Sunday, November 08, 2026

LHHH RUN 1183, TRAILS OF STRUGGLE, SPIRIT OF FRIENDSHIP

 

TRAILS OF STRUGGLE, SPIRIT OF FRIENDSHIP

Jejak Perjuangan, Semangat Persahabatan

Run 1183 – Lampung Hash House Harriers (LHHH)
Vila Suka Harum, Batu Putu

Vila Suka Harum di kawasan Batu Putu menjadi run site Lampung Hash House Harriers (LHHH) untuk Run 1183 kali ini. Vila yang merupakan milik salah seorang senior member Lampung Hash, Pak Hadi, memiliki area yang cukup luas dan asri. Berbagai tanaman menghiasi kawasan vila, dilengkapi kolam ikan, kolam renang, aula, serta fasilitas penginapan yang dapat disewa.

Sejak pukul 06.00 WIB, sekitar 150 member dan partisipan Lampung Hash mulai berdatangan. Dengan dress code bernuansa merah, suasana vila perlahan dipenuhi warna yang melambangkan keberanian dan semangat perjuangan.

Mengusung tema TRAILS OF STRUGGLE, SPIRIT OF FRIENDSHIP – Jejak Perjuangan, Semangat Persahabatan, kegiatan kali ini sekaligus menyambut Hari Pahlawan, 10 November. Semangat dan antusiasme para peserta begitu terasa. Merah mendominasi seluruh sudut run site, mulai dari pakaian hingga suasana kebersamaan yang tercipta.

Setelah registrasi, pembagian kupon makan, dan air mineral, tepat pukul 07.00 WIB kegiatan segera dimulai. Seperti tradisi setiap minggunya, acara diawali dengan dokumentasi bersama, foto dan video. Nuansa merah semakin terlihat dalam setiap jepretan kamera.

Selanjutnya, peserta mulai bersiap mengambil jalur masing-masing. Sekitar 30 orang memilih rute long, terutama mereka yang memang terbiasa mengambil jalur panjang dalam setiap kegiatan hash mingguan. Sebagian besar peserta memilih rute medium, sementara beberapa lainnya memilih rute suka-suka.

Perjalanan Dimulai: Tanjakan Menjadi Sambutan

Begitu keluar dari Vila Suka Harum, peserta langsung disambut jalan beraspal yang menanjak. Sebuah ujian kecil sejak langkah pertama. Jalan kampung pagi itu dipenuhi warna merah khas Lampung Hash, lengkap dengan candaan, guyonan, kelakar, dan tentu saja semangat untuk mengabadikan perjalanan melalui foto dan video.

Beberapa komentar spontan mulai terdengar.

"Baru berangkat sudah nanjak, bagaimana nanti?"

"Kalau nanjak begini, pasti nanti rutenya menurun!"

Komentar-komentar seperti itu justru mengundang tawa. Namun, di balik candaan tersebut, ada semangat yang sama: berolahraga, menjaga kesehatan, menikmati alam, dan yang tidak kalah penting, bertemu teman-teman dengan hobi yang sama.

Setelah melewati jembatan dan mulai memasuki perkebunan warga, jalur pun terpisah menjadi tiga pilihan: long, medium, dan suka-suka.

Peserta rute long dan medium diarahkan memasuki kawasan kebun karet, sedangkan peserta rute suka-suka melanjutkan perjalanan melalui jalan beraspal di kawasan perkebunan, dengan arah menuju Taman Rusa atau Taman Kupu-Kupu.

Menyusuri Kebun dan Mengenal Alam

Saya memilih rute long, bersama sebagian besar peserta yang mengambil jalur medium. Perjalanan diawali dengan sedikit tanjakan melewati kebun karet, kemudian memasuki kawasan Jalan Teropong Bintang.

Dahulu, kawasan ini direncanakan menjadi jalur menuju tempat pengamatan bintang. Namun, sekarang kondisinya sudah tidak terawat dan sebagian jalannya mulai ditumbuhi semak belukar.

Di sebuah persimpangan, Rosa sudah menunggu untuk mengarahkan peserta. Dari titik tersebut, rombongan kembali dipisahkan menjadi dua kelompok, yaitu rute long dan medium. Sekitar 20 orang melanjutkan rute long, sementara peserta lainnya disarankan Rosa untuk mengambil jalur medium.

Rute medium masih melewati Jalan Teropong Bintang sebelum akhirnya masuk lebih jauh ke perkebunan warga. Berbagai tanaman tumbuh di sepanjang perjalanan, mulai dari kopi, pala, durian, pisang, hingga tanaman perkebunan lainnya.

Pohon-pohon kopi masih memperlihatkan buah-buah kecil setelah melewati masa berbunga. Sementara itu, beberapa pohon durian masih berbunga dan sebagian lainnya sudah mulai memperlihatkan buah-buah mungil.

Menyusuri perkebunan warga ternyata memberikan pengalaman tersendiri bagi kami para hasher. Selain menikmati perjalanan, kami juga bisa belajar mengenal berbagai jenis tanaman. Tidak semua orang mengenali pohon dari bentuknya, meskipun sudah mengenal buahnya.

Ada yang tahu buah pala, tetapi belum tentu mengenali pohonnya. Ada yang mengenal cabai jawa, tetapi belum pernah melihat tanamannya secara langsung. Begitu pula dengan kemiri dan berbagai tanaman lainnya.

Perjalanan ini seolah menjadi ruang belajar alam yang sederhana. Kita tidak hanya berjalan, tetapi juga melihat, mengenal, dan memahami lingkungan di sekitar kita.

Di beberapa bagian perjalanan, kami melewati pohon-pohon hutan berukuran besar yang usianya mungkin sudah puluhan tahun. Sayangnya, kami tidak mengetahui nama pohon-pohon tersebut. Ukurannya yang menjulang dan batangnya yang besar menjadi pemandangan menarik sekaligus spot foto yang sayang untuk dilewatkan.

Memang, salah satu bagian menyenangkan dari hash adalah mengabadikan setiap momen. Bukan hanya pemandangan luas atau panorama alam, tetapi juga pepohonan, kebun, jalan setapak, dan kebersamaan teman-teman sepanjang perjalanan.

Jalur medium kemudian melewati jalan setapak yang sebagian sudah disemen oleh warga karena menjadi akses kendaraan roda dua menuju perkebunan. Sepanjang jalur ini banyak dijumpai pohon durian. Sayangnya, belum memasuki musim panen. Kami hanya menemukan beberapa buah durian kecil yang jatuh ke tanah. Lumayan, bisa menjadi bahan candaan dan permainan sejenak.

Perjuangan dan Kepedulian di Sepanjang Jalur

Namun, perjalanan tidak selalu menyenangkan dan mudah. Tanjakan demi tanjakan terus menghadang. Jalan seolah tidak memberikan kesempatan bagi para hasher untuk menikmati jalur datar.

Di tengah perjalanan, salah seorang peserta mengalami mual dan pusing. Teman-teman yang berada di sekitarnya segera memberikan pertolongan pertama dan membantu menenangkan kondisinya.

Sementara itu, teman lainnya berinisiatif mencari bantuan kepada pekebun yang membawa sepeda motor agar peserta tersebut dapat diantar kembali ke run site, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan.

Tidak lama kemudian, seorang peserta lainnya juga mengalami kelelahan. Setelah mendapatkan pertolongan pertama dan dinilai tidak memungkinkan untuk meneruskan perjalanan, kami kembali berusaha mencari bantuan pekebun yang dapat mengantarkannya pulang ke run site.

Dua kejadian ini menjadi pengingat bahwa dalam kegiatan luar ruang, keselamatan dan kepedulian harus selalu menjadi prioritas. Semangat menyelesaikan rute memang penting, tetapi mengetahui batas kemampuan diri dan saling memperhatikan kondisi teman jauh lebih penting.

Perjalanan pun berlanjut. Tanjakan masih menjadi teman setia kami. Namun, semangat terus dibangun bersama. Sesekali tertawa, bercanda, dan saling menyemangati menjadi cara sederhana untuk melupakan rasa lelah.

Batu Lapis dan Tantangan Menuju Kaki Gunung Betung

Setelah melewati sejumlah tanjakan, akhirnya kami menemukan jalan yang lebih datar dan sedikit menurun. Rupanya, kami telah sampai di tujuan pertama, yaitu Batu Lapis.

Batu Lapis merupakan kawasan aliran sungai yang dipenuhi batu-batu besar dengan susunan berlapis-lapis. Bentuk dan susunan batu inilah yang menjadi asal penyebutannya. Sayangnya, karena sedang musim kemarau, sungai tersebut tidak lagi dialiri air.

Kami memanfaatkan kesempatan untuk beristirahat sejenak, menikmati suasana, mengambil foto dan video, sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Dan benar saja, tanjakan kembali menyambut.

Beberapa teman bahkan harus saling membantu dengan menarik tangan ketika menghadapi tanjakan yang cukup berat. Kondisi tubuh yang mulai lelah ditambah jalur yang terus menanjak membuat perjalanan semakin menantang.

Namun, sebagian peserta justru menikmati tantangan tersebut. Di antara pepohonan kopi, dengan latar belakang langit biru, kamera kembali bekerja mengabadikan momen. Ada saja alasan untuk berhenti sejenak, berfoto, dan membuat video.

Sampai akhirnya kami berhasil melewati tanjakan tertinggi di kawasan kaki Gunung Betung. Lega rasanya ketika jalur mulai menurun. Setelah melewati sebuah persimpangan, terlihat jalur menuju kawasan pendakian Gunung Betung.

Sebagai informasi, Gunung Betung memiliki beberapa jalur pendakian yang dikenal, antara lain melalui Wiyono, Sukawera, dan kawasan Hutan Kemiri.

Namun, jangan membayangkan bahwa jalan menurun selalu lebih mudah daripada tanjakan. Justru pada jalur menurun, kita harus lebih berhati-hati. Kaki dan lutut menjadi tumpuan utama untuk menahan berat tubuh. Jika saat menanjak kita harus pandai mengatur napas, saat menurun kita harus lebih memperhatikan pijakan dan menjaga keseimbangan.

Kecepatan berjalan pun terkadang hampir sama dengan ketika menanjak.

Hutan Kemiri: Teduh, Sejuk, dan Menawan

Memasuki kawasan Hutan Kemiri, suasana terasa sedikit berbeda. Udara lebih sejuk, pepohonan besar menaungi jalan, dan suasana hutan memberikan kesegaran setelah melewati perjalanan panjang.

Pohon-pohon kemiri yang berukuran besar berdiri di sepanjang kawasan ini. Entah sudah berapa puluh tahun usianya. Jumlahnya cukup banyak sehingga kawasan ini dikenal sebagai Hutan Kemiri.

Pepohonan besar tersebut menjadi latar foto dan video yang menarik. Di tengah perjalanan yang melelahkan, suasana teduh hutan memberikan kesempatan bagi kami untuk beristirahat dan menikmati keindahan alam.

Kawasan ini termasuk dalam wilayah Taman Hutan Raya (Tahura) Wan Abdul Rachman.

Setelah beristirahat sebentar dan mengabadikan beberapa momen, kami kembali melanjutkan perjalanan. Masih cukup jauh untuk mencapai run site.

Jalur mulai relatif datar dan cenderung menurun. Akan tetapi, matahari semakin terik. Jam menunjukkan sekitar pukul 10.45 WIB. Meskipun beberapa bagian perjalanan masih dinaungi pepohonan, udara panas mulai terasa.

Ketika memasuki jalan kampung yang lebih terbuka, teriknya matahari siang seolah menjadi tantangan tersendiri. Matahari tepat berada di atas kepala, sementara kami masih harus melangkah cukup jauh.

Semangat tetap dijaga. Tujuan berikutnya adalah Taman Rusa, yang menjadi salah satu patokan sebelum kembali menuju Vila Suka Harum.

Taman Rusa dan Segelas Kesegaran

Sesampainya di sekitar Taman Rusa, kami mulai melihat beberapa pedagang yang berjualan di sepanjang jalan. Salah satu yang menarik perhatian adalah penjual es jus.

Di tengah cuaca panas dan perjalanan panjang, segelas minuman dingin terasa begitu menggoda. Kami pun memilih berhenti sejenak untuk menikmati kesegarannya.

Sederhana memang, tetapi dalam perjalanan seperti ini, hal-hal kecil justru terasa sangat istimewa. Segelas minuman dingin bisa menjadi hadiah setelah melewati tanjakan, turunan, dan perjalanan panjang.

Setelah menikmati minuman, kami kembali melangkah menuju run site.

Kembali ke Run Site: 12 Kilometer Perjuangan

Akhirnya, sekitar pukul 12.15 WIB kami tiba kembali di Vila Suka Harum. Beberapa peserta sudah lebih dahulu pulang, sementara sebagian lainnya baru menyelesaikan perjalanan.

Menu makan siang kali ini adalah ayam goreng geprek dan sebotol air mineral. Rasanya sudah lebih dari cukup untuk mengisi perut yang sejak tadi seolah terus mengingatkan bahwa waktunya makan telah tiba.

Sambil menikmati makan siang, obrolan tentang perjalanan hari ini masih terus berlangsung. Berdasarkan catatan jam dan aplikasi masing-masing, jarak perjalanan kami mencapai sekitar 12 kilometer.

Beragam komentar muncul. Ada yang merasa rutenya bagus, menarik, dan menantang. Ada pula yang tidak menyangka bahwa dirinya mampu melewati jalur sejauh itu, dengan tanjakan dan turunan yang cukup menguras tenaga.

Namun, justru di situlah letak kepuasannya. Ada rasa bangga ketika menyadari bahwa sesuatu yang awalnya terasa berat ternyata bisa dilalui.

Run 1183 kali ini bukan sekadar perjalanan berjalan kaki menyusuri perkebunan dan hutan. Ada pengalaman mengenal alam, melihat kehidupan perkebunan warga, menikmati keindahan Hutan Kemiri, melewati Batu Lapis, dan tentu saja merasakan kebersamaan yang tumbuh sepanjang perjalanan.

Lebih dari itu, ada pelajaran tentang kepedulian. Bahwa dalam sebuah perjalanan, kita tidak hanya memikirkan langkah sendiri, tetapi juga memperhatikan teman yang berjalan bersama kita.

Akhirnya, satu per satu meninggalkan Vila Suka Harum, milik Pak Hadi, senior member Lampung Hash, untuk kembali ke rumah masing-masing dan beristirahat.

Mungkin kaki masih terasa lelah, tetapi ada banyak cerita yang akan dibawa pulang. Tentang tanjakan yang seolah tidak ada habisnya, candaan sepanjang jalan, pemandangan yang indah, segelas es jus yang menyegarkan, hingga kebersamaan yang membuat perjalanan terasa lebih ringan.

Jejak perjuangan bukan hanya tentang seberapa jauh kita melangkah, tetapi juga tentang bagaimana kita saling menguatkan dalam perjalanan.

Sampai bertemu di rute berikutnya, dengan tantangan dan pengalaman yang tentunya lebih menarik.

LAMPUNG HASH HOUSE HARRIERS

Fun, Fitness, Friendship.

ON..... ON.....!

 





























 

Sunday, May 17, 2026

HIKING KE LUBUK LAW, MEMBURU SEJUK DI UJUNG JALUR

Lubuk Law merupakan salah satu air terjun yang berada di Kabupaten Pesawaran, tepatnya di Desa Way Sabu, Kecamatan Padang Cermin, dan berada di kawasan Tahura Wan Abdul Rachman. Air terjun ini dikenal karena suasana hutannya yang masih alami, jalur trekking yang cukup menantang, serta kolam alami dengan air yang jernih.

Rute dari Bandar Lampung menuju lokasi adalah ke arah Hanura, kemudian ke Padang Cermin, melewati beberapa tempat wisata pantai seperti Pantai Ketapang, Pantai Klara, Pantai Cakra, dan Pantai Bensam melalui Jalan Way Ratai. Setelah tiba di kompleks Yonif 9 Marinir sebelum jembatan, belok kanan melewati jalan kampung sekitar 2 km hingga sampai di Sungai Way Sabu atau Dam Way Sabu.

Tempat ini dapat ditempuh menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat, dengan waktu perjalanan sekitar 1,5–2 jam, tergantung kondisi Jalan Way Ratai yang merupakan jalur wisata.

Dam Way Sabu menjadi lokasi parkir kendaraan roda dua maupun roda empat. Namun, bagi yang menyukai tantangan, perjalanan dapat dilanjutkan menggunakan sepeda motor hingga ke kampung terakhir, dengan catatan kendaraan dalam kondisi prima, rem pakem, atau lebih ideal menggunakan motor trail.

Kali ini rombongan kami berjumlah 14 orang, terdiri dari 7 perempuan dan 7 laki-laki. Kami tiba sekitar pukul 08.00 WIB. Sambil menunggu teman-teman yang belum datang, kami menikmati suasana Dam Way Sabu yang di sisi lain juga menjadi tempat wisata warga sekitar, meskipun pagi itu tidak terlalu ramai.

Setelah berkumpul dan sarapan sederhana berupa kue serta roti, kami berdiskusi dan memutuskan untuk mempersingkat waktu dengan naik ojek gunung menuju kampung terakhir. Ongkos ojek sebesar Rp50.000 per orang sekali jalan. Sebenarnya mereka bukan tukang ojek khusus, melainkan warga kampung yang membantu mengantar sambil menuju kebun. Di beberapa motor terdapat “ombyok” atau keranjang yang biasa digunakan untuk mengangkut hasil panen kebun.

Naik ojek gunung memiliki tantangan tersendiri dan membutuhkan keberanian ekstra. Jalannya memang sudah dicor semen, tetapi lebarnya hanya sekitar 50 cm. Sebagian jalur berlumut dan basah sehingga cukup mengkhawatirkan apabila keseimbangan terganggu karena bisa terpeleset dan jatuh. Namun, para pengendara yang sudah terbiasa melewati jalur ini cukup membantu mengurangi rasa khawatir tersebut.

Pagi itu langit diselimuti mendung dan sesekali turun rintik hujan. Menurut keterangan warga setempat, kondisi seperti ini memang cukup biasa terjadi. Karena hanya ada delapan pengendara ojek, sebagian rombongan harus menunggu giliran dijemput.

Sesampainya di kampung terakhir, sambil menunggu teman-teman lain tiba, kami berbincang dengan beberapa warga yang tinggal di tempat tersebut. Kampung kecil itu menjadi tempat transit atau beristirahat bagi warga yang pergi dan pulang dari kebun. Hal pertama yang kami tanyakan adalah kondisi terbaru Air Terjun Lubuk Law. Informasi seperti ini penting demi keselamatan pengunjung.

Kami sudah beberapa kali mengunjungi Air Terjun Lubuk Law dalam kondisi yang berbeda-beda. Kali ini kawasan tersebut masih sering diguyur hujan, bahkan sehari sebelumnya hujan turun cukup deras. Pagi itu pun mendung tebal dan gerimis terus membasahi jalur. Warga setempat menyarankan agar selalu memperhatikan tanda-tanda alam, seperti mendung tebal di hulu sungai, perubahan warna air, atau debit air yang meningkat. Jika hal itu terjadi, pengunjung disarankan segera menjauh dari sungai demi keselamatan.

Jalur dari rumah penduduk menuju Air Terjun Lubuk Law melewati kebun warga yang didominasi tanaman kakao, pisang, kopi, serta sebagian pinang dan duku. Jalurnya menanjak dan basah, beberapa bagian melewati tepian Sungai Way Sabu serta pondok-pondok kebun milik warga.

Kami tiba di sebuah pondok tepat di pinggir jalur. Dari titik ini perjalanan dilanjutkan melalui jalan setapak yang menurun. Tidak ada penanda khusus atau petunjuk arah yang jelas menuju Air Terjun Lubuk Law. Karena itu, bagi pemula sebaiknya meminta pendamping warga setempat.

Jalan setapak tersebut cukup samar karena jarang dilewati. Bahkan ada pohon besar tumbang yang menutupi jalur sehingga sempat membingungkan kami. Setelah itu kami tiba di tepian sungai. Kondisinya pun berbeda dari kunjungan sebelumnya. Biasanya setelah melewati hutan kami bisa langsung turun ke sungai, tetapi kali ini sebagian tepian sudah tergerus banjir seperti yang diceritakan warga setempat.

Perjalanan dilanjutkan menyusuri hutan di pinggir sungai dengan kondisi jalur berbatu, berlumut, dan licin. Beberapa teman sempat terpeleset. Hingga akhirnya kami tiba di ujung jalur setapak dan bertemu sebuah batu besar yang tinggi. Dari titik ini kami harus turun ke sungai. Biasanya area tersebut berupa daratan berbatu, namun kini sebagian telah terendam air, kemungkinan akibat tergerus banjir.

Kami berhenti sejenak untuk menyusun strategi menyeberangi sungai yang arusnya cukup deras dan dalam. Para laki-laki turun lebih dulu dan saling berpegangan tangan. Tas serta perlengkapan dipindahkan secara estafet agar tidak basah saat menyeberang. Setelah semua barang berhasil dipindahkan, kami bergandengan tangan membantu teman-teman perempuan menyeberang. Di titik ini kerja sama menjadi sangat penting karena menyeberang sendirian cukup berisiko terbawa arus.

Setelah berhasil menyeberang, tantangan belum berakhir. Masih ada batu besar yang sangat licin dan harus dilewati tanpa pilihan lain. Kami kembali saling membantu dan berpegangan agar bisa melewatinya dengan aman. Area ini cukup berbahaya. Jika terpeleset, seseorang bisa jatuh ke air, membentur batu, atau bahkan terjepit di sela-sela batu besar.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menyusuri pinggiran sungai yang dipenuhi batu-batu licin. Kami tetap harus waspada dan beberapa kali saling membantu agar tidak terpeleset. Meski jalurnya cukup berat dan berisiko, kesegaran air, pemandangan pepohonan, serta tebing batu yang indah menjadi penguat perjalanan ini.

Akhirnya kami tiba di Air Terjun Lubuk Law, tujuan utama perjalanan kami. Suara gemuruh air terjun terdengar sangat meyakinkan, seolah mengingatkan bahwa alam menyimpan kekuatan yang harus dihargai dan dihormati. Tingginya memang hanya sekitar 25 meter, tetapi debit airnya cukup besar sehingga tetap perlu diwaspadai dan tidak boleh diremehkan.

Nama “lubuk” dalam bahasa lokal berarti bagian sungai yang dalam. Di Lubuk Law terdapat cekungan alami yang tenang di beberapa sisi, namun memiliki arus kuat di bagian tertentu. Karena itu, pengunjung harus selalu berhati-hati saat berada di lokasi ini.

Cuaca mendung dan gerimis yang terus turun membuat kami semakin waspada. Kali ini air sungai tampak agak keruh, berbeda dengan saat musim kemarau ketika airnya sangat jernih. Pada kunjungan sebelumnya kami masih bisa mendekat hingga ke bawah air terjun, namun kali ini kami membatasi diri hanya di area yang dirasa cukup aman untuk berendam dan berenang.

Di beberapa bagian biasanya terdapat batu datar yang bisa digunakan untuk meletakkan tripod ponsel saat mengambil foto atau video. Namun kali ini batu-batu tersebut sudah tidak terlihat lagi, kemungkinan tersapu banjir sebelumnya. Artinya, beberapa area yang biasa digunakan untuk berenang kemungkinan kini menjadi lebih dalam. Menurut informasi warga setempat, kedalaman lubuk di beberapa titik pernah diukur mencapai sekitar 8 meter. Kondisi ini tentu berbahaya, apalagi jika terdapat pusaran air.

Untuk berkunjung ke Air Terjun Lubuk Law, pengunjung sebaiknya membawa bekal yang cukup, baik air minum maupun makanan berat seperti nasi bungkus. Perjalanan yang panjang, rasa lelah, dan udara dingin membuat tubuh cepat lapar. Kami membawa cukup banyak bekal makanan dengan lauk yang bervariasi, bahkan membawa kompor portable untuk membuat kopi. Perbekalan memang menjadi salah satu prioritas penting saat berkunjung ke tempat ini.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.35 WIB. Saatnya kami kembali pulang. Setelah berkemas dan mengambil beberapa foto dokumentasi, kami kembali melewati jalur yang sama. Jalan pulang pun tetap menantang: batu licin, jalur sempit, dan medan yang mengharuskan kami terus saling membantu.

Kami kembali tiba di batu besar yang cukup sulit dilewati. Bagi sebagian orang mungkin tampak mudah, tetapi bagi sebagian lainnya cukup menegangkan dan membutuhkan bantuan teman. Sedikit saja kehilangan keseimbangan, risikonya bisa jatuh, membentur batu, atau terjepit di sela-sela bebatuan. Karena itu perjalanan harus dilakukan dengan hati-hati, pelan tetapi pasti.

Sama seperti saat berangkat, proses menyeberang sungai saat pulang pun dilakukan dengan kerja sama. Para laki-laki kembali bergandengan tangan membentuk estafet untuk memindahkan tas dan perlengkapan, lalu membantu teman-teman perempuan menyeberang.

Perjalanan dilanjutkan menyusuri hutan di pinggir sungai. Jalurnya tetap licin dengan batu-batu yang mudah lepas. Di satu titik yang cukup mengecoh, beberapa teman sempat berjalan lurus, padahal jalur yang benar harus belok ke kiri.

Cuaca yang tetap mendung, pakaian dan sepatu yang basah membuat salah satu teman mengalami kram kaki. Kami berhenti sejenak untuk beristirahat, memberinya minyak kayu putih, lalu melanjutkan perjalanan kembali.

Saat tiba di kampung, waktu menunjukkan pukul 14.10 WIB. Kami beristirahat sejenak sambil berbincang dengan beberapa warga. Sebagian teman kembali menggunakan ojek gunung menuju tempat parkir, sedangkan saya dan beberapa teman lainnya memilih berjalan kaki.

Akhirnya kami kembali berkumpul di area parkir Dam Way Sabu, beristirahat sejenak, lalu pulang menuju Bandar Lampung dengan kendaraan masing-masing.


Perjalanan ke Air Terjun Lubuk Law

Jarak  dari Parkiran Mobil - Air Terjun Lubuk Law

6,51 Km

Perlengkapan Utama

  • Sepatu trekking atau sandal gunung antiselip
  • Dry bag atau plastik pelindung ponsel dan barang elektronik
  • Baju ganti
  • Air minum yang cukup
  • Makanan berat (nasi bungkus)
  • Snack ringan atau makanan penambah energi
  • Jas hujan ringan

Perlengkapan Tambahan

  • Tongkat trekking
  • Topi atau buff
  • Obat pribadi
  • Power bank
  • Senter atau headlamp jika pulang menjelang sore

Untuk Kendaraan

  • Pastikan motor atau mobil dalam kondisi baik
  • Rem dan ban harus bagus karena jalur bisa licin
  • Saat musim hujan, motor lebih fleksibel dibanding mobil

Hal yang Perlu Diperhatikan

  • Hindari datang setelah hujan deras
  • Jangan berenang di bagian lubuk yang dalam jika arus kuat
  • Datang pagi hari lebih aman dan nyaman
  • Sebaiknya tidak solo hiking
  • Jaga kebersihan dan bawa turun kembali sampah

Cocok Dibawa untuk Dokumentasi

  • Action cam atau ponsel tahan air
  • Tripod kecil
  • Tas kecil yang nyaman untuk trekking

Karakter Jalur

  • Trek menuju lokasi melewati hutan, sungai kecil, bebatuan, dan jalan tanah
  • Saat musim hujan jalur menjadi licin dan cukup berat, baik untuk kendaraan maupun hiking
  • Cocok bagi pecinta petualangan dan eksplorasi alam

Informasi Tempat

  • Kategori: wisata alam / air terjun
  • Ojek gunung dari Dam Way Sabu ke kampung: Rp50.000 per orang sekali jalan

Catatan Keselamatan

Lubuk Law memiliki arus yang dapat tiba-tiba menjadi deras, terutama setelah hujan di bagian hulu. Pada Juni 2025 pernah terjadi insiden dua wisatawan tenggelam akibat arus kuat dan pusaran air. Karena itu, kewaspadaan dan kesiapan fisik sangat penting sebelum melakukan perjalanan ke tempat ini.

 

Participant

Lubuk Law, Sabtu, 16 Mei 2026

Anton, Hadi, Sun Hin, Mirza, Arie, Ateng, Lulu, Uwi, Aswin, Piet Hendro, Udin, Cecil, Sunny, Evie

Saturday, May 09, 2026

MLZ 03, WITH MARY ON THE JOURNEY OF HOPE

 

Komunitas Mlampah Ziarah Lampung berawal dari gagasan sederhana beberapa orang yang pernah mengikuti kegiatan mlampah ziarah di Kota Yogyakarta dan beberapa kota lain di Indonesia, serta teman-teman yang sudah terbiasa melakukan kegiatan hiking. Ide sederhana itu ternyata mendapat sambutan hangat dan perlahan berkembang menjadi kegiatan baru bagi para penyuka jalan kaki sekaligus peziarahan.

Mlampah Ziarah Lampung, yang selanjutnya disebut MZL, pertama kali dilaksanakan pada MZL01 tanggal 7 Maret 2026 dengan rute dari Asilo Hermelink menuju Taman Doa Sendang Banyu Biru di Way Kandis. Perjalanan ini diikuti 18 peserta dengan jarak tempuh sekitar 8 kilometer, melewati jalan-jalan utama Kota Bandar Lampung seperti Jl. ZA Pagar Alam, Jl. Sultan Agung, Jl. Ki Maja, hingga Jl. Ratu Dibalau.

Selanjutnya, MZL02 diadakan pada 11 April 2026 dengan rute dari Asilo Hermelink menuju Panti Wreda Griya Nugraha. Perjalanan kali ini melewati jalur yang cukup menanjak dengan jarak sekitar 7 kilometer.

MZL03 dilaksanakan pada Sabtu, 9 Mei 2026, dengan titik kumpul tetap di Asilo Hermelink dan tujuan akhir Kapel Santa Anna di komunitas induk Suster-suster Hati Kudus Teluk Betung.

Malam masih menyelimuti Asilo Hermelink ketika waktu menunjukkan pukul 04.45 WIB. Satu per satu peserta mulai berkumpul untuk mengikuti kegiatan komunitas ini. Acara diawali dengan briefing keselamatan perjalanan, pembagian kelompok seperti yang telah dibagikan di grup WhatsApp, dilanjutkan dengan pemanasan dan peregangan sebelum memulai perjalanan, serta doa pembuka.

Tepat pukul 05.20 WIB perjalanan dimulai, dengan kelompok satu berada di posisi terdepan. Kali ini jumlah peserta mencapai 36 orang. Menyusuri Jl. ZA Pagar Alam, pagi itu cuaca cerah dan langit masih menampakkan cahaya bulan. Beberapa orang di pinggir jalan menyapa rombongan kami. Aktivitas kota pun mulai terasa hidup; kendaraan berlalu-lalang dengan kecepatan cukup tinggi sehingga kami harus terus berhati-hati sepanjang perjalanan.

Dengan jumlah peserta yang cukup banyak dan kemampuan berjalan yang berbeda-beda, ritme perjalanan harus terus disesuaikan. Ketika ada teman yang mulai tertinggal, setiap kelompok berusaha menjaga irama langkah agar tidak meninggalkan peserta yang berjalan lebih lambat.

Perjalanan ini juga menghadirkan refleksi tentang kondisi pejalan kaki di Kota Bandar Lampung. Trotoar yang seharusnya menjadi ruang aman bagi pejalan kaki masih banyak yang kurang layak: ada lubang menganga di tengah jalur, sebagian dipakai berdagang, bahkan menjadi tempat sampah. Kondisi ini seharusnya menjadi perhatian bersama agar tersedia ruang berjalan yang aman dan nyaman bagi masyarakat.

Memasuki kilometer kedua, kelompok empat tertinggal cukup jauh dari rombongan lain. Akhirnya kelompok satu berpindah ke bagian belakang, sementara kelompok empat mengambil posisi terdepan agar ritme perjalanan kembali seimbang.

Perjalanan ini bukan sekadar jalan kaki, melainkan sebuah peziarahan hati. Di setiap langkah ada doa yang dipanjatkan, rasa syukur yang tumbuh, dan keyakinan bahwa Tuhan selalu berjalan bersama dalam setiap perjalanan hidup.

Berjalan bersama, saling bercerita, dan berbagi kegembiraan membuat setiap langkah terasa lebih ringan. Dalam perjalanan ziarah, bukan hanya tujuan akhir yang menjadi makna, melainkan juga kebersamaan yang menguatkan hati dan menghadirkan syukur sepanjang jalan.

Saat melewati Gereja Katedral Kristus Raja, kami memang tidak berhenti. Namun langkah yang terus berjalan justru menjadi ruang permenungan. Kami diingatkan bahwa setiap jalan dapat menjadi tempat berdoa, setiap langkah membawa harapan, dan setiap hati belajar semakin bersyukur.

Perjalanan juga melewati kawasan pertokoan dan Ramayana yang dahulu begitu ramai, namun kini terasa lebih sepi. Pemandangan itu mengingatkan bahwa waktu terus berjalan, suasana dapat berubah, tetapi kenangan dan cerita akan selalu tinggal dalam ingatan orang-orang yang pernah melewatinya.

Ketika melewati Jl. Raden Intan, peserta yang berada paling depan sempat berjalan terlalu jauh meninggalkan rombongan belakang. Saya sebagai leader harus berlari mengejar untuk mengingatkan agar rombongan berhenti sejenak menunggu peserta lain yang tertinggal. Tidak semua peserta memiliki kemampuan berjalan cepat, sehingga ritme perjalanan kembali diatur agar seluruh peserta tetap dapat berjalan bersama.

Setelah seluruh peserta berkumpul kembali, kami mengabadikan perjalanan ini melalui foto dan video di Tugu Adipura, ikon Kota Bandar Lampung. Kawasan ini juga dikenal sebagai pusat kegiatan car free day setiap hari Minggu, tempat masyarakat menikmati jalan kaki dan olahraga tanpa gangguan kendaraan bermotor.

Perjalanan kemudian dilanjutkan melewati Jl. Diponegoro yang menurun dengan kondisi trotoar yang relatif lebih baik, meskipun di beberapa titik masih terdapat kerusakan. Kami memilih tetap berjalan di trotoar demi keamanan karena arus kendaraan di jalan utama sudah cukup ramai dan melaju cepat.

Di pertigaan Balai Kota terdapat spot foto yang menarik, namun kami hanya berhenti sejenak untuk berfoto sendiri-sendiri sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Jalan yang menurun membuat peserta kembali bersemangat dan mempercepat langkah. Meski demikian, satu peserta tertua yang berjalan lebih pelan tetap kami dampingi agar tetap nyaman mengikuti perjalanan.

Pukul 07.42 WIB kami akhirnya tiba di tujuan, yaitu Kapel Biara Induk Suster-suster Hati Kudus Teluk Betung. Syukur kami rasakan ketika seluruh peserta dipastikan tiba dalam keadaan sehat dan baik.

Setelah beristirahat sejenak, kami dijamu oleh para suster HK dengan roti goreng, pisang rebus, air mineral, kopi, dan teh hangat yang sangat membantu mengembalikan tenaga setelah perjalanan pagi itu.

Selanjutnya kami memasuki kapel untuk berdoa Rosario sebagai penutup perjalanan ziarah ini. Doa Rosario dipandu oleh Ibu Mariana Kowe. Suasana hening, khidmat, dan penuh rasa syukur begitu terasa dalam doa bersama yang menjadi penutup perjalanan hari itu.

Usai doa Rosario, kami berpamitan kepada para Suster HK serta Direktur RS Santa Anna yang telah menyambut kami dengan hangat dan penuh keramahan.

 

MZL003

Mlampah Ziarah Lampung

WITH MARY ON THE JOURNEY OF HOPE

🗓️ Sabtu, 9 Mei 2026

⏰ 05.00 WIB

📍 Start : Asilo Hermelink

🏁 Finish : Kapel Santa Anna, Teluk Betung

Mlampah Ziarah Lampung 03 (MZL 03) mengajak kita melangkah dalam perjalanan iman bersama Bunda Maria, sosok yang setia berjalan dalam harapan, bahkan di tengah ketidakpastian. Dalam setiap langkah ziarah ini, kita diajak untuk meneladani hati Maria yang penuh iman, ketaatan, dan kepercayaan kepada kehendak Tuhan.

Perjalanan ini bukan sekadar menempuh jarak, tetapi menjadi ruang untuk merenung, berdoa, dan memperdalam relasi dengan Tuhan. Bersama Maria, kita belajar bahwa harapan tidak pernah padam, bahkan ketika jalan terasa menanjak atau melelahkan. Justru dalam proses itulah, iman kita diteguhkan dan hati kita dibentuk.

Dalam kebersamaan sebagai peziarah, kita saling menguatkan, saling mendoakan, dan berjalan dalam satu tujuan: menemukan damai dan harapan sejati. Doa-doa yang terlantun, langkah-langkah yang diayunkan, serta keheningan yang kita alami menjadi bagian dari perjalanan rohani yang menyentuh hati.

Melalui MZL 03, kita diajak untuk menyerahkan setiap pergumulan, harapan, dan rasa syukur kepada Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria.

Semoga perjalanan ini membawa kita semakin dekat pada kasih Tuhan, dan menumbuhkan harapan baru dalam setiap langkah kehidupan.

With Mary on the Journey of Hope

Bersama Maria dalam perjalanan pengharapan

 

PERSIAPAN MLAMPAH ZIARAH LAMPUNG

🌸 I. RUN DOWN 🌸

Sabtu, 9 Mei 2026

Route : Asilo Hermelink -  RS Santa Anna

04.45  : Peserta berkumpul di Asilo Hermelink

* Registrasi (memastikan yang daftar sudah hadir, mengambil stiker nama di bu Pieri)

* Persiapan pribadi

05.00 Pembuka

* Pengantar singkat (Bu Pieri)

* Briefing teknis perjalanan (Pak Hendro @Piet Hendro )

* Pemanasan fisik (Bu Yuli @Yuli Nugrahani )

* Doa pembuka (Suster  Dymphna @~Sr. Dymphna, HK )

05.15 Mulai berjalan

Suasana hening  langkah menjadi doa. Bersama kelompok masing masing

07.15 Tiba di Santa Anna. Istirahat

07. 30 ke Kapel

* Hening

* Doa Rosario (Bu Maria @~Mariana Kowe  )

* Doa ujud pribadi

08.30 Penutup

* Berkat

* Sayonara

* Foto bersama

 

🌸II. SAFETY BRIEFING🌸

1.     Pastikan kondisi tubuh sehat dan siap berjalan ±8 - 9 km.

2.     Gunakan sepatu yang nyaman dan tidak licin.

3.     Bawa air minum pribadi minimal 600 ml.

4.     Tetap berjalan di sisi kiri jalan dan patuhi aturan lalu lintas.

5.     Jangan berjalan sendirian, tetap dalam kelompok.

6.     Ikuti arahan koordinator dan tim sweeper.

7.     Jika merasa pusing, lelah berlebihan, atau cedera, segera lapor ke koordinator kelompok.

8.     Dimohon untuk tidak bercanda berlebihan yang membahayakan diri sendiri atau peserta lain.

9.     Jaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan.

10.  Transport ke Asilo dari rumah masing masing dan dari Santa Anna ke Asilo/rumah masing masing dilakukan secara mandiri.

Ingat: Ini adalah ziarah rohani. Mari kita menjaga sikap, kata-kata, dan suasana doa.

 

🌷III. PERSIAPAN PRIBADI PESERTA🌷

🌷A. Perlengkapan

v Sepatu nyaman (sudah pernah dipakai, bukan baru)

v Kaos kaki Cadangan

v Topi / buff

v Jas hujan ringan / paying

v Tas kecil / daypack

v Track pole atau tongkat

v Head lamp atau senter

🌷B. Konsumsi

v Air minum minimal 600 ml

v Snack ringan (telur rebus/arem arem/roti / kurma / pisang / energy bar / coklat / madu)

🌷C. Kesehatan

v Obat pribadi (jika ada)

v Plester luka / plester anti lecet

v Minyak angin

v Sunblock (jika perlu)

D. Lain-lain

v HP dengan baterai cukup

v Uang secukupnya

v Identitas diri

 

🍄IV. PELAKSANA LAPANGAN🍄

v Korlab : Pak Hendro @Piet Hendro

v Leader : Pak Hendro @Piet Hendro , Pak Nur Santosa @Nur Santoso , Pak Joko @~Yohanes Joko Purwanto SH , Pak Singgih @~Singgih

v Sweeper : Pak Dono @~Dono , Pak Susilo @~V Susilo Sugiarto , Pak Lukas  Koes @Lukask Kaling Sta. Scholastika , Pak Parman @Martinus Suparman

v Doa pembukaan di Asilo: Suster Dymphna @~Sr. Dymphna, HK

v Doa Rosario di Santa Anna: Ibu Maria @~Mariana Kowe

v CP keluhan medis : Pak Dono @~Dono

v CP mobil sweeper : Pak Alex

 

Mlampah Ziarah Lampung

1.     Niat & Doa : Awali dengan niat ziarah sebagai perjalanan iman, bukan sekadar jalan kaki.

2.     Persiapan Diri : Siapkan fisik, perlengkapan sederhana, dan hati yang terbuka.

3.     Perjalanan : Nikmati setiap langkah dengan doa, nyanyian, atau hening refleksi.

4.     Tiba di Tempat Ziarah : Ikuti ibadat, doa pribadi, atau devosi dengan khusyuk.

5.     Refleksi : Renungkan pengalaman, syukur atas perjalanan yang dilalui.

6.     Kembali & Membawa Makna :  Pulang dengan semangat baru untuk hidup sehari-hari.