Monday, March 30, 2026

PENDAKIAN GUNUNG PESAWARAN (1662 MDPL)

 Sudah cukup lama tidak naik gunung, rasa rindu untuk kembali mendaki selalu muncul. Dengan perencanaan singkat, kami mempertimbangkan beberapa pilihan gunung yang akan didaki, di antaranya Gunung Betung dan Gunung Ratai yang sebelumnya pernah kami kunjungi. Namun setelah mempertimbangkan waktu dan jarak tempuh, akhirnya kami memutuskan untuk mendaki Gunung Pesawaran.

Gunung Pesawaran merupakan gunung yang berada di wilayah Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, dan termasuk dalam rangkaian Bukit Barisan, dengan ketinggian sekitar ±1.662 mdpl. Gunung ini dikenal memiliki hutan tropis yang masih cukup asri, jalur pendakian yang menantang namun relatif sepi, serta panorama luas ke arah Teluk Lampung. Dari beberapa titik, juga terlihat Gunung Tanggamus di kejauhan. Kondisi tersebut menjadikan Gunung Pesawaran cocok untuk kegiatan hiking, eksplorasi alam, maupun perjalanan reflektif di alam terbuka.

Seperti biasa, sebelum mendaki kami menyusun itinerary. Awalnya berencana mengajak beberapa teman, namun karena berbagai kesibukan, hanya satu orang yang dapat bergabung, yaitu Arya.

Kami berangkat dari rumah sekitar pukul 11.07 WIB melalui Jl. Radin Gunawan (sering disebut jalan baru) melewati pertigaan Tugu Cokelat. Lalu lintas menuju Pringsewu cukup padat, kemungkinan karena masih dalam suasana setelah Idul Fitri, banyak masyarakat yang berkunjung ke sanak saudara maupun tempat wisata, baik menuju Bandar Lampung maupun Pringsewu.

Perjalanan dilanjutkan menuju Gedong Tataan, kemudian berbelok ke arah Kedondong di pertigaan Tugu Pengantin Pesawaran. Arus lalu lintas mulai terurai sehingga perjalanan terasa lebih lancar hingga sampai di Kedondong. Dari pertigaan Indomaret Simpang Ratai, perjalanan dilanjutkan menuju jalan Padang Cermin – Kedondong sekitar 7 km, kemudian terdapat pertigaan ke kanan di dekat Masjid Babussalam, menuju basecamp Gunung Pesawaran. Kami tiba di basecamp sekitar pukul 13.00 WIB.

Di basecamp, kami membongkar carrier untuk mendata barang bawaan yang berpotensi menjadi sampah. Setiap kemasan dihitung secara rinci, misalnya mie instan dihitung menjadi tiga potensi sampah (bungkus, bumbu, minyak), air mineral dua sampah (botol dan tutup), sosis isi tiga dengan satu bungkus dihitung empat sampah, termasuk jas hujan, dan lainnya. Tisu basah tidak diizinkan dibawa karena sulit terurai. Sistem ini menjadi salah satu cara efektif untuk mengurangi sampah di gunung.

Kami makan siang bekal dari rumah di basecamp sebelum kembali merapikan perlengkapan. Selanjutnya dilakukan pencatatan identitas pendaki meliputi nama, alamat, serta kontak yang dapat dihubungi. Biaya registrasi sebesar Rp20.000 per orang dan parkir sepeda motor Rp10.000 per kendaraan. Dari basecamp tersedia ojek menuju pondok ojek dengan biaya sekitar Rp20.000–Rp25.000 per orang.

Kami memutuskan menggunakan ojek karena jalur awal berupa jalan aspal dan beton, sementara cuaca siang hari cukup terik. Berangkat pukul 13.52 WIB dan tiba di pondok ojek di area kebun kakao pukul 14.09 WIB. Keputusan menggunakan ojek terasa tepat karena panas cukup menyengat.

Perjalanan dilanjutkan menuju camping ground melalui kebun kakao. Meskipun melewati area pepohonan, sinar matahari masih cukup terasa. Kami berusaha menjaga kondisi tubuh dengan cukup minum agar terhindar dari dehidrasi. Tanjakan demi tanjakan mulai terasa menguras tenaga.

Pukul 14.32 WIB kami tiba di camping ground. Dari lokasi ini terlihat pemandangan luas. Area ini disiapkan sebagai lokasi mendirikan tenda, namun tampaknya jarang digunakan karena tidak memiliki peneduh sehingga cukup panas pada siang hari. Kami hanya beristirahat sejenak.

Pukul 14.45 WIB perjalanan dilanjutkan menuju pintu rimba, yang dicapai pukul 14.56 WIB. Setelah berfoto dan beristirahat singkat, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 1.

Jalur menuju Pos 1 cukup terjal, dengan bantuan akar pohon dan tali yang dipasang pengelola. Beruntung beberapa hari terakhir tidak hujan sehingga jalur tidak terlalu licin. Pukul 15.06 WIB kami tiba di Pos 1 (Jalur Akar) pada ketinggian sekitar 1.200 mdpl. Setelah berfoto dan istirahat singkat, perjalanan dilanjutkan pukul 15.09 WIB menuju Pos 2.

Jalur menuju Pos 2 tetap menantang, dengan tanjakan curam yang membuat napas cukup terkuras, terlebih dengan beban carrier hampir 20 kg. Beberapa tali membantu pendaki melewati bagian yang cukup sulit. Di perjalanan kami berpapasan dengan beberapa pendaki yang turun dari puncak. Sebagian besar pendaki Gunung Pesawaran memilih sistem tek-tok (naik ke puncak lalu turun kembali pada hari yang sama), sehingga relatif jarang yang berkemah di puncak.

Pukul 15.36 WIB kami tiba di Pos 2 yang dikenal sebagai Jalur Patah Hati, pada ketinggian sekitar 1.300 mdpl. Setelah beristirahat dan makan camilan, perjalanan dilanjutkan. Jalur tetap didominasi tanjakan tanpa bonus trek datar. Vegetasi mulai didominasi pakis dengan beberapa punggungan yang menawarkan panorama luas.

Pukul 17.25 WIB kami tiba di Pos 3 (1.400 mdpl). Setelah istirahat singkat, perjalanan dilanjutkan menuju Pos 4. Tanjakan menuju Pos 4 tetap menantang dan cukup terjal.

Pukul 18.14 WIB kami tiba di Pos 4 pada ketinggian sekitar 1.580 mdpl. Vegetasi kembali didominasi pepohonan tinggi. Dari sisi barat terlihat cahaya matahari terbenam yang menyelinap di antara pepohonan.

Pukul 18.20 WIB kami akhirnya tiba di puncak Gunung Pesawaran (1.662 mdpl). Rasa syukur kami panjatkan karena dapat mencapai puncak dengan selamat. Tidak ada pendaki lain di puncak saat itu, hanya kami bertiga. Sisa-sisa cahaya senja kami abadikan melalui foto dan video.

Kami kemudian mendirikan tenda di lokasi yang cukup strategis, dengan pintu tenda menghadap ke arah timur, sehingga pada malam hari terlihat kerlap-kerlip lampu Kota Bandar Lampung dari kejauhan.

Memasak di puncak gunung memiliki kesan tersendiri. Suasana malam yang sunyi, langit penuh bintang, suara satwa malam, serta pemandangan kota dari kejauhan menghadirkan pengalaman yang sangat berkesan. Bersyukur cuaca cerah tanpa hujan sehingga langit terlihat jernih dan udara tidak terlalu dingin.

Setelah beristirahat, pukul 05.24 WIB cahaya fajar mulai terlihat di ufuk timur di antara awan putih. Momen indah tersebut kami abadikan. Untuk sarapan, kami memasak pisang goreng, ditemani secangkir kopi hangat. Menu dilanjutkan dengan mie instan, kornet, dan telur goreng yang terasa sangat nikmat di tengah suasana alam terbuka.

Kami juga mengabadikan berbagai foto dan video, termasuk menggunakan drone untuk menangkap panorama yang lebih luas.

Berdasarkan pengamatan, Gunung Pesawaran tergolong cukup bersih dari sampah plastik maupun sisa makanan. Tidak terlihat tikus berkeliaran, menandakan tidak banyak sisa makanan yang ditinggalkan pendaki. Aturan membawa kembali sampah ke basecamp terbukti efektif menjaga kebersihan jalur dan puncak. Selain itu, tidak terlihat bekas api unggun yang berpotensi menimbulkan kebakaran hutan.

Pagi itu kami juga ditemui beberapa ekor tupai yang mendekat, kemungkinan mencari makan. Kebetulan kami membawa pisang dan mereka tampak tertarik. Kami juga berpapasan dengan dua pendaki tek-tok yang memulai pendakian sejak subuh.

Setelah cukup mengeksplorasi puncak, kami membongkar tenda dan melakukan packing. Kami memastikan tidak ada barang tertinggal, termasuk sampah. Pukul 09.02 WIB kami mulai turun kembali menuju basecamp.

Medan turun tidak kalah menantang dibanding saat naik. Kontur jalur berupa tanah, akar, dan batu membuat kami tetap berhati-hati agar tidak membebani sendi secara berlebihan. Di perjalanan turun kami bertemu beberapa pendaki, sebagian besar anak muda yang penuh semangat.

Di antara Pos 3 dan Pos 2 kami bertemu sekelompok pendaki. Salah satu di antaranya memutuskan turun karena tidak mampu melanjutkan perjalanan. Prinsip dalam pendakian adalah saling menjaga, terutama mendampingi anggota yang paling membutuhkan, bukan meninggalkannya sendirian.

Kami tiba di Pos 2 pukul 10.49 WIB, beristirahat sejenak sambil menikmati teh hangat dan camilan. Pukul 11.25 WIB perjalanan dilanjutkan bersama dua pendaki perempuan yang memutuskan tidak melanjutkan ke puncak. Kami tiba di Pos 1 pukul 11.49 WIB dan di pintu rimba pukul 11.58 WIB.

Cuaca siang hari terasa cukup panas saat kembali menuju area kebun kakao. Salah satu rekan membawa payung yang cukup membantu mengurangi paparan panas matahari.

Kami sempat membantu seorang pendaki merapikan packing carrier, karena tendanya dibawa dengan cara ditenteng sehingga cukup menyulitkan. Penataan beban yang baik dapat membantu menjaga keseimbangan dan mengurangi kelelahan selama pendakian.

Sesampainya di pondok ojek, saya memilih naik ojek, sementara rekan lainnya berjalan kaki menuju basecamp melalui jalan beton.

Di basecamp, barang bawaan kembali diperiksa untuk memastikan sampah yang dibawa turun sesuai dengan data awal. Setelah beristirahat sejenak, kami bersiap untuk perjalanan pulang.


Catatan dan Evaluasi Basecamp

Berdasarkan pengamatan selama pendakian Gunung Pesawaran:

1. Administrasi & Pencatatan

  • Form registrasi pendaki
  • Pemeriksaan barang bawaan untuk mendata potensi sampah
  • Sistem check-in dan check-out untuk memastikan semua pendaki turun dengan selamat

2. Informasi yang sebaiknya tersedia di basecamp

  • Peta jalur pendakian
  • Informasi jumlah pos
  • Estimasi waktu tempuh
  • Titik air terakhir
  • Rekomendasi lokasi camping
  • Informasi jalur rawan (licin, longsor, simpangan)
  • Fasilitas isi ulang air
  • Tempat sampah organik dan anorganik

3. Keselamatan & Keamanan

  • Nomor kontak basecamp
  • Informasi jalur evakuasi dasar
  • Pengetahuan dasar P3K
  • Daftar nomor penting (BPBD, Basarnas, puskesmas terdekat)

4. Edukasi Etika Pendakian

  • Membawa turun kembali sampah
  • Tidak merusak tanaman
  • Tidak membuat api sembarangan
  • Tidak mengambil flora maupun fauna
  • Menghormati masyarakat sekitar

5. Petunjuk Arah

  • Gapura awal jalur (trailhead)
  • Penanda arah menuju pos-pos pendakian

6. Buku Kesan Pendaki (opsional)

  • Testimoni pendaki
  • Saran perbaikan fasilitas

Motto Pecinta Alam

  1. Jangan ambil apa pun, kecuali foto.
  2. Jangan tinggalkan apa pun, kecuali jejak dan kenangan.
  3. Jangan bunuh apa pun, kecuali waktu.

Bottom of Form