area komersial, ruang terbuka hijau, dan jalan yang tertata rapi menyatu dengan kontur alam.

Namun hari ini, kawasan itu bukan hanya menjadi latar perjalanan fisik, melainkan ruang permenungan batin.

Seperti biasa, kegiatan diawali dengan foto bersama, lalu run dimulai pukul 07.10 WIB. Sebagian hasher memilih jalur dalam kawasan perumahan yang menanjak, sementara yang lain mengikuti rute yang telah disiapkan tim hare. Jalan beraspal yang menanjak membawa kami masuk ke kebun, dan di sanalah tantangan mulai terasa tanah basah, becek, dan licin akibat hujan deras semalam.

Setiap jejak kaki di tanah ini adalah bisikan hati; setiap napas di hutan, sungai, dan bukit adalah renungan jiwa. “Trails of the Heart – Jejak Hati” menjadi nyata di lintasan hari ini. Perjalanan bukan sekadar menempuh jarak, tetapi menapaki makna. Hati menuntun langkah, persahabatan menjadi peta, dan alam menjadi cermin.

Peserta baru bergabung dengan semangat yang menyala, sementara hasher senior mengambil peran sebagai penuntun dan penjaga ritme kebersamaan. Kami terbagi dalam jalur long dan short. Saya, dengan perlengkapan fotografi dan drone, mengikuti jalur long melewati hutan pinus, turun ke lembah yang licinnya menguji keseimbangan dan kesabaran.

Di medan seperti ini, sepatu boleh saja kurang memadai, trekking pole mungkin tak semua punya, tetapi yang paling penting adalah tangan yang terulur. Saling membantu, berpegangan, dan menarik satu sama lain menjadi bukti bahwa perjalanan sejati tak pernah ditempuh sendirian.

Di sebuah vila dengan pemandangan lembah yang hijau dan udara sejuk, kami berhenti sejenak. Kamera menangkap senyum, tawa, bahkan wajah 


lelah yang jujur. Beberapa peserta memilih kembali karena kelelahan, sementara yang lain melanjutkan langkah. Tidak ada yang lebih benar—setiap orang berjalan sesuai iramanya sendiri.

Turunan berikutnya tak kalah menantang. Licin membuat beberapa terpeleset, bahkan harus merosot untuk sampai ke bawah. Namun justru di situlah tawa pecah, ego luruh, dan solidaritas tumbuh.

Di lembah, kami bertemu sungai. Sepatu yang penuh lumpur dibersihkan, kaki dicelupkan, dan sungai yang sama kami seberangi berulang kali sekitar dua belas kali. Menyeberang, naik ke daratan, turun kembali, lalu menyeberang lagi. Seolah hidup sendiri mengajarkan bahwa untuk maju, kadang kita harus bolak-balik, mencoba, jatuh, lalu bangkit.

Setelah penyeberangan terakhir, tanjakan menuju jalan utama kembali menguras napas. Bukan lagi soal kuat atau cepat, tetapi soal bertahan dan menyadari setiap langkah.

Berdasarkan rekaman aplikasi di ponsel, jarak tempuh sekitar 7 km dengan waktu hampir 4 jam. Angka itu mungkin sederhana, tetapi maknanya tidak.

Karena kehidupan sejati terukir bukan dari kecepatan atau tujuan, melainkan dari kesadaran dan rasa yang ditinggalkan di setiap jejak. Jejak hati seperti hidup abadi dalam ingatan, dalam keheningan, dan dalam cinta.