Lubuk Law merupakan salah satu air terjun yang berada di Kabupaten Pesawaran, tepatnya di Desa Way Sabu, Kecamatan Padang Cermin, dan berada di kawasan Tahura Wan Abdul Rachman. Air terjun ini dikenal karena suasana hutannya yang masih alami, jalur trekking yang cukup menantang, serta kolam alami dengan air yang jernih.
Rute dari Bandar Lampung menuju lokasi adalah ke arah Hanura, kemudian ke Padang Cermin, melewati beberapa tempat wisata pantai seperti Pantai Ketapang, Pantai Klara, Pantai Cakra, dan Pantai Bensam melalui Jalan Way Ratai. Setelah tiba di kompleks Yonif 9 Marinir sebelum jembatan, belok kanan melewati jalan kampung sekitar 2 km hingga sampai di Sungai Way Sabu atau Dam Way Sabu.
Tempat ini dapat ditempuh menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat, dengan waktu perjalanan sekitar 1,5–2 jam, tergantung kondisi Jalan Way Ratai yang merupakan jalur wisata.
Dam Way Sabu menjadi lokasi parkir kendaraan roda dua maupun roda empat. Namun, bagi yang menyukai tantangan, perjalanan dapat dilanjutkan menggunakan sepeda motor hingga ke kampung terakhir, dengan catatan kendaraan dalam kondisi prima, rem pakem, atau lebih ideal menggunakan motor trail.
Kali ini rombongan kami berjumlah 14 orang, terdiri dari 7 perempuan dan 7 laki-laki. Kami tiba sekitar pukul 08.00 WIB. Sambil menunggu teman-teman yang belum datang, kami menikmati suasana Dam Way Sabu yang di sisi lain juga menjadi tempat wisata warga sekitar, meskipun pagi itu tidak terlalu ramai.
Setelah berkumpul dan sarapan sederhana berupa kue serta roti, kami berdiskusi dan memutuskan untuk mempersingkat waktu dengan naik ojek gunung menuju kampung terakhir. Ongkos ojek sebesar Rp50.000 per orang sekali jalan. Sebenarnya mereka bukan tukang ojek khusus, melainkan warga kampung yang membantu mengantar sambil menuju kebun. Di beberapa motor terdapat “ombyok” atau keranjang yang biasa digunakan untuk mengangkut hasil panen kebun.
Naik ojek gunung memiliki tantangan tersendiri dan membutuhkan keberanian ekstra. Jalannya memang sudah dicor semen, tetapi lebarnya hanya sekitar 50 cm. Sebagian jalur berlumut dan basah sehingga cukup mengkhawatirkan apabila keseimbangan terganggu karena bisa terpeleset dan jatuh. Namun, para pengendara yang sudah terbiasa melewati jalur ini cukup membantu mengurangi rasa khawatir tersebut.
Pagi itu langit diselimuti mendung dan sesekali turun rintik hujan. Menurut keterangan warga setempat, kondisi seperti ini memang cukup biasa terjadi. Karena hanya ada delapan pengendara ojek, sebagian rombongan harus menunggu giliran dijemput.
Sesampainya di kampung terakhir, sambil menunggu teman-teman lain tiba, kami berbincang dengan beberapa warga yang tinggal di tempat tersebut. Kampung kecil itu menjadi tempat transit atau beristirahat bagi warga yang pergi dan pulang dari kebun. Hal pertama yang kami tanyakan adalah kondisi terbaru Air Terjun Lubuk Law. Informasi seperti ini penting demi keselamatan pengunjung.
Kami sudah beberapa kali mengunjungi Air Terjun Lubuk Law dalam kondisi yang berbeda-beda. Kali ini kawasan tersebut masih sering diguyur hujan, bahkan sehari sebelumnya hujan turun cukup deras. Pagi itu pun mendung tebal dan gerimis terus membasahi jalur. Warga setempat menyarankan agar selalu memperhatikan tanda-tanda alam, seperti mendung tebal di hulu sungai, perubahan warna air, atau debit air yang meningkat. Jika hal itu terjadi, pengunjung disarankan segera menjauh dari sungai demi keselamatan.
Jalur dari rumah penduduk menuju Air Terjun Lubuk Law melewati kebun warga yang didominasi tanaman kakao, pisang, kopi, serta sebagian pinang dan duku. Jalurnya menanjak dan basah, beberapa bagian melewati tepian Sungai Way Sabu serta pondok-pondok kebun milik warga.
Kami tiba di sebuah pondok tepat di pinggir jalur. Dari titik ini perjalanan dilanjutkan melalui jalan setapak yang menurun. Tidak ada penanda khusus atau petunjuk arah yang jelas menuju Air Terjun Lubuk Law. Karena itu, bagi pemula sebaiknya meminta pendamping warga setempat.
Jalan setapak tersebut cukup samar karena jarang dilewati. Bahkan ada pohon besar tumbang yang menutupi jalur sehingga sempat membingungkan kami. Setelah itu kami tiba di tepian sungai. Kondisinya pun berbeda dari kunjungan sebelumnya. Biasanya setelah melewati hutan kami bisa langsung turun ke sungai, tetapi kali ini sebagian tepian sudah tergerus banjir seperti yang diceritakan warga setempat.
Perjalanan dilanjutkan menyusuri hutan di pinggir sungai dengan kondisi jalur berbatu, berlumut, dan licin. Beberapa teman sempat terpeleset. Hingga akhirnya kami tiba di ujung jalur setapak dan bertemu sebuah batu besar yang tinggi. Dari titik ini kami harus turun ke sungai. Biasanya area tersebut berupa daratan berbatu, namun kini sebagian telah terendam air, kemungkinan akibat tergerus banjir.
Kami berhenti sejenak untuk menyusun strategi menyeberangi sungai yang arusnya cukup deras dan dalam. Para laki-laki turun lebih dulu dan saling berpegangan tangan. Tas serta perlengkapan dipindahkan secara estafet agar tidak basah saat menyeberang. Setelah semua barang berhasil dipindahkan, kami bergandengan tangan membantu teman-teman perempuan menyeberang. Di titik ini kerja sama menjadi sangat penting karena menyeberang sendirian cukup berisiko terbawa arus.
Setelah berhasil menyeberang, tantangan belum berakhir. Masih ada batu besar yang sangat licin dan harus dilewati tanpa pilihan lain. Kami kembali saling membantu dan berpegangan agar bisa melewatinya dengan aman. Area ini cukup berbahaya. Jika terpeleset, seseorang bisa jatuh ke air, membentur batu, atau bahkan terjepit di sela-sela batu besar.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menyusuri pinggiran sungai yang dipenuhi batu-batu licin. Kami tetap harus waspada dan beberapa kali saling membantu agar tidak terpeleset. Meski jalurnya cukup berat dan berisiko, kesegaran air, pemandangan pepohonan, serta tebing batu yang indah menjadi penguat perjalanan ini.
Akhirnya kami tiba di Air Terjun Lubuk Law, tujuan utama perjalanan kami. Suara gemuruh air terjun terdengar sangat meyakinkan, seolah mengingatkan bahwa alam menyimpan kekuatan yang harus dihargai dan dihormati. Tingginya memang hanya sekitar 25 meter, tetapi debit airnya cukup besar sehingga tetap perlu diwaspadai dan tidak boleh diremehkan.
Nama “lubuk” dalam bahasa lokal berarti bagian sungai yang dalam. Di Lubuk Law terdapat cekungan alami yang tenang di beberapa sisi, namun memiliki arus kuat di bagian tertentu. Karena itu, pengunjung harus selalu berhati-hati saat berada di lokasi ini.
Cuaca mendung dan gerimis yang terus turun membuat kami semakin waspada. Kali ini air sungai tampak agak keruh, berbeda dengan saat musim kemarau ketika airnya sangat jernih. Pada kunjungan sebelumnya kami masih bisa mendekat hingga ke bawah air terjun, namun kali ini kami membatasi diri hanya di area yang dirasa cukup aman untuk berendam dan berenang.
Di beberapa bagian biasanya terdapat batu datar yang bisa digunakan untuk meletakkan tripod ponsel saat mengambil foto atau video. Namun kali ini batu-batu tersebut sudah tidak terlihat lagi, kemungkinan tersapu banjir sebelumnya. Artinya, beberapa area yang biasa digunakan untuk berenang kemungkinan kini menjadi lebih dalam. Menurut informasi warga setempat, kedalaman lubuk di beberapa titik pernah diukur mencapai sekitar 8 meter. Kondisi ini tentu berbahaya, apalagi jika terdapat pusaran air.
Untuk berkunjung ke Air Terjun Lubuk Law, pengunjung sebaiknya membawa bekal yang cukup, baik air minum maupun makanan berat seperti nasi bungkus. Perjalanan yang panjang, rasa lelah, dan udara dingin membuat tubuh cepat lapar. Kami membawa cukup banyak bekal makanan dengan lauk yang bervariasi, bahkan membawa kompor portable untuk membuat kopi. Perbekalan memang menjadi salah satu prioritas penting saat berkunjung ke tempat ini.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.35 WIB. Saatnya kami kembali pulang. Setelah berkemas dan mengambil beberapa foto dokumentasi, kami kembali melewati jalur yang sama. Jalan pulang pun tetap menantang: batu licin, jalur sempit, dan medan yang mengharuskan kami terus saling membantu.
Kami kembali tiba di batu besar yang cukup sulit dilewati. Bagi sebagian orang mungkin tampak mudah, tetapi bagi sebagian lainnya cukup menegangkan dan membutuhkan bantuan teman. Sedikit saja kehilangan keseimbangan, risikonya bisa jatuh, membentur batu, atau terjepit di sela-sela bebatuan. Karena itu perjalanan harus dilakukan dengan hati-hati, pelan tetapi pasti.
Sama seperti saat berangkat, proses menyeberang sungai saat pulang pun dilakukan dengan kerja sama. Para laki-laki kembali bergandengan tangan membentuk estafet untuk memindahkan tas dan perlengkapan, lalu membantu teman-teman perempuan menyeberang.
Perjalanan dilanjutkan menyusuri hutan di pinggir sungai. Jalurnya tetap licin dengan batu-batu yang mudah lepas. Di satu titik yang cukup mengecoh, beberapa teman sempat berjalan lurus, padahal jalur yang benar harus belok ke kiri.
Cuaca yang tetap mendung, pakaian dan sepatu yang basah membuat salah satu teman mengalami kram kaki. Kami berhenti sejenak untuk beristirahat, memberinya minyak kayu putih, lalu melanjutkan perjalanan kembali.
Saat tiba di kampung, waktu menunjukkan pukul 14.10 WIB. Kami beristirahat sejenak sambil berbincang dengan beberapa warga. Sebagian teman kembali menggunakan ojek gunung menuju tempat parkir, sedangkan saya dan beberapa teman lainnya memilih berjalan kaki.
Akhirnya kami kembali berkumpul di area parkir Dam Way Sabu, beristirahat sejenak, lalu pulang menuju Bandar Lampung dengan kendaraan masing-masing.
Perjalanan ke Air Terjun Lubuk Law
Jarak dari Parkiran Mobil - Air Terjun Lubuk Law
6,51 Km
Perlengkapan Utama
- Sepatu trekking atau sandal gunung antiselip
- Dry bag atau plastik pelindung ponsel dan barang elektronik
- Baju ganti
- Air minum yang cukup
- Makanan berat (nasi bungkus)
- Snack ringan atau makanan penambah energi
- Jas hujan ringan
Perlengkapan Tambahan
- Tongkat trekking
- Topi atau buff
- Obat pribadi
- Power bank
- Senter atau headlamp jika pulang menjelang sore
Untuk Kendaraan
- Pastikan motor atau mobil dalam kondisi baik
- Rem dan ban harus bagus karena jalur bisa licin
- Saat musim hujan, motor lebih fleksibel dibanding mobil
Hal yang Perlu Diperhatikan
- Hindari datang setelah hujan deras
- Jangan berenang di bagian lubuk yang dalam jika arus kuat
- Datang pagi hari lebih aman dan nyaman
- Sebaiknya tidak solo hiking
- Jaga kebersihan dan bawa turun kembali sampah
Cocok Dibawa untuk Dokumentasi
- Action cam atau ponsel tahan air
- Tripod kecil
- Tas kecil yang nyaman untuk trekking
Karakter Jalur
- Trek menuju lokasi melewati hutan, sungai kecil, bebatuan, dan jalan tanah
- Saat musim hujan jalur menjadi licin dan cukup berat, baik untuk kendaraan maupun hiking
- Cocok bagi pecinta petualangan dan eksplorasi alam
Informasi Tempat
- Kategori: wisata alam / air terjun
- Ojek gunung dari Dam Way Sabu ke kampung: Rp50.000 per orang sekali jalan
Catatan Keselamatan
Lubuk Law memiliki arus yang dapat tiba-tiba menjadi deras, terutama setelah hujan di bagian hulu. Pada Juni 2025 pernah terjadi insiden dua wisatawan tenggelam akibat arus kuat dan pusaran air. Karena itu, kewaspadaan dan kesiapan fisik sangat penting sebelum melakukan perjalanan ke tempat ini.
Participant
Lubuk Law, Sabtu, 16 Mei 2026
Anton, Hadi, Sun Hin, Mirza, Arie, Ateng, Lulu, Uwi, Aswin, Piet Hendro, Udin, Cecil, Sunny, Evie