Monday, March 30, 2026

PENDAKIAN GUNUNG PESAWARAN (1662 MDPL)

 Sudah cukup lama tidak naik gunung, rasa rindu untuk kembali mendaki selalu muncul. Dengan perencanaan singkat, kami mempertimbangkan beberapa pilihan gunung yang akan didaki, di antaranya Gunung Betung dan Gunung Ratai yang sebelumnya pernah kami kunjungi. Namun setelah mempertimbangkan waktu dan jarak tempuh, akhirnya kami memutuskan untuk mendaki Gunung Pesawaran.

Gunung Pesawaran merupakan gunung yang berada di wilayah Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, dan termasuk dalam rangkaian Bukit Barisan, dengan ketinggian sekitar ±1.662 mdpl. Gunung ini dikenal memiliki hutan tropis yang masih cukup asri, jalur pendakian yang menantang namun relatif sepi, serta panorama luas ke arah Teluk Lampung. Dari beberapa titik, juga terlihat Gunung Tanggamus di kejauhan. Kondisi tersebut menjadikan Gunung Pesawaran cocok untuk kegiatan hiking, eksplorasi alam, maupun perjalanan reflektif di alam terbuka.

Seperti biasa, sebelum mendaki kami menyusun itinerary. Awalnya berencana mengajak beberapa teman, namun karena berbagai kesibukan, hanya satu orang yang dapat bergabung, yaitu Arya.

Kami berangkat dari rumah sekitar pukul 11.07 WIB melalui Jl. Radin Gunawan (sering disebut jalan baru) melewati pertigaan Tugu Cokelat. Lalu lintas menuju Pringsewu cukup padat, kemungkinan karena masih dalam suasana setelah Idul Fitri, banyak masyarakat yang berkunjung ke sanak saudara maupun tempat wisata, baik menuju Bandar Lampung maupun Pringsewu.

Perjalanan dilanjutkan menuju Gedong Tataan, kemudian berbelok ke arah Kedondong di pertigaan Tugu Pengantin Pesawaran. Arus lalu lintas mulai terurai sehingga perjalanan terasa lebih lancar hingga sampai di Kedondong. Dari pertigaan Indomaret Simpang Ratai, perjalanan dilanjutkan menuju jalan Padang Cermin – Kedondong sekitar 7 km, kemudian terdapat pertigaan ke kanan di dekat Masjid Babussalam, menuju basecamp Gunung Pesawaran. Kami tiba di basecamp sekitar pukul 13.00 WIB.

Di basecamp, kami membongkar carrier untuk mendata barang bawaan yang berpotensi menjadi sampah. Setiap kemasan dihitung secara rinci, misalnya mie instan dihitung menjadi tiga potensi sampah (bungkus, bumbu, minyak), air mineral dua sampah (botol dan tutup), sosis isi tiga dengan satu bungkus dihitung empat sampah, termasuk jas hujan, dan lainnya. Tisu basah tidak diizinkan dibawa karena sulit terurai. Sistem ini menjadi salah satu cara efektif untuk mengurangi sampah di gunung.

Kami makan siang bekal dari rumah di basecamp sebelum kembali merapikan perlengkapan. Selanjutnya dilakukan pencatatan identitas pendaki meliputi nama, alamat, serta kontak yang dapat dihubungi. Biaya registrasi sebesar Rp20.000 per orang dan parkir sepeda motor Rp10.000 per kendaraan. Dari basecamp tersedia ojek menuju pondok ojek dengan biaya sekitar Rp20.000–Rp25.000 per orang.

Kami memutuskan menggunakan ojek karena jalur awal berupa jalan aspal dan beton, sementara cuaca siang hari cukup terik. Berangkat pukul 13.52 WIB dan tiba di pondok ojek di area kebun kakao pukul 14.09 WIB. Keputusan menggunakan ojek terasa tepat karena panas cukup menyengat.

Perjalanan dilanjutkan menuju camping ground melalui kebun kakao. Meskipun melewati area pepohonan, sinar matahari masih cukup terasa. Kami berusaha menjaga kondisi tubuh dengan cukup minum agar terhindar dari dehidrasi. Tanjakan demi tanjakan mulai terasa menguras tenaga.

Pukul 14.32 WIB kami tiba di camping ground. Dari lokasi ini terlihat pemandangan luas. Area ini disiapkan sebagai lokasi mendirikan tenda, namun tampaknya jarang digunakan karena tidak memiliki peneduh sehingga cukup panas pada siang hari. Kami hanya beristirahat sejenak.

Pukul 14.45 WIB perjalanan dilanjutkan menuju pintu rimba, yang dicapai pukul 14.56 WIB. Setelah berfoto dan beristirahat singkat, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 1.

Jalur menuju Pos 1 cukup terjal, dengan bantuan akar pohon dan tali yang dipasang pengelola. Beruntung beberapa hari terakhir tidak hujan sehingga jalur tidak terlalu licin. Pukul 15.06 WIB kami tiba di Pos 1 (Jalur Akar) pada ketinggian sekitar 1.200 mdpl. Setelah berfoto dan istirahat singkat, perjalanan dilanjutkan pukul 15.09 WIB menuju Pos 2.

Jalur menuju Pos 2 tetap menantang, dengan tanjakan curam yang membuat napas cukup terkuras, terlebih dengan beban carrier hampir 20 kg. Beberapa tali membantu pendaki melewati bagian yang cukup sulit. Di perjalanan kami berpapasan dengan beberapa pendaki yang turun dari puncak. Sebagian besar pendaki Gunung Pesawaran memilih sistem tek-tok (naik ke puncak lalu turun kembali pada hari yang sama), sehingga relatif jarang yang berkemah di puncak.

Pukul 15.36 WIB kami tiba di Pos 2 yang dikenal sebagai Jalur Patah Hati, pada ketinggian sekitar 1.300 mdpl. Setelah beristirahat dan makan camilan, perjalanan dilanjutkan. Jalur tetap didominasi tanjakan tanpa bonus trek datar. Vegetasi mulai didominasi pakis dengan beberapa punggungan yang menawarkan panorama luas.

Pukul 17.25 WIB kami tiba di Pos 3 (1.400 mdpl). Setelah istirahat singkat, perjalanan dilanjutkan menuju Pos 4. Tanjakan menuju Pos 4 tetap menantang dan cukup terjal.

Pukul 18.14 WIB kami tiba di Pos 4 pada ketinggian sekitar 1.580 mdpl. Vegetasi kembali didominasi pepohonan tinggi. Dari sisi barat terlihat cahaya matahari terbenam yang menyelinap di antara pepohonan.

Pukul 18.20 WIB kami akhirnya tiba di puncak Gunung Pesawaran (1.662 mdpl). Rasa syukur kami panjatkan karena dapat mencapai puncak dengan selamat. Tidak ada pendaki lain di puncak saat itu, hanya kami bertiga. Sisa-sisa cahaya senja kami abadikan melalui foto dan video.

Kami kemudian mendirikan tenda di lokasi yang cukup strategis, dengan pintu tenda menghadap ke arah timur, sehingga pada malam hari terlihat kerlap-kerlip lampu Kota Bandar Lampung dari kejauhan.

Memasak di puncak gunung memiliki kesan tersendiri. Suasana malam yang sunyi, langit penuh bintang, suara satwa malam, serta pemandangan kota dari kejauhan menghadirkan pengalaman yang sangat berkesan. Bersyukur cuaca cerah tanpa hujan sehingga langit terlihat jernih dan udara tidak terlalu dingin.

Setelah beristirahat, pukul 05.24 WIB cahaya fajar mulai terlihat di ufuk timur di antara awan putih. Momen indah tersebut kami abadikan. Untuk sarapan, kami memasak pisang goreng, ditemani secangkir kopi hangat. Menu dilanjutkan dengan mie instan, kornet, dan telur goreng yang terasa sangat nikmat di tengah suasana alam terbuka.

Kami juga mengabadikan berbagai foto dan video, termasuk menggunakan drone untuk menangkap panorama yang lebih luas.

Berdasarkan pengamatan, Gunung Pesawaran tergolong cukup bersih dari sampah plastik maupun sisa makanan. Tidak terlihat tikus berkeliaran, menandakan tidak banyak sisa makanan yang ditinggalkan pendaki. Aturan membawa kembali sampah ke basecamp terbukti efektif menjaga kebersihan jalur dan puncak. Selain itu, tidak terlihat bekas api unggun yang berpotensi menimbulkan kebakaran hutan.

Pagi itu kami juga ditemui beberapa ekor tupai yang mendekat, kemungkinan mencari makan. Kebetulan kami membawa pisang dan mereka tampak tertarik. Kami juga berpapasan dengan dua pendaki tek-tok yang memulai pendakian sejak subuh.

Setelah cukup mengeksplorasi puncak, kami membongkar tenda dan melakukan packing. Kami memastikan tidak ada barang tertinggal, termasuk sampah. Pukul 09.02 WIB kami mulai turun kembali menuju basecamp.

Medan turun tidak kalah menantang dibanding saat naik. Kontur jalur berupa tanah, akar, dan batu membuat kami tetap berhati-hati agar tidak membebani sendi secara berlebihan. Di perjalanan turun kami bertemu beberapa pendaki, sebagian besar anak muda yang penuh semangat.

Di antara Pos 3 dan Pos 2 kami bertemu sekelompok pendaki. Salah satu di antaranya memutuskan turun karena tidak mampu melanjutkan perjalanan. Prinsip dalam pendakian adalah saling menjaga, terutama mendampingi anggota yang paling membutuhkan, bukan meninggalkannya sendirian.

Kami tiba di Pos 2 pukul 10.49 WIB, beristirahat sejenak sambil menikmati teh hangat dan camilan. Pukul 11.25 WIB perjalanan dilanjutkan bersama dua pendaki perempuan yang memutuskan tidak melanjutkan ke puncak. Kami tiba di Pos 1 pukul 11.49 WIB dan di pintu rimba pukul 11.58 WIB.

Cuaca siang hari terasa cukup panas saat kembali menuju area kebun kakao. Salah satu rekan membawa payung yang cukup membantu mengurangi paparan panas matahari.

Kami sempat membantu seorang pendaki merapikan packing carrier, karena tendanya dibawa dengan cara ditenteng sehingga cukup menyulitkan. Penataan beban yang baik dapat membantu menjaga keseimbangan dan mengurangi kelelahan selama pendakian.

Sesampainya di pondok ojek, saya memilih naik ojek, sementara rekan lainnya berjalan kaki menuju basecamp melalui jalan beton.

Di basecamp, barang bawaan kembali diperiksa untuk memastikan sampah yang dibawa turun sesuai dengan data awal. Setelah beristirahat sejenak, kami bersiap untuk perjalanan pulang.


Catatan dan Evaluasi Basecamp

Berdasarkan pengamatan selama pendakian Gunung Pesawaran:

1. Administrasi & Pencatatan

  • Form registrasi pendaki
  • Pemeriksaan barang bawaan untuk mendata potensi sampah
  • Sistem check-in dan check-out untuk memastikan semua pendaki turun dengan selamat

2. Informasi yang sebaiknya tersedia di basecamp

  • Peta jalur pendakian
  • Informasi jumlah pos
  • Estimasi waktu tempuh
  • Titik air terakhir
  • Rekomendasi lokasi camping
  • Informasi jalur rawan (licin, longsor, simpangan)
  • Fasilitas isi ulang air
  • Tempat sampah organik dan anorganik

3. Keselamatan & Keamanan

  • Nomor kontak basecamp
  • Informasi jalur evakuasi dasar
  • Pengetahuan dasar P3K
  • Daftar nomor penting (BPBD, Basarnas, puskesmas terdekat)

4. Edukasi Etika Pendakian

  • Membawa turun kembali sampah
  • Tidak merusak tanaman
  • Tidak membuat api sembarangan
  • Tidak mengambil flora maupun fauna
  • Menghormati masyarakat sekitar

5. Petunjuk Arah

  • Gapura awal jalur (trailhead)
  • Penanda arah menuju pos-pos pendakian

6. Buku Kesan Pendaki (opsional)

  • Testimoni pendaki
  • Saran perbaikan fasilitas

Motto Pecinta Alam

  1. Jangan ambil apa pun, kecuali foto.
  2. Jangan tinggalkan apa pun, kecuali jejak dan kenangan.
  3. Jangan bunuh apa pun, kecuali waktu.

Bottom of Form

 

Wednesday, February 18, 2026

RUN 1147, TRAILS OF THE HEART

 

🗓 Minggu, 15 Februari 2026

🕖 Jam: 07.00 WIB

👕 Dress Code : nuansa pink

📍 Run Site : Perumahan Citra Land

Setiap jejak kaki di tanah ini adalah bisikan hati; setiap napas di hutan, sungai, dan bukit adalah renungan jiwa. “Trails of the Heart – Jejak Hati” mengingatkan kita: perjalanan bukan hanya tentang menempuh jarak, tetapi tentang menapaki makna. Hati kita menuntun langkah, persahabatan menjadi peta, dan alam menjadi cermin. Dalam setiap langkah, kita belajar bahwa kehidupan sejati terukir bukan dari kecepatan atau tujuan, tapi dari kesadaran dan rasa yang ditinggalkan di setiap jejak. Jejak hati, seperti hidup, abadi dalam ingatan, keheningan dan cinta.

Run site hari ini berada di kantor marketing CitraLand Bandar Lampung, kawasan perumahan premium di Bandar Lampung yang dikembangkan oleh Ciputra Group. Terletak di perbukitan Sumur Putri, Teluk Betung Utara, banyak hunian di sini menghadap indahnya Teluk Lampung, dengan udara yang lebih sejuk dibanding pusat kota. Kawasan ini bukan sekadar perumahan, tetapi ruang hidup terpadu—area komersial, ruang terbuka hijau, dan jalan yang tertata rapi menyatu dengan kontur alam.

Namun hari ini, kawasan itu bukan hanya menjadi latar perjalanan fisik, melainkan ruang permenungan batin.

Seperti biasa, kegiatan diawali dengan foto bersama, lalu run dimulai pukul 07.10 WIB. Sebagian hasher memilih jalur dalam kawasan perumahan yang menanjak, sementara yang lain mengikuti rute yang telah disiapkan tim hare. Jalan beraspal yang menanjak membawa kami masuk ke kebun, dan di sanalah tantangan mulai terasa tanah basah, becek, dan licin akibat hujan deras semalam.

Setiap jejak kaki di tanah ini adalah bisikan hati; setiap napas di hutan, sungai, dan bukit adalah renungan jiwa. “Trails of the Heart – Jejak Hati” menjadi nyata di lintasan hari ini. Perjalanan bukan sekadar menempuh jarak, tetapi menapaki makna. Hati menuntun langkah, persahabatan menjadi peta, dan alam menjadi cermin.

Peserta baru bergabung dengan semangat yang menyala, sementara hasher senior mengambil peran sebagai penuntun dan penjaga ritme kebersamaan. Kami terbagi dalam jalur long dan short. Saya, dengan perlengkapan fotografi dan drone, mengikuti jalur long melewati hutan pinus, turun ke lembah yang licinnya menguji keseimbangan dan kesabaran.

Di medan seperti ini, sepatu boleh saja kurang memadai, trekking pole mungkin tak semua punya, tetapi yang paling penting adalah tangan yang terulur. Saling membantu, berpegangan, dan menarik satu sama lain menjadi bukti bahwa perjalanan sejati tak pernah ditempuh sendirian.

Di sebuah vila dengan pemandangan lembah yang hijau dan udara sejuk, kami berhenti sejenak. Kamera menangkap senyum, tawa, bahkan wajah 


lelah yang jujur. Beberapa peserta memilih kembali karena kelelahan, sementara yang lain melanjutkan langkah. Tidak ada yang lebih benar—setiap orang berjalan sesuai iramanya sendiri.

Turunan berikutnya tak kalah menantang. Licin membuat beberapa terpeleset, bahkan harus merosot untuk sampai ke bawah. Namun justru di situlah tawa pecah, ego luruh, dan solidaritas tumbuh.

Di lembah, kami bertemu sungai. Sepatu yang penuh lumpur dibersihkan, kaki dicelupkan, dan sungai yang sama kami seberangi berulang kali sekitar dua belas kali. Menyeberang, naik ke daratan, turun kembali, lalu menyeberang lagi. Seolah hidup sendiri mengajarkan bahwa untuk maju, kadang kita harus bolak-balik, mencoba, jatuh, lalu bangkit.

Setelah penyeberangan terakhir, tanjakan menuju jalan utama kembali menguras napas. Bukan lagi soal kuat atau cepat, tetapi soal bertahan dan menyadari setiap langkah.

Berdasarkan rekaman aplikasi di ponsel, jarak tempuh sekitar 7 km dengan waktu hampir 4 jam. Angka itu mungkin sederhana, tetapi maknanya tidak.

Karena kehidupan sejati terukir bukan dari kecepatan atau tujuan, melainkan dari kesadaran dan rasa yang ditinggalkan di setiap jejak. Jejak hati seperti hidup abadi dalam ingatan, dalam keheningan, dan dalam cinta.

 













Wednesday, July 23, 2025

LHHH RUN 117, WALKING IN BALANCE, FINDING HARMONI

Minggu, 20 Juli 2025Jam : 07.00 Wib

Dress code : Nuansa Hijau

Run Site : Vila Merah, Suka Harum, Batu Putuk

Walking in Balance, Finding Harmony Melangkah Seimbang, Menemukan Harmoni (Inspired by Yin & Yang)

Ada waktu untuk melangkah maju, Ada waktu untuk menoleh sejenak. Bukan untuk menilai seberapa jauh, Tapi untuk menyadari seberapa banyak yang telah membentuk kita.
Langkah demi langkah, Kita belajar bahwa hidup bukan tentang tergesa, Melainkan tentang memahami setiap momen yang kita jalani.

Ada hari yang cerah, ada hari yang mendung. Ada tawa yang ringan, ada air mata yang tulus

Semua saling melengkapi, semua punya tempatnya.

Seperti Yin & Yang,

Keseimbangan bukan tentang sempurna, Tapi tentang menerima hidup apa adanya, Dan tetap menemukan harmoni di dalamnya.

Hari ini bukan tentang angka, Bukan tentang capaian yang tampak, Tapi tentang hati yang semakin tenang, Langkah yang semakin mantap, Dan syukur yang semakin dalam.
Melangkah Seimbang, Menemukan Harmoni. Karena setiap hari membawa kita lebih dekat pada diri sendiri.

Melangkah Seimbang, Menemukan Harmoni Walking in Balance, Finding Harmony
平衡前行,找到和
(Pínghéng qiánxíng, zhǎodào héxié)

 

Minggu, 20 Juli 2025 — Pagi ini cuaca begitu cerah. Tak ada awan menghiasi langit, hanya biru yang membentang luas sejauh mata memandang. Suasana yang sempurna untuk memulai aktivitas, terlebih hari ini adalah hari yang istimewa: hiking bersama teman-teman komunitas Lampung Hash.

Run site kali ini berada di Vila Merah, Batu Putuk—milik salah satu member Lampung Hash, Heri Riyanto. Dinamakan Vila Merah karena bangunan utamanya dicat merah menyala, kontras dengan hamparan hijau yang mengelilinginya. Vila ini bisa disewa, sangat cocok untuk keluarga atau komunitas yang ingin merasakan suasana pedesaan dengan banyak tanaman. Dilengkapi kolam renang untuk anak-anak dan dewasa, serta area yang cukup luas untuk mendirikan tenda di sekitarnya. Suasana sunyi dan damai menjadi nilai tambah tersendiri.

Pukul 06.30 WIB, beberapa hasher sudah datang dan mulai menikmati kesegaran udara pagi di Vila Merah. Cuaca benar-benar bersahabat. Langit biru bersih menambah semangat pagi ini. Tak lama kemudian, sekitar pukul 07.00 WIB, semakin banyak hasher berdatangan. Hari ini memang hari spesial—selain untuk hiking, komunitas juga merayakan ulang tahun bersama bagi para hasher yang lahir di bulan Juli.

Sudah menjadi tradisi di Lampung Hash untuk merayakan ulang tahun anggota setiap akhir pekan terakhir dalam bulan tersebut. Perayaannya sederhana, namun penuh makna: ada kue bolu, piscok hangat, dan kue kecil ulang tahun lengkap dengan lilin yang menyala. Diiringi musik dari ponsel, lagu "Selamat Ulang Tahun" pun dinyanyikan bersama. Setelah tiup lilin, para hasher saling bersalaman dan menikmati hidangan ringan yang telah disiapkan.

Sekitar pukul 07.20 WIB, setelah sesi foto bersama sebagai dokumentasi, kegiatan hiking dimulai. Jalur awal melewati jalan beraspal, menyeberangi Jalan Imba Kesuma, lalu menyusuri kebun pisang. Medan masih landai, sesekali menurun, sehingga belum terlalu menguras tenaga. Namun, sinar matahari mulai terasa hangat di kulit. Beruntung, banyak bagian rute dilindungi pepohonan rindang.

Banyak hasher memilih rute long, yang telah disiapkan oleh tim hare dua hari sebelumnya. Meski terbagi dalam dua kelompok, semangat tetap menyatu. Rute ini cukup menantang: melewati rerimbunan bambu, menyeberangi sungai kecil—di mana sebagian berhasil melompat di antara batu, namun tak sedikit yang harus rela sepatunya basah karena langsung menyebur.

Perjalanan makin menantang saat harus menyusuri pinggir tebing yang curam. Di sisi kanan, jurang cukup dalam mengintai, sehingga ekstra kehati-hatian diperlukan. Jalan menanjak lalu menurun, dan karena ini bukan jalur setapak alami, turunan menjadi sangat licin. Beberapa hasher bahkan harus duduk dan melorot perlahan karena bila salah pijak, bisa tergelincir. Syukurlah, semangat saling membantu sangat terasa. Yang kuat dan sigap, membantu yang membutuhkan.

Sungai kecil kembali harus diseberangi. Kali ini, hampir semua hasher terpaksa masuk ke dalam air karena rute memang menuntut untuk menyusuri sungai. Tantangannya bukan hanya air, tapi juga batu-batu licin dan kedalaman sungai yang tak terduga. Ada yang hanya setumit, ada pula yang sepaha. Salah satu hasher bahkan tak sengaja melangkah ke bagian terdalam dan ponselnya pun ikut basah.

Sungai kecil ini cukup panjang, tak ada jalan lain selain terus menyusuri alirannya karena kiri-kanan ditutup semak belukar dan tebing tinggi. Setelah keluar dari sungai, jalur menanjak melalui kebun kembali menyambut. Tanjakan cukup terjal membuat kami harus sering berhenti sejenak untuk mengatur napas.

Di tengah tanjakan, kami beristirahat cukup lama, lalu melanjutkan perjalanan menuju area lapang milik Yayasan Azahra. Dari sini, kami bisa melihat Gunung Betung yang berdiri megah dengan latar belakang langit biru cerah—momen sempurna untuk berfoto bersama.

Sinar matahari mulai terasa menyengat. Rasa haus dan peluh bercucuran, tapi sisi positifnya, kami mendapat vitamin D alami sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Jalur selanjutnya melewati pemukiman, kembali ke jalan beraspal, hingga akhirnya kami tiba kembali di run site Vila Merah. Beberapa hasher sudah lebih dulu pulang, namun suasana masih hangat.

Sambutan es buah segar dan makan siang dengan menu chicken katsu menjadi penutup yang menyenangkan. Pagi yang cerah, langit biru, semangat ulang tahun, dan kebersamaan yang hangat membuat setiap aktivitas terasa istimewa.

Fun, Fitness, Friendship—tiga kata yang merangkum semangat Lampung Hash. Kegembiraan, candaan, dan rasa hormat menyatukan para hasher dalam persahabatan yang tak mengenal batas identitas. Suku, agama, latar belakang bukan penghalang, justru menjadi kekuatan dalam persaudaraan ini. Karena pada akhirnya, tubuh yang sehat dan jiwa yang bahagia adalah harta paling berharga—dan bersama komunitas inilah, kami terus menjaga keduanya.

ON... ON!






 

 

Monday, July 14, 2025

RUN 1116, BUDDHAYANA RUN 5K, UNITY IN DIVERSITY

 BUDDHAYANA RUN 5

Minggu, 13 Juli 2025

Jam : 05.30 Wib

Dress code : Buddhayana jersey

Run Site : Lapangan Korpri, Depan kantor Gubernur Lampung.

Lampung Hash House Harriers Meriahkan Buddhayana Run 5K: Semangat "Unity in Diversity"
Komunitas Lampung Hash House Harriers turut ambil bagian dalam Buddhayana Run 5K yang diselenggarakan oleh Keluarga Buddhayana Indonesia. Acara yang mengusung tema “Unity in Diversity” ini menjadi momen penuh semangat kebersamaan dan sportivitas lintas komunitas.
Dengan semangat persatuan dalam keberagaman, para peserta dari Lampung Hash tidak hanya berlari menempuh rute 5 kilometer, tetapi juga turut menyebarkan semangat inklusivitas, harmoni, dan kebugaran jasmani. Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi antar berbagai kalangan, mempererat persaudaraan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
Partisipasi ini menjadi bentuk nyata komitmen Lampung Hash House Harriers untuk terus mendukung kegiatan positif, sehat, dan menyatukan berbagai elemen masyarakat. Unity in Diversity, On On

Hari Minggu ini, saya harus bangun dan bersiap lebih pagi dibandingkan hari Minggu biasanya. Jika pada hari Minggu biasa kegiatan run dimulai pukul 07.00 WIB, maka hari Minggu ini run dimulai pukul 06.00 WIB. Ya, kali ini para hasher dari Lampung Hash House Harriers turut berpartisipasi dalam Buddhayana Run 5K yang diselenggarakan oleh Keluarga Buddhayana Indonesia. Biasanya kami menyusuri medan menurun, menanjak, melewati sungai, jalan basah dan licin, namun kali ini rutenya sepenuhnya melewati jalan beraspal.

Acara diawali dengan seremoni singkat, sambutan, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dan pemanasan bersama sebelum para runner memulai aksinya. Buddhayana Run 5K ini diikuti oleh kurang lebih 1.000 peserta dan dicatatkan dalam rekor MURI sebagai kegiatan lari dengan peserta terbanyak yang dilaksanakan secara serentak di beberapa kota di Indonesia diantaranya di Medan, Pekanbaru, Palembang, Lampung dan Jakarta.

Jersey merah mendominasi sepanjang jalan yang dilalui para runner. Peserta yang mengikuti kategori kompetisi segera melesat meninggalkan peserta lain yang sekadar berpartisipasi demi meramaikan acara ini. Mereka sebagian besar masih muda, rutin latihan fisik, atau memang seorang atlet lari. Namun bagi kami, komunitas Lampung Hash House Harriers, ajang ini menjadi bentuk lain dari olahraga luar ruang yang biasanya kami jalani di medan berbukit, naik-turun gunung, atau menyusuri sungai. Kali ini, jalanan aspal yang sedikit menanjak dan menurun menjadi lintasan kami.

Meski demikian, ada juga hasher kami yang memang seorang runner kompetisi dan sudah beberapa kali menjuarai berbagai event. Namun kali ini beliau cukup puas finis di urutan ke-5 untuk kategori master (usia 50 tahun ke atas).

Rute yang dilalui:

  • Km 1 : Jalan Warsito – Jalan Basuki Rahmat
  • Km 2 : Jalan Basuki Rahmat – Jalan Cut Mutia
  • Km 3 : Jalan Cut Mutia – Jalan Diponegoro
  • Km 4 : Jalan Rasuna Said
  • Km 5 : Jalan Wolter Monginsidi hingga finis di Kantor Gubernur Lampung.

Sungguh menyenangkan bisa ikut berpartisipasi bersama ribuan peserta, meski tanpa target khusus selain menjaga kesehatan dan berinteraksi dengan banyak orang baru. Melihat antusiasme para peserta, baik yang muda maupun yang sudah berumur, sungguh terasa bahwa olahraga itu penting untuk menggerakkan seluruh tubuh, baik melalui lari maupun berjalan kaki. Olahraga adalah salah satu cara paling sederhana dan relevan untuk menjaga kesehatan, bisa dilakukan kapan saja, di mana saja, oleh siapa saja, dengan menyesuaikan kemampuan fisik masing-masing.

Bisa beraktivitas bersama para hasher di run site yang berbeda tentu menjadi pengalaman tersendiri. Tidak hanya soal lari dan berjalan, tetapi juga tentang berbagi cerita sepanjang rute. Bahkan kali ini kami pun berkesempatan berlari bersama Gubernur Lampung yang turut memeriahkan kegiatan Buddhayana Run 5K ini.

Setelah melewati rute sepanjang 5 kilometer, akhirnya kami tiba di garis finis di depan Kantor Gubernur Lampung, di mana sebagian besar peserta sudah lebih dulu menyelesaikan lomba. Bagi finisher disediakan medali, bingkisan dari sponsor, pisang, minuman berasa, dan air mineral. Bagi yang bersedia antre panjang, tersedia pula sarapan berupa mie rebus dan kopi. Tak ketinggalan, berbagai booth juga tersedia, mulai dari makanan, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga photo booth yang bisa dimanfaatkan secara cuma-cuma.

Peserta Buddhayana Run 5K juga dimanjakan dengan berbagai doorprize yang diundi sepanjang acara, diselingi dengan hiburan lagu-lagu yang membangkitkan semangat pagi. Hadiah doorprize pun cukup menarik, mulai dari kursi, kipas angin, Handphone,  mesin cuci, televisi, hingga sepeda listrik. Gubernur Lampung pun tetap setia menemani hingga acara usai.

Sebagai penutup, penulis ingin memberikan sedikit catatan dan saran untuk penyelenggara, khususnya jika event besar seperti ini melibatkan banyak orang: kebersihan harus menjadi perhatian utama. Hampir di setiap event besar, persoalan sampah baik organik maupun non-organik sering kali luput dari perhatian. Panitia hendaknya menyediakan lebih banyak tempat sampah atau kantong sampah (trash bag) di berbagai sudut area. Akan lebih baik lagi bila ada tim relawan khusus yang berkeliling aktif memungut sampah yang tercecer di area acara. Pengalaman saya saat mengikuti kunjungan Paus Fransiskus di Gelora Bung Karno Jakarta bisa menjadi contoh baik: ribuan umat yang hadir, tetapi relawan Laudato Si dengan sigap berkeliling membawa trash bag untuk memunguti sampah. Hasilnya, area tetap bersih dan nyaman setelah acara berakhir.

Semoga ke depan, semangat menjaga kebersihan ini bisa menjadi bagian penting dari setiap kegiatan besar, karena sehat bukan hanya soal olahraga, tapi juga soal menjaga lingkungan tetap bersih demi kenyamanan bersama.

Kegiatan seperti Buddhayana Run 5K ini bukan hanya sekadar ajang olahraga, tetapi juga momen yang mempererat tali kebersamaan antar komunitas, baik komunitas olahraga, komunitas keagamaan, maupun masyarakat umum. Di tengah kesibukan dan rutinitas sehari-hari, momen seperti ini memberikan ruang untuk kembali mengingat pentingnya menjaga kesehatan tubuh, memperkuat relasi sosial, dan menyegarkan pikiran lewat aktivitas fisik yang positif.

Partisipasi Lampung Hash House Harriers dalam acara ini juga menunjukkan bahwa olahraga bukan semata soal capaian kecepatan atau prestasi. Lebih dari itu, ini soal menikmati perjalanan, menghargai setiap langkah, bercengkerama dengan teman sepanjang rute, dan merayakan kebersamaan dalam suasana yang penuh semangat dan sukacita. Karena sejatinya, olahraga adalah tentang menjaga kesehatan jangka panjang, bukan sekadar mengejar garis finis tercepat.

Selain itu, keterlibatan langsung Gubernur Lampung hingga akhir acara memberikan contoh positif bagi masyarakat, bahwa pemimpin pun harus aktif mempromosikan pola hidup sehat dan dekat dengan warganya melalui aktivitas-aktivitas semacam ini. Hal kecil seperti ini kadang lebih membekas dibandingkan sekadar pidato atau imbauan tanpa tindakan nyata.

Akhir kata, pengalaman mengikuti Buddhayana Run 5K ini menyisakan kesan yang menyenangkan sekaligus membangun kesadaran baru: menjaga kesehatan tubuh adalah investasi berharga, dan menjaga kebersihan lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Semoga ke depan semakin banyak kegiatan serupa yang menginspirasi, bukan hanya soal lari dan olahraga, tapi juga soal hidup yang lebih sehat, lebih bersih, dan lebih peduli terhadap sesama serta lingkungan sekitar.

 


 






Sunday, July 06, 2025

HASH DAN DARAH : DUA NAFAS SATU SEMANGAT

Aplikasi Donorku telah mengingatkanku sejak minggu lalu bahwa sudah waktunya untuk kembali mendonorkan darah. Namun karena padatnya kegiatan dan jadwal yang tidak memungkinkan, niat untuk donor harus tertunda selama satu minggu. Meski begitu, semangat untuk berbagi tetap terjaga. Donor darah sudah menjadi bagian dari kebiasaan dan komitmenku setiap dua bulan sekali, aku selalu menyisihkan waktu untuk kegiatan ini.

Akhir pekan ini, aku mengikuti kegiatan Hash bersama komunitas di Vila Ko Fintoni, Campang Raya. Rute kali ini cukup menantang namun menyenangkan. Kami menyusuri jalanan basah dan licin akibat hujan yang mengguyur sehari sebelumnya. Tanah liat melekat di sepatu, membuat langkah terasa berat. Perjalanan membawa kami melewati pesawahan yang hijau, perkampungan yang hangat, hingga tanjakan yang terus-menerus menguras tenaga. Bahkan ketika kami sampai di satu bukit, masih ada bukit berikutnya yang harus kami daki. Namun begitulah kegiatan hashing lelah yang dibayar lunas dengan rasa puas dan kebersamaan yang sulit dijelaskan dengan kata.

Setelah kembali ke run site dan menyegarkan diri, kami diingatkan kembali oleh teman-teman bahwa hari ini ada kegiatan donor darah di Suaka Insan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Komunitas Insan Bahagia bekerja sama dengan PMI Pembina Provinsi Lampung. Seusai menyantap sepiring pecel lontong yang menggugah selera dan cukup memulihkan energi, kami pun sepakat melanjutkan perjalanan menuju lokasi di Jalan Ikan Tongkol No. 66, Pesawahan, Teluk Betung.

Tiba di Suaka Insan, kami disambut oleh kerumunan pendonor yang telah memenuhi area. Ternyata, antusiasme masyarakat sangat tinggi, jumlah pendonor yang sudah terdaftar telah mencapai 250 orang. Beberapa dari mereka adalah teman-teman komunitas hasher juga. Kami sempat khawatir tidak kebagian giliran. Namun, beberapa panitia yang juga adalah teman kami menyarankan untuk menunggu. Biasanya ada calon pendonor yang tidak lolos proses screening karena berbagai alasan medis.

Benar saja, tak lama kemudian kami dipanggil untuk masuk antrean. Kami mendapatkan nomor, meski berada di urutan akhir, dan tetap semangat untuk menunggu giliran.

Proses screening merupakan tahap penting dan wajib sebelum seseorang diperbolehkan mendonorkan darah. Ini bukan hanya syarat administratif, tetapi langkah vital untuk memastikan keamanan baik bagi penerima maupun pendonor.

Syarat utama untuk menjadi pendonor darah, antara lain:

  • Berusia antara 17 hingga 60 tahun (untuk donor pertama, maksimal 60 tahun; jika sudah rutin, bisa sampai 65 tahun).
  • Berat badan minimal 45–50 kg, tergantung kebijakan masing-masing unit donor.
  • Tekanan darah dalam batas normal, yakni sekitar 100/60 mmHg hingga 160/100 mmHg.
  • Denyut nadi dan suhu tubuh normal (tidak sedang demam atau mengalami gangguan jantung).
  • Kadar hemoglobin memadai, yakni minimal 12,5 g/dL untuk wanita dan 13,0 g/dL untuk pria.
  • Tidak sedang sakit, hamil, atau menyusui, serta tidak sedang menstruasi berat.
  • Tidak memiliki riwayat penyakit serius seperti HIV/AIDS, hepatitis B atau C, kanker, diabetes yang tidak terkontrol, atau gangguan jantung.
  • Tidak baru saja menjalani operasi besar, transfusi darah, tato, tindik, atau endoskopi dalam 6 bulan terakhir.
  • Tidak sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu yang dapat memengaruhi kelayakan donor.
  • Tidak memiliki gaya hidup berisiko tinggi (misalnya sering berganti pasangan seksual atau penggunaan narkoba suntik).

Setelah melewati pendaftaran dan pemeriksaan awal, aku dinyatakan layak untuk mendonorkan darah. Ini menjadi donor ke-15 bagiku dan meskipun sudah belasan kali, rasanya tetap sama seperti pertama: campuran antara deg-degan, semangat, dan sedikit takut.

Satu hal yang belum bisa aku hilangkan: ketakutan terhadap jarum suntik. Sejak kecil, aku punya ketakutan berlebih pada jarum. Bahkan pernah ketika sakit dan dokter datang ke rumah, aku lebih memilih kabur lewat jendela daripada disuntik. Saat remaja, pengalaman operasi membuatku harus menghadapi suntikan setiap hari dan itu cukup menguras mental. Membayangkan jarum saja bisa membuat tangan berkeringat meskipun ruangan ber-AC.

Tapi hari ini, seperti biasa, aku berusaha menenangkan diri. Saat duduk di kursi donor, dan lengan kiriku dibersihkan, keringat dingin mulai muncul. Petugas yang ramah mengingatkanku, “Jangan tegang, Mas, rileks saja. Nanti susah cari pembuluh darahnya.” Aku hanya mengangguk, mencoba fokus ke napas, dan tidak menatap saat jarum mulai ditusukkan ke lengan.

Saat darah mulai mengalir ke kantong, perlahan rasa takut pun mereda. Beberapa teman yang menjadi panitia datang dan bercanda. Mereka tahu aku takut jarum, dan mereka memanfaatkannya sebagai bahan godaan, tapi itu membuat suasana cair dan menyenangkan.

Sekitar 25 menit kemudian, darahku terkumpul dalam kantong. Jarum dilepas, dan aku diberikan kapas serta plester seperti biasa. Ada rasa lega dan bangga yang luar biasa. Aku berhasil melewati rasa takut lagi, dan yang lebih penting, aku telah memberikan sesuatu yang mungkin bisa menyelamatkan nyawa orang lain.

Setiap tetes darah yang kita berikan adalah bentuk cinta, kepedulian, dan harapan. Aku tidak tahu siapa yang akan menerima darahku, mungkin seseorang yang sedang berjuang melawan penyakit, ibu yang sedang melahirkan, atau anak kecil yang mengalami kecelakaan. Tapi satu hal yang aku tahu: darah ini membawa kehidupan.

Donor darah bukan hanya tentang kesehatan fisik, tapi juga kesehatan jiwa. Ini adalah bentuk syukurku karena masih diberi tubuh yang kuat, dan kesempatan untuk berbagi. Semoga aku bisa terus sehat, agar bisa terus menjadi bagian dari rantai kebaikan ini.

Karena terkadang, memberi tidak harus dalam bentuk materi, cukup dengan setetes darah, kita bisa memberi harapan hidup bagi seseorang yang bahkan mungkin tidak akan pernah kita kenal.















 


RUN 1115, IN THE YEAR OF WOOD, PLANT HOPE, PROTECT LIFE


Minggu, 6 Juli 2025
Jam : 07.00 Wib
Dress code : Bebas
Run Site : Vila Ko Fintoni

Menapaki Alam, Menyemai Harapan : Petualangan Hash Campang Raya di Tahun Kayu


Pagi itu, suasana Bandarlampung terasa berbeda. Sejak sore sebelumnya hingga menjelang fajar, kota ini diguyur hujan terus-menerus. Hawa panas yang biasanya menyelimuti kota seakan menghilang, digantikan udara sejuk yang menyusup ke setiap sudut rumah. Langit masih mendung, dan hawa pagi membuat godaan untuk tetap bergelung di balik selimut terasa begitu kuat.

Namun, seperti ada panggilan dari alam. Tubuh mungkin masih berat untuk bangun, mata masih ingin terpejam sambil menatap langit kelabu dari jendela, tapi semangat untuk ber-hash bersama komunitas Lampung Hash House Harriers (LHHH) pelan-pelan mulai mengalahkan rasa malas. Dalam hati muncul bayangan jalur yang licin, tanah becek, dan sungai kecil yang mungkin meluap. Tapi justru di sanalah tantangannya, dan di situlah kenikmatannya.

Saat melangkah keluar rumah, langit tampak diselimuti mendung tipis yang merata, tapi tidak pekat. Di sepanjang Jalan Soekarno-Hatta, permukaan jalan basah, bahkan masih menyisakan genangan di beberapa tempat. Ini menandakan hujan cukup deras mengguyur kota. Namun setibanya di Campang Raya, lokasi hash pagi itu, justru berbeda, jalan tampak kering, dan tidak ada bekas hujan semalam. Ada harapan bahwa rute hash akan lebih bersahabat.

Hari itu, jumlah hasher yang hadir memang tidak banyak. Beberapa mungkin lebih memilih kegiatan lain seperti donor darah yang diadakan komunitas berbeda. Sebagian lain mungkin enggan datang karena mengira semua lokasi hash pasti diguyur hujan. Namun bagi yang tetap hadir, kami tahu, hujan atau tidak, hash selalu memberikan pengalaman unik yang tak tergantikan.

Seperti biasa, kegiatan diawali dengan sesi foto bersama untuk dokumentasi. Cuaca masih mendung tipis, tapi langit mulai menunjukkan warna birunya di beberapa sudut. Harapan pun tumbuh, semoga pagi ini tetap kering hingga kegiatan selesai. Jalur dibagi dua: sebagian hasher memilih jalur bebas (suka-suka), mengeksplorasi dengan gaya masing-masing, sementara lainnya memilih mengikuti rute resmi yang sudah dirancang oleh tim hare dua hari sebelumnya.

Perjalanan dimulai. Kami melangkah melewati jalan berbatu yang masih menyisakan sisa hujan, kadang becek, kadang licin. Tak lama, kami sampai di sebuah aliran sungai kecil yang harus diseberangi. Batu-batunya basah, cukup licin, dan kami harus hati-hati melangkah atau melompat menuju pematang sawah. Ada rasa waspada, tapi juga antusiasme yang membuncah.

Rute membawa kami masuk ke perkampungan, berjalan di jalan aspal yang kemudian berganti menjadi jembatan bambu kecil. Jembatan ini tampak agak rapuh, beberapa batang bambu mulai menua. Tapi saling bantu antar sesama hasher membuatnya bisa dilewati dengan aman. Kami kemudian menyusuri kebun yang baru digarap petani, tanahnya sedang diolah untuk ditanami palawija seperti rampai, cabai, tomat, dan terong. Jejak sepatu kami meninggalkan tapak di tanah basah itu, seolah ikut menandai awal pertumbuhan baru.

Tak lama, rute mulai menanjak. Tanah merah yang basah menjadi licin, dan beberapa hasher sempat terpeleset. Di sisi kiri dan kanan tumbuh bambu serta pohon jati, membentuk lorong hijau alami yang sejuk dan teduh. Di tanjakan yang cukup curam ini, napas mulai terasa berat. Kami beberapa kali berhenti sejenak, mengatur napas sambil menikmati keheningan alam yang hanya diselingi suara burung dan gesekan daun.

Tiba di pondok kebun, biasanya ada seorang bapak penjaga yang menyambut kami dan sering berbagi pepaya segar. Tapi pagi itu beliau tidak terlihat. Namun pondok itu tetap menjadi tempat peristirahatan yang nyaman. Ada kursi panjang dari bambu, tempat kami duduk melepas lelah sambil bercengkerama ringan. Dari sini, pemandangan terbuka: bukit-bukit kecil, ladang, dan langit mendung yang perlahan menipis.

Usai istirahat, kami melanjutkan perjalanan melalui jalur setapak yang landai. Ada alternatif menuju puncak bukit, dari sana kita bisa melihat panorama Kota Bandarlampung dari kejauhan. Tapi sebagian dari kami memilih jalur mendatar. Sampai di pertigaan, jalur kembali terbagi: kanan adalah jalan pintas, kiri adalah jalur resmi. Aku memilih tetap mengikuti jalur kiri yang sudah ditandai kertas.

Karena tertinggal, aku mulai berlari kecil untuk mengejar rombongan. Teriakan khas hash, “On...On!” terdengar dari kejauhan, setelah saya teriakan “On….On!”,  suara yang memberi arah dan semangat. Jalanan makin menanjak, kanan kiri ditumbuhi semak belukar. Beberapa bagian cukup menutup jalur, menunjukkan bahwa tidak banyak yang lewat sini. Kami sampai di puncak bukit (bukan puncak tertinggi), sebuah pondok kosong yang dulunya dihuni warga. Biasanya di sini kami bisa menikmati kelapa muda yang langsung dipetik, tapi kali ini hanya ada bekas pondok dan hamparan rumput liar.

Salah satu hasher sempat muntah, mungkin karena masuk angin atau perut kosong. Tapi setelah diberi minyak angin dan istirahat sebentar, ia kembali pulih. Kami duduk sejenak, menikmati semilir angin dan hamparan alam hijau. Dari atas sini, tampak jelas betapa indah dan luasnya kawasan yang baru saja kami lewati.

Jalur berikutnya menurun, menyusuri hutan kecil, dengan tanah basah, ranting berserakan, dan batang pohon tumbang. Perlu ekstra hati-hati karena jalanan licin, dan daun kering bisa membuat tergelincir. Bagi yang belum terbiasa atau sudah lama tak beraktivitas luar ruang, kaki bisa gemetar karena tekanan medan turun.

Di pertigaan terakhir, beberapa dari kami memutuskan menemani satu hasher yang kelelahan untuk melewati jalan pintas. Tapi jalur ini tidak kalah menantang: licin, berair, dan dikelilingi semak serta rumpun bambu yang lebat. Jalan pintas bukan berarti lebih mudah, tapi justru mengajarkan bahwa dalam alam, semua jalur butuh kehati-hatian dan kesadaran.

Petualangan hari itu terasa makin bermakna jika kita hubungkan dengan semangat Tahun Kayu, yang dalam kalender Tionghoa melambangkan pertumbuhan, pembaruan, dan keseimbangan alam. Kayu adalah simbol kehidupan, yang akarnya mencengkeram bumi dan dahannya merentang ke langit, seperti harapan manusia akan masa depan yang hijau dan berkelanjutan.

🌱 Tanam Harapan
Saat LHHH menapaki jalur-jalur alam, dari pohon karet, ladang, hingga hutan bambu kami juga menanam harapan. Harapan bahwa anak cucu kita masih bisa menghirup udara bersih, menjejak di tanah yang subur, dan menikmati keindahan yang hari ini masih bisa kami saksikan. Setiap kegiatan hash bukan hanya olahraga, tetapi juga bentuk nyata kepedulian akan lingkungan. Kami menjaga jalur tetap bersih, menolak vandalisme, dan mempromosikan nilai keberlanjutan.

🛡️Lindungi Kehidupan
Melindungi kehidupan tidak harus melalui aksi besar. Menjaga agar jalur tetap alami, tidak membuang sampah sembarangan, menghormati flora dan fauna sekitar, hingga saling bantu di medan yang berat, semua adalah bentuk perlindungan terhadap kehidupan. Kegiatan hash juga membangun solidaritas, menjalin kebersamaan, dan memperkuat hubungan antarmanusia dengan alam.

Lampung Hash House Harriers adalah contoh komunitas yang tak hanya mengejar kesenangan, tetapi juga ikut menjaga bumi. Di Tahun Kayu ini, mari kita terus menanam harapan di setiap langkah, dan menjadikan bumi ini tempat yang 
layak 
ditinggali, bagi kita, dan semua makhluk hidup di dalamnya.