Sunday, April 13, 2014

PEMILU 2014

Pemilu tahun 2014 diadakan 2 kali, tanggal 9 April 2014 Pemilu Legislatif untuk memilih anggota dewan Legistatif dan tanggal 9 Juli 2014 Pemilu Presiden untuk memilih Presiden dan wakil presiden. Kali ini pemilu diikuti oleh 12 Partai nasional dan 3 partai lokal Aceh.
Pemilu Legislatif sudah selesai, tinggal menunggu hasil secara real count, walau secara quick count sudah ada pemenangnya yaitu 1. PDIP, 2. Golkar, 3. Gerinda.
Dibalik suksesnya pemilu 2014, banyak kejadian menarik, lucu, menyebalkan, menyedikan dll. Hakekatnya menjadi anggota dewan yang disebut wakil rakyat adalah sebuah tugas pelayanan kepada kontituen yang diwakilinya, tapi justru sebaliknya aspirasi rakyat tidak didengarkan, malah asyik memikirkan kepentingan golongan bahkan kepentingan pribadi.
Bisa dimengerti, bagaimana proses pemilihan anggota dewan yang  "terhormat" dari pencalonan sampai pemilihan diwarnai dengan ketidakadilan, kecurangan, politik uang, dan hal-hal yang tidak masuk akal (minta bantuan "orang pintar"), sehingga hasilnya pun adalah anggota dewan yang tidak kompeten. Menjadi anggota dewan dianggap sebagai cara untuk mendapatkan kekuasaan yang akhirnya mendapatkan kekayaan. 
Tapi benarkah demikian? Bagaimana usaha caleg untuk mendapatkan kedudukannya harus memberikan barang atau uang untuk menjaring suara dari rakyat (istilah kerennya, money politic). Bukannya artinya suara Tuhan bisa dibeli?.
Banyak modus kecurangan yang dilakukan caleg untuk menggapai ambisinya, salah satunya dengan dana, siapa yang memiliki dana besar dapat memobilisasi masa, dialah pemenangnya. Menjadi sebuah pertanyaan, ketika seseorang ingin menjadi anggota dewan yang nantinya mewakili kontituennya harus membayar orang untuk memilihnya. Bukannya ini menjadi jelas, caleg ini ingin menyampaikan aspirasi kontituennya bila terpilih, atau mencari pekerjaan dan kekuasaan? Karena bagaimanapun juga bila terpilih nanti maka mula-mula mengembalikan modal adalah tujuan pertama. 
Bagaimana bila ternyata caleg tidak mendapatkan kursi yang diharapkannya? Sudah banyak contoh dan kenyataan, caleg harus mengambil kembali uang atau barang yang telah diberikan pada orang itu karena dianggap tidak mencoblos pada saat pemilu. Dan lebih tragis, banyak caleg yang harus kehilangan ingatan karena uang harta bendanya habis tetapi kursi dewan tidak bisa diraihnya.
 

Tuesday, April 08, 2014

TAMAN HUTAN RAYA (TAHURA) WAN ABDUL RACHMAN LAMPUNG

Mendengar cerita dari seorang teman, kalau ada alternatif tempat wisata disekitar Bandarlampung selain pantai adalah Tahura Wan Abdulrachman. Hanya saja dia tidak ingat dimana lokasi sebenarnya, karena sudah beberapa tahun lalu dia kesana, hanya mengatakan lokasinya sekitar pantai Mutun dan Hanura. 
Sabtu 5 April 2014 saya berdua dengan sang istri pergi ke sana. Dengan sebelumnya mencari alamat sebenarnya di internet. Tetapi tidak dijelaskan rute sebenarnya, hanya disebutkan berjarak 12 km dari Bandarlampung arah Hanura.
Dan benar saja kami sempat bertanya kesana kemari pada orang disekitar jalan Pantai Mutun, tidak seorangpun mengenalnya. Tanya melalui beberapa teman yang saya anggap tahupun, ternyata juga tidak tahu dimana lokasinya, bahkan ada yang bertanya balik, "tempat baru ya?"
AKhirnya kami mampir dirumah teman di Hanura (dekat pasar), sebentar berbincang dan bertanya apakah tahu tempat tersebut. Ternyata tahu arahnya tetapi belum pernah kesana. Ok, akhirnya kami melintasi jalan desa sekitar 1 km dari jalan utama Bandarlampung - Hanura (sebelah kanan dari arah Bandarlampung), sekitar 2 km dari jalan masuk Pantai Mutun. Tidak ada petunjuk arah tetapi ada gerbang dan di sampingnya sungai kecil mengalir, adalah jalan yang benar menuju Tahura.
Ada gerbang di dalam lokasi dan tulisan besar di tembok diparkiran begitu kita sampai dilokasi. Setelah parkir dan mengobrol sebentar dengan penjaga, kami lanjutkan perjalanan ke air terjun.  Tiket masuk untuk Rp 3000, Motor Rp 2000, Mobil Rp 3000. 
Tahura Wan Abdulrachman memiliki luas sekitar 22 Ha, secara administrasi pemerintah terletak di Kecamatan Tanjungkarang Barat, Kedondong, Gedong Tataan, Padang Cermin. Pengelolaan dibawah Balai Konservasi Sumber Daya Alam II Tanjungkarang. Topografi bergelombang ringan sampai berat, sebagian datar. Ada 4 gunung yang meliputinya yaitu Gn. Rantai (1.671 mdpl); Gn. Pesawar (661 mdpl), Gn. Betung (1.240 mdpl) dan Gn. Tangkit Ulu Padang Ratu (1.600 mdpl).
 
Melewati beberapa fasilitas yang ada di Tahura, diantaranya lokasi perkemahan, kolam ikan, jembatan dan tempat api unggun bila ada acara tertentu. Juga kami melewati pondok dan rumah kosong tak terawat disepanjang perjalanan, ditutupi pohon-pohon perdu dan rumput liar. Jalan menuju air terjun ternyata sedang longsor sehingga harus melewati jalan lain, menyeberangi sungai kecil aliran dari air terjun. Melewati jalan sedikit menanjak kami sampai pada salah satu air terjun yang cukup bagus dengan batu-batu besar disekitarnya. Sebentar ambil gambar, perjalannya kami lanjutkan ke tempat yang lebih tinggi (air terjun, konon ada 7 buah). Sebenarnya ada gardu pandang yang dibangun, tetapi tidak terawat dan berkarat. Setelah dengan keringat bercucuran, kami berhenti di satu tempat yang cukup enak untuk istirahat, sungai kecil bening dan bersih dengan batu batu besar disekelilingnya. Asik bermain air, membuat pancuran kecil, saat indah masa kecil, dan memperhatikan binatang air yang berenang diatas air yang saya kenal namanya anggang-anggang. 
Setelah cukup beristirahat dan bermain, kami putuskan untuk pulang, karena jam 14.00 wib harus mengantarkan anak les.
Tempat wisata yang cukup menarik bila dikelola secara baik, selain tempatnya yang cukup strategis, jarak tidak terlalu jauh dari kota Bandarlampung dan tentunya alternatif wisata selain pantai yang menjadi pilihan bila berkemah, baik dengan teman maupun keluarga.





BELI AIR ATAU SAMPAH


Tujuan ke Tahura (Taman Hutan Rakyat) Wan Abdul Rahman melewati desa Kemiling, sambil menikmati pedesaan. Ada beberapa rumah dengan taman yang luas, sepertinya milik pengusaha atau penguasa untuk dijadikan villa pribadi. Juga melewati Taman Kupu-kupu Gita Persada, dikaki gunung Betung, mau mampir, tapi tidak jadi karena istriku paling takut sama ulat, hehehe.

 Jalanan menurun dan rusak di sebagian tempat, berbahaya bagi pengendara sepeda motor bila tidak hati-hati. Dan kami melewati sebuah pabrik air minum dalam kemasan (AMDK) yang bagi sebagian orang di Lampung sudah tidak asing lagi produk ini.
Selintas kami berdua mengobrol tentang pabrik ini. Air yang diberikan gratis oleh Tuhan, sekarang harus membeli untuk mendapatkannya. Air sudah tidak selalu bisa didapatkan dengan mudah dan bebas, apalagi untuk minum. Sumber-sumber air sudah dikuasai oleh investor untuk kepentingan pribadi. Akses langsung pada sumber air bersih sudah sulit didapatkan oleh masyarakat.


Bila akses pada sumber air sudah tidak bisa, maka dengan terpaksa masyarakat harus membeli untuk mendapatkannya. Dan bagi sebagian orang menguntungkan karena mendapatkan keuntungan dari penjualan, tetapi bagi lain orang sangat merugikan, karena harus mengeluarkan uang tambahan untuk mendapatkannya.
Bila orang sudah tidak berhubungan langsung dengan sumber air, maka kepedulian terhadap sumber airpun menjadi rendah bahkan tidak ada.
Beruntung kami masih memiliki sumur dibelakang rumah, yang sampai saat ini masih digunakan, baik untuk minum, mandi atau mencuci. Dan ada beberapa pohon keras (klengkeng, jambu jamaika, jambu klutuk merah, jambu kancing, sirsat, salam, gaharu) dan tanaman lainnya (anggur, jeruk pecel) serta tanaman bunga lainnya yang tumbuh disekitar halaman rumah kami yang tidak terlalu luas halamannya.

 
Ilustrasi, apakah kita membeli air kemasan atau sampah :
Harga air kemasan dalam satu drum (umumnya disebut galon) kapasitas 19 liter adalah sekitar Rp 9.000 - Rp 14.000, tergantung merk. Kita ambil harga Rp 9.000/drum , maka  perliter Rp 473 (9000/19), dan Rp 0,473/ ml (474/1000),  maka harga Rp 0,473/ml.


Kemasan botol isi 600 ml biasa dihargai Rp 2.000.
          Rp 0,473 x 600 ml =  Rp 284 / botol,
           Rp 2.000 - Rp 284 = Rp 1.716
           Harga air Rp 284, sedangkan harga botol plastik Rp 1.716


Kemasan Gelas isi 240 ml biasa dihargai Rp 500
         Rp  0,473 x 240 ml = Rp 114 / gelas,
         Rp 500 - Rp 114 = Rp 386
         Harga air Rp 114 sedangkan harga gelas plastik Rp 386.


Bisa dibayangkan bila kita membeli air minum dalam kemasan, berarti kita menghargai sampahnya lebih mahal dari air kemasan itu sendiri.




Monday, November 04, 2013

PELATIHAN WIRAUSAHA


 Ketika kebanyakan buruh dikota besar melakukan demo besar-besaran untuk menuntut UMP tahun 2014 sesuai KHL, kami justru melakukan pelatihan Wirausaha . Pelatihan kali ini diikuti oleh beberapa perwakilan buruh dari Purwokerto, Bandung, Bogor, Jakarta, Tangerang, Serang, Palembang dan Lampung. Pelatihan  Wirausaha, "MENCARI ALTERNATIF USAHA MANDIRI UNTUK BURUH DAN KELUARGA" bertempat di Wisma Albertus Tanjung Karang, Lampung 1-3 November 2013.
Suasana Pelatiahan
Pelatihan yang di motori oleh Forum Pendamping Buruh Nasional (FPBN) Wilayah Barat ini bertujuan untuk memberi alternatif income (pendapatan) bagi buruh atau keluarganya. Dengan melihat situasi perburuhan sekarang ini, buruh perlu dipersiapkan bila hal terburuk terjadi pada buruh (PHK) terjadi pada siapapun.
Banyak hal yang bisa didapat dari pelatihan ini, diantaranya, bagaimana menciptakan peluang usaha, permodalan,  analisa usaha dan yang tidak kalah pentingnya pemasaran serta jaringan.
Add caption
Disampaikan oleh beberapa narasumber yang berpengalaman dibidangnya, diantaranya Kamto dari lembaga Praxis, Saptarini dari Sapta Consultan, FX. Siman dari Koperasi serta Nanang dan Moko yang berbagi pengalaman dalam mendirikan usahanya.


TANJUNG PUTUS (Bagian 2)

Ikan-ikan kecil yang mendekat ketika diberi remah-remah roti
Pemandangan sore hari Tanjung Putus

Air jernih dan nyaman untuk berenang













Menjadi pilihan keluarga bila menginginkan suasana yang sunyi dan tenang untuk refreshing bersama anak-anak berenang, mendayung perahu, memancing atau hanya sekedar memandang alam. Memberi makan ikan dengan remah-remah roti, bisa menjadi hal menarik, karena ikan akan berkumpul berebut makan.


Loncatan kebahagiaan


Berperahu, kegiatan yang
cukup menyenangkan

Berenang dikelilingi ikan-ikan kecil
Kegiatan berenang adalah hal yang paling saya suka di Tanjung Putus, airnya yang jenih dan ikan-ikan kecil yang selalu mendekat, menggodaku untuk berenang, walau kadang-kadang ikan-ikan itu menggigit jari kakiku.
Salah satu sudut pandang
 pantai Tanjung Putus

FESTIVAL KRAKATAU

Gunung Anak Krakatau
Rombongan Duta Besar negara sahabat
FESTIVAL KRAKATAU XXIII Tahun 2013 Festival Krakatau adalah event budaya dan pariwisata tahunan propinsi Lampung. Pentas seni, pawai budaya dan di akhiri dengan tour Gunung Krakatau. Untuk tahun 2013, festival Krakatau dipusatkan di Lampung Selatan, tanggal 18-20 Nopember. Bertema The Mask of United Colours. Sudah lebih dari 10 tahun tinggal di Lampung, tetapi baru kali ini saya berkesempatan untuk mengikuti Festival Krakatau yang sudah 23 tahun diadakan, dan hanya mengikuti Tour Gn. Krakatau yang menurutku lebih menarik. Kali ini Tour Gn Krakatau juga dihadiri oleh 13 Duta besar dan 9 perwakilan kedutaan negara sahabat, diantaranya dari Thailand, Afghanistan, Georgia, Equador, Saudi Arabia.
Kemeriahan diatas kapal Dharma Kencana IX
Dimulai berangkat dari lapangan Korpri Gubernuran, dengan bus AC ,10 bus mulai bergerak sekitar jam 07.00 wib dengan dikawal patroli polisi. Dan sampai di pelabuhan Bakauheni sekitar jam 09.00 wib. Cukup lama kami menunggu rombongan duta besar dikapal roro Dharma Kencana IX yang akan membawa rombongan untuk tour. Dengan pengawalan ketat petugas Polairud dan kapal perang TNI AL, kapal roro mulai bergerak menuju Gn Krakatau dengan kecepatan 10 Knot. Perjalanan cukup lama, sekitar 2,5 jam akhirnya kami sampai di Gn. Krakatau yang sudah tidak terlihat aktif disebelah kiri kapal, dan sebelah kanan jelas kepulan asap Gunung anak Krakatau yang aktif memperlihatkan keperkasaannya. Cukup jauh terpisah antara Gn. Krakatau dengan Gn. Anak Krakatau, bisa dibayangkan ketika tahun 1883 meletus. Salah satu gunung teraktif yang melegenda karena letusannya.
Atraksi dari Nelayan sekitar Gn Krakatau
Atraksi menarik yang disajikan oleh panitia adalah 2 penerbang paralayang yang melayang-layang diatas gn. Anak Krakatau dan diatas kapal roro yang kami tumpangi, serta puluhan perahu nelayan yang mengitari kapal Dharma Kencana IX. Diatas kapal sempat puas mengambil foto-foto yang memang harus saya dapatkan, dan berkenalan dengan salah satu staf kedutaan Equador, namanya Gonsales Vega, ngobrol cukup nyaman dan menyenangkan, serta salah satu dari kedutaan Perancis yang baru beberapa minggu berada di Indonesia, yang merasa senang berada di Indonesia, karena keramahan orangnya. Sekitar 1 jam berada di area Gn.Krakatau, kapal mulai bergerak menuju pelabuhan Merak untuk mengantar para Duta Besar kembali ke Jakarta.

Perjalanan menuju pelabuhan Merak memakan waktu sekitar 3,5 jam, setelah menurunkan para tamu Duta Besar, kapal Dharma Kencana IX bergerak menuju ke pelabuhan Bakauheni, dan sampai sekitar jam 21.00 wib, dan perjalanan dilanjutkan menggunakan bus AC menuju Bandarlampung. Kami tiba kembali di lapangan Korpri Gubernuran sekitar jam 23.00 wib. Perjalanan yang cukup melelahkan, tetapi juga menarik danmenyenangkan


Pengawalan ketat Polairud dan TNI AL
Atraksi Paralayang


Gunung Anak Krakatau yang menakjubkan




Sunday, September 01, 2013

TANJUNG PUTUS Lampung (Bagian 1)

Pasir Putih yang bersih
Fasilitas penginapan









Satu jam perjalanan darat dari kota Bandarlampung dengan mengendarai kendaraan roda empat atau roda dua,  melintasi daerah pesisir menuju pos Marinir di daerah Ketapang Kab. Pesawaran, dilanjutkan dengan naik perahu sekitar satu setengah jam atau speed boat sekitar setengah jam, maka kita sudah sampai di Tanjung Putus. Dalam perjalanan darat kita melewati tempat-tempat wisata laut yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Lampung, Pantai Mutun, Pantai Ringgung dll. Dan tidak kalah menarik ketika naik perahu, kita bisa menikmati pemandangan pantai Klara, serta gugusan pulau di kanan-kiri selama perjalanan laut. Sesekali melewati bagan (semacam bangunan terbuat dari bambu) yang digunakan untuk menagkap ikan, dan akan lebih indah ketika malam hari, karena mereka akan menyalakan lampu petromak untuk menarik perhatian ikan agar masuk ke bagan. Tetapi untuk saat ini sebagian sudah menggunakan listrik (diesel) karena sulitnya mencari minyak tanah sebagai bahan bakar petromak. Dalam perjalanan juga melewati beberapa pulau kecil yang sudah menjadi milik orang-orang kaya yang mampu membeli pulau, juga pantai-pantai pribadi yang mereka sewakan kepada siapapun yang mau liburan dengan imbalan rupiah. Dan disekitar teluk juga ada sisa-sisa tempat budidaya mutiara, yang dulunya banyak pengusaha Jepang yang mengusahakannya.

Pemandangan dan airnya yang jernih

Karena letaknya diantara gugusan pulau, ombak di Tanjung Putus tidak begitu besar. Airnya Jernih, sehingga ikan-ikan dipinggir pantai bisa kelihatan, pasir putihnya bersih dan karangnya begitu terpelihara. Oleh pengelola memang tidak boleh memancing di area 100 meter dari bibir pantai, sehingga ikan-ikan dipinggir seperti akrab menyambut pengunjung.

Saturday, January 26, 2013

RANSEL (Bagiant 2)

Holy Rosary Church
Central Market
Menu makan siang

24 Desember 2012, mendung menyelimuti udara Kuala Lumpur, tetapi niat untuk jalan-jalan tidak bisa dihalangi, dengan naik Bus Rapit KL dari Sungai Way, Seri Setia menuju KL Central seharga RM 2. Hari ini kami berencana survey Gereja yang akan kami kunjungi saat perayaan Natal esok hari, Central Market dan Twin Tower Petronas. Tidak terlalu sulit menemukan Gereja Katolik yang memang sebelumnya kami browsing internet, turun di KL Central, jalan kaki beberapa meter kami sudah sampai di sebuah Gereja yang dibangun tahun 1903, Gereja Holy Rosary. Dengan jalan kaki, perjalanan dilanjutkan ke Central Market, salah satu pusat souvenir yang dibangun tahun 1888. Banyak wisatawan lokal maupun asing yang
menempatkan Central Market menjadi salah satu tujuan wisata mereka.
Tiketing Train
Pusat informasi yang ada disini juga cukup lengkap, peta bisa diminta gratis, peta kota Kuala Lumpur, peta transportasi. Sebagai salah satu pusat souvenir di Kuala Lumpur, banyak yang bisa diperoleh disini,  mulai dari ukiran, kerajinan tangan, kaos, lukisan, sampai gantungan kunci, perlu lebih teliti dan rajin menawar untuk mendapatkan harga yang murah.Tak terasa berkeliling Central Market, perut terasa lapar, kami menemukan restoran Indonesia Es Teller 77.
Pusat informasi Central Market
Twin towers Petronas

Setelah puas "ngubek-ngubek" Central Market, perjalanan dilanjutkan ke terminal Puduraya dengan berjalan kaki sekitar 20 menit untuk memesan tiket bus tujuan Hatyai Thailand. Terminal untuk tujuan luar kota yang cukup nyaman, bersih. Kami mendapatkan tiket ke Hatyai seharga @ Rm 50 dengan bus Alisan untuk keberangkatan tanggal 25 Desember 2012. Perjalanan kami lanjutkan menuju Twin Tower Petronas. Tower yang menjadi maskot Kuala Lumpur ini bisa di jangkau dengan Train Kelana Jaya (Putra) Line dari KL Central turun di KLCC,berjalan kaki 5 menit menuju Twin Towers. Twin Towers dibangun Tahun 1998 oleh arsitek Cesar Pelli, dengan ketinggian 452 meter yang terdiri dari 88 lantai. Di lantai 41 dan 42 ada sky bridge.
Twin Towers Petronas

Thursday, January 17, 2013

RANSEL (Bagian 1)

Bandara Radin Intan II Lampung
Minggu, 23 Desember 2012  Lampung diguyur hujan. Kami (Hendro, Yuli, Albert, Bernard) memulai perjalanan Backpacker traveling / Ransel Traveling. Harus bergegas mandi, sarapan dan berangkat dengan diantar teman (Om Iwan) menuju bandara, karena jadwal penerbangan ke Jakarta jam 07.30 wib dengan pesawat Lion Air. Boarding pass, tunggu sebentar sudah harus masuk pesawat. Tidak lupa mulai narsis di depan plang nama Bandara Radin Intan II Lampung. Landing jam 07.25 wib di bandara Sukarno Hatta, dilanjutkan naik shuttle bus menuju terminal keberangkatan Internasional, terminal 2D. Mau langsung check in loket belum buka dan akan buka jam 09.00 wib. Akhirnya kami sarapan dulu di restoran siap saji AW.
Sarapan di restoran siap saji AW
Pemeriksaan Imigrasi
Setelah sarapan kami boarding dengan membayar airport tax international @ Rp. 150.000, selanjutnya kami menuju ke pemeriksaan imigrasi, tanpa ada kendala kami bisa melewatinya dengan baik. Jadwal penerbangan jam 11.30 wib kami harus menunggu cukup lama, Albert bahkan sampai ketiduran di kursi tunggu. Jam 11.30 wib  masuk pesawat Lion Air Boing 737-900 ER di seat 32 BCDE. Di pesawat sempat berkenalan dengan ibu Emy dari Jakarta, yang menjadi TKW di Langkawi dan sudah bekerja 15 tahun.
Ketiduran menunggu penerbangan
Landing di Kuala Lumpur International Airport (KLIA), disambut hujan yang sangat deras dan petir yang terus menyambar. Dengan segala perhatian mencari petunjuk arah keluar bandara yang sebelumnya harus check di Imigrasi yang antriannya cukup panjang, dan sekali lagi akhirnya kami bisa melewati imigrasi Malaysia dengan baik. Dan secara resmi kami  masuk wilayah negara Malaysia.
Bandara KLIA
Keluar bandara, kami makan di restoran yang menyajikan makanan cukup bersahabat dengan lidah kami, nasi Briyani, nasi goreng dan nasi lemak. Setelah makan, kami membeli sim card (Hotlink) seharga Rm 15 dan pulsa Rm 10, agar komunikasi dengan saudara yang akan kami tuju bisa dilakukan tanpa takut kena rooming international bila menggunakan sim card Telkomsel. Kemudian perjalanan dilanjutkan naik bus ke KL Central @ Rm 8. Dari KL Central naik taksi ke Sungai Way tempat kami menginap di rumah saudara.

Thursday, December 20, 2012

BERSIAP "BACKPACKERAN"

Sudah beberapa bulan kami (aku, istriku Yuli, Anakku Albert, Bernard) merancang untuk liburan yang tidak biasanya. Dibilang tidak biasa, karena setiap tahun  di bulan Desember selalu pulang kampung ke Jawa Timur, tetapi kali ini kami berencana untuk keliling dunia (istilah kerennya), dimulai kedua negara tetangga, Malaysia dan Thailand. Dengan pertimbangan pertama kali kami bertiga (Aku, Albert, Bernard) keluar negeri, dan tentunya budget yang harus dihitung secara bijak. Untuk Yuli sudah sekian kalinya keluar negeri, jadi sudah tidak asing lagi dengan istilah-istilah passport, Visa, imigrasi dll.
Beberapa hal yang musti kami siapkan :
a. Passport
Ada satu artikel yang cukup mengelitikku. Pada satu kesempatan seorang dosen UI bertanya kepada mahasiswanya "Siapa yang pernah naik pesawat terbang?". Hampir 90 % mahasiswa menjawab pernah. "Siapa yang punya passport ?", lanjut sang dosen. Hanya 10 % kurang yang menjawab punya. "Bagaimana kalian mau melihat dunia kalau tidak punya passport". Artinya dengan memiliki passport kita diajak untuk bermimpi terbang lebih jauh lagi melihat dunia ini. Hal ini mengilhami kami untuk membuat passport walau kami belum tahu kapan kami akan keluar negeri. Yuli sudah memiliki passport, selanjutnya aku, dan beberapa bulan kemudian kedua anakku. Ternyata membuat passport tidak serumit yang kubayangkan. Datang, beli map seharga Rp 15.000, duduk sambil mengisi formulir yang tersedia, dengan sebelumnya siapkan materai Rp 6.000, foto copy KTP, Kartu keluarga. Selanjutnya akan dipanggil untuk menyerahkan dokumen termasuk KTP dan Kartu Keluaraga asli untuk diperiksa  dan membayar administrasi sebesar Rp 225.000. Selanjutnya akan diberikan bukti setor untuk dipakai proses selanjutnya yaitu foto yang biasanya 2 - 3 hari kemudian.
Langkah selanjutnya adalah wawancara (biasanya ditanya, mau kemana, wisata apa kerja dll), baru kemudian foto. Passport bisa diambil keesokan harinya.
b. Tiket
Untuk tiket, kami harus rajin-rajin surfing di internet mencari penerbangan promo ke negara tujuan. Pertama kami mendapatkan tiket promo Lion Air untuk penerbangan ke Kuala Lumpur @ Rp. 399.000. Selanjutnya kami harus mencari untuk penerbangan pulangnya, dan kami dapat dengan harga lebih murah @ Rp. 375.000 yaitu tiket Tiger airways dengan pesawat Mandala. Bisa juga minta bantuan agen tour & travel dengan konsekuensi akan ada biaya tambahan.
c. Data Negara Tujuan
Cari data-data penting negara tujuan, diantaranya tempat wisata yang menarik serta cara mencapainya (kereta api, bus, angkot dll), alamat dan no telephone keduataan besar Indonesia, kurs mata uang, peta, hotel, motel, makanan, tempat belanja murah, cuaca, aturan-aturan (boleh atau tidak).
d. Mental
Melakukan perjalanan ke luar negeri memerlukan persiapan mental yang baik, apalagi untuk pertama kali, karena banyak  kendala yang akan ditemui. Kebiasaan, budaya, makanan, cuaca, dan yang jelas bahasa.










































Sunday, December 09, 2012

SAYA MAU NYUMBANG, TETAPI PADA ORANG YANG TEPAT

"Saya sebetulnya mau berderma tetapi saya tidak tahu kemana dan kepada siapa?". "Kan banyak badan atau lembaga yang bisa menyalurkannya?", jawabku. "Wah, lebih baik saya ndag nyumbang dari pada lewat mereka, pasti disunat atau bahkan tidak nyampek pada yang berhak".
Demikian salah satu ungkapan seorang pengusaha kepadaku, pada satu kesempatan. Bukan rahasia lagi bagi orang Indonesia, ketika ada bencana atau kejadian yang memerlukan bantuan, banyak orang yang punya "hati" untuk membantu meringankan beban mereka yang tertimpa musibah, dengan menyumbangkan berbagai macam barang kebutuhan pokok (beras, gula, makanan instans dll), kebutuhan sandang (baju, selimut, dll), kebutuhan papan (semen, dll), atau bahkan uang. Tetapi jujur saja, berapa persen yang benar-benar sampai pada yang berhak. Kesempatan dalam kesempitan, itu kata-kata yang sering kita dengar, benar-benar dimanfaatkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab, tidak punya "hati" mengambil kesempatan ini sebagai peluang memperkaya diri.
Hal inilah yang merisaukan mereka yang punya "hati", bagaimana mereka bisa menderma tetapi pada orang yang benar-benar memerlukan, orang tepat.
Ada cerita seorang teman yang " kejatuhan bintang". Ketika suatu hari didatangi orang bule, yang mengaku dari negeri kincir angin, Belanda. Dia menawarkan membelikan beberapa barang yang dibutuhkan ditempat tersebut, yang kebetulan tersebut adalah sekolah pariwisata. Teman tersebut diajak keliling toko dan membelikan beberapa barang yang memang dibutuhkan, ketika bilang membutuhkan Notebook 2 buah, dia belikan 5 buah, ketika bilang minta 3 set PC, dibelikan 8 set PC dan seterusnya. Setelah ditotal diperkirakan senilai 100 Juta Rupiah.
Menjadi heran ketika ditelusuri, kenapa dia mau menyumbang sedemikian besar tanpa ada timbal balik atau maksud tertentu. Dalam pikiran temanku tadi, "mungkin" sipemberi tadi punya "history" dengan Indonesia sehingga mencari cara untuk membantu orang Indonesia yang secara umum masih berada dalam kemiskinan.
Dan memang benar, setelah disimpulkan dari pembicaraan selama ini, bahwasannya dia ingin membantu orang Indonesia tetapi tidak mau lewat lembaga resmi atau lembaga lain, karena dia tahu persis bantuan itu tak akan pernah sampai pada yang berhak bila lewat lembaga tadi. Datang dan langsung bertemu dengan orang yang memang dia ingin bantu itu cara yang paling tepat.

ASIA PULP & PAPER CSR FORUM 2012

CSR Forum 2012
Bertempat di Hotel Raden Wijaya, Mojokerto Jawa Timur 28 - 29 November 2012 APP (Asia Pulp & Paper) mengadakan Forum CSR (Company Social Responsibility). Acara ini dihadiri dari beberapa perwakilan perusahaan dibawah Sinar Mas Group yang berlokasi di Riau, Jambi, Palembang, Lampung,Serang, Serpong, Tangerang, Cikarang, Bandung, Semarang, Surabaya, Mojokerto dan Malang serta dari team CAC, SSE dan PO Jakarta. Menjadi kewajiban bagi perusahaan untuk berbagi dengan masyarakat lingkungan perusahaan pada khususnya dan lingkungan yang lebih luas pada umumnya, untuk lebih peduli terhadap sesama maupun lingkungan hidup. Sadar atau tidak keberadaan sebuah perusahaan memiliki ekses positif maupun negatif terhadap lingkungan maupun manusia (sosial, kesehatan, budaya, keamanan, ekonomi). Kelangsungan sebuah perusahaan tidak terlepas dari usaha untuk selalu peduli terhadap sesama dan lingkungan. 
Hal inilah yang mendorong APP untuk mengadakan forum CSR antar perusahaan, demi menggali pengalaman-pengalaman perusahaan yang sudah melakukan kegiatan CSR di tempatnya masing-masing. Mengkaji apakah CSR yang dilakukan sudah efektif , sudah tepat sasaran, dan mempunyai dampak positif terhadap lingkungan dan masyarakat. 
Banyak hal yang telah dilakukan oleh beberapa perusahaan, diantaranya Rumah Pintar (Rumpin), di mana di rumpin disiapkan fasilitas internet, arena bermain, buku bacaan dll, serta relawan yang setia menemani pengunjung yang sebagian besar anak-anak sekolah. Siapapun boleh berkunjung dan menggunakan fasilitas rumpin dengan gratis. Pembagian buku tulis gratis juga menjadi agenda tersendiri dari CSR APP.

Friday, December 07, 2012

TUA

"Umurmu berapa?" "Dua puluh, tiga puluh, empat puluh, lima puluh tahun". Itu jawaban yang kita berikan bila orang bertanya. "Umurku sudah kepala 4 (umur 40 tahun keatas), ternyata aku sudah tua". Sadar atau tidak, ketika umur kita sudah semakin bertambah, kita merasa semakin tua.Tua atau tidak, tergantung dari pemikiran kita, bukan tentang jumlah tetapi tentang psikis, tentang rasa, perasaan. Ketika bilang kita semakin tua, berarti kita bicara tentang jumlah umur, dan itu yang membuat kondisi badan / fisik  juga jadi tua. Tua akan timbul bila pikiran (mindset) kita bicara tentang jumlah umur yang telah dilalui dari lahir hingga sekarang, dan akan semakin bertambah detik-demi detik, hari demi hari.

Bedakan bila ada orang/seseorang yang sudah berumur 40 tahun dipanggil bapak, mas, om, pakde, paman atau bahkan dipanggil kakek. Mana yang lebih (kelihatan) tua secara fisik. Panggilan secara langsung atau tidak telah memberikan mindset secara fisik tua. Ada orang yang senang dipanggil bapak, tetapi juga ada yang senang dipanggil mas dengan umur yang sama, atau bahkan dipanggil namanya langsung oleh orang yang lebih muda. "Pak Hendro, mas Hendro, Hendro". Pak, Mas, Om, Pakde, Kakek adalah panggilan karena status, bukan karena melulu umur yang lebih tua (jumlah umur).
Menghitung jumlah umur akan membuat kita merasa tua, sebaliknya ketika kita tidak menghitung jumlah umur maka kita tidak akan merasa tua. Tidak menghitungpun jumlah umur akan selalu bertambah, biarkan jumlah itu terus bertambah tanpa kita pikirkan dan pendam dalam mindset kita.