Tuesday, January 30, 2018

PERJALANAN 4 ( SENDURO - LUMAJANG - KEBUN WETAN)



Panen Salak


Durian, yang mulai membesar
Menikmati suasana rumah yang masih dikelilingi kebun (Salak, Duren, kopi) memang sangat menyenangkan, dengan udaranya yang sejuk dingin. Dan Pura Mandara Giri Semeru Agung yang megah di depan rumah juga memberikan kesan religi dan damai.
Kegiatan kali ini, bercengkerama dengan keluarga besar, dan panen salak yang kebetulan sudah waktunya panen. Sore hari kami bersama ke kebun “Wetan” (Kebun kopi, pisang, kelapa, cengkeh, duren), membuat api unggun untuk mengusir nyamuk, mengambil degan (kelapa muda) dan menikmatinya menjadi pengalaman tersendiri bagi kami, anak dan keponakan.
Beberapa pohon yang ada dikebun kami roboh/tumbang setelah beberapa hari sebelumnya di terjang siklon Dahlia. Setelah siklon tropis Cempaka terpantau menjauhi wilayah Indonesia, kini muncul siklon tropis Dahlia. Siklon tropis tersebut menyebabkan perubahan cuaca yang ekstrem seperti hujan deras dan angin kencang.  Pohon duren, pohon cengkeh yang sudah berumur 30 tahun lebih tumbang oleh siklon ini. Tidak hanya di kebun kami, tetapi hampir semua wilayah yang dilewati siklon ini mengalami hal yang sama. Pohon albasia yang menjadi andalan wilayah kami juga tidak lepas dari bencana ini, patah, tumbang, roboh. Bahkan pondok yang kami dirikan di kebun juga roboh.

Pondok yang sebagian roboh
Sebagian team
Tapi ini tidak membuat kegembiraan kami berkurang, kebahagiaan kami tetap tumbuh seiring tumbuhnya anak anak, keponakan kami. Tetap menikmati kebersamaan untuk menikmati kelapa muda, hangatnya api unggun, dan gigitan nyamuk (hahahahaha.....).
Mengajak anak-anak ke kebun membuat mereka menjadi lebih mengenal alam, lingkungan yang lain dari kesehariannya. Lebih mengenalkan pada mereka, tumbuhan cengkeh, kopi, pisang, kelapa, pete, duren dll. 
Dan antusias mereka untuk memetik kelapa muda sendiri yang kebetulan tidak terlalu tinggi, serta coba untuk membelahnya dengan caranya sendiri.

Saturday, January 27, 2018

PERJALANAN 3 ( PROBOLINGGO )



Perjalanan ke Lumajang dari Malang, kami lewat jalur utara (Malang, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang), walau sebenarnya agak malas lewat jalur ini karena dipastikan jalanan macet dan banyak kendaraan besar (truk, bus), tetapi karena ada janji dengan kakak sepupu dari Pasuruan dan dari Probolinggo maka ya sudah, harus lewat jalur ini. Benar saja Blimbing, Singosari, Lawang jalanan padat merayap. Tetapi setelah Purwosari karena sudah terpisah jalur Surabaya dan Pasuruan, maka jalanan lancar. Sampai di tempat janjian (Sari Kuring Probolinggo) kami harus menunggu kakak sepupu yang dari Krucil, sebuah desa dikaki gunung Argopuro yang indah (cek ke mbah google) sambil makan kenyang sambil ngantuk. Menyenangkan bisa bertemu dengan saudara, apalagi ketemu Gista (kakak sepupu punya anak, anaknya punya anak, namanya Gista) hehehe… jadi kalau manggil aku Embah ( yaaa….dipanggil embah, hehehehe). Lucu dan ternyata mau aku gendong walau belum pernah ketemu sebelumnya, rayuannya ………diajak naik odong odong di alun alun Probolinggo dan makan bakso stasiun. Karena semakin malam, maka kami lanjutkan perjalanan ke Lumajang dan berhenti sebentar di Leces untuk membeli mangga arummanis, yang harganya sanagat muarah karena sedang musim mangga. Dan sampai di rumah sekitar jam 23.00 wib.

Thursday, January 25, 2018

PERJALANAN 2 ( KEDIRI - MALANG )


Bunga yang bisa dibeli di Dewi Sri



Kali ini tujuan kami ke Lumajang, karena ada saudara yang juga tinggal di Malang, maka kami putuskan untuk menginap semalam di Malang. Perjalanan melalui jalur Kediri – Pare – Batu – Malang. Jalur ini sangat menarik karena di kanan kiri perjalanan pemandangan alam bisa dinikmati, walau jalan berbelok belok, dan mesti berhati hati. Masuk di daerah Pujon, kami berhenti di Dewi Sri, tempat wisata pemandian dan tempat jualan sayur, buah maupun bunga segar. Bagi para pelintas jalan ini, sayang kalau dilewatkan, karena harganya cukup murah untuk belanja keperluan dapur. Perjalanan dilanjutkan ke arah kota Batu, sebenarnya bisa juga mampir ke Air terjun Coban Rondo (sekitar 2 km) tetapi kali ini kami merelakan untuk tidak mampir.
Sayuran yang bisa dibeli di Dewi SRi
Mengenang masa kuliah, kami berhenti di Payung (istilah tempat istirahat di puncak kota Batu) untuk menikmati sate ayam dan sate kelinci. Di tempat ini banyak tersedia makanan maupun jajanan, sate kelinci, sate ayam, bakso malang, mie instan maupun jagung bakar. Pada malam Minggu biasanya ramai anak muda yang nongkrong disini dengan melihat pemandangan malam kota Batu. Jalanan berbelok belok dengan pohon Pinus dikiri maupun kanan. Kota Batu menjadi tujuan wisata yang menarik, karena menawarkan tempat wisata yang bervariasi, wisata alam maupun wisata buatan. Siapa yang tidak mengenal Jatim Park 1, Jatim Park 2 dan sekarang dibuka baru Jatim Park 3, Musium Angkut, wisata alam juga ada, air terjun (coban) Rondo, coban Talun, pemandian air panas Cangar, dan masih banyak yang lain.

Pemandangan dari payung
Perjalanan sempat tersendat, macet di daerah Dau, karena ada alat berat (excavator) yang jatuh dari alat angkut (trailer excavator). Sampai dirumah saudara di daerah Sawojajar, kami disuguhi tahu telor khas Malang yang sangat familiar buat lidah kami, sangat uenaak… Sebetulnya kami menunggu tukang bakso lewat, tetapi kali ini tidak lewat karena sudah larut malam.





Menikmati Sate kelinci

Tuesday, January 23, 2018

PERJALANAN 1 ( LAMPUNG - KEDIRI )

Bus Puspa Jaya

Mendengar kata liburan bagiku sangat menyenangkan. Musim liburan sekolah telah tiba, cukup lama dari tanggal 18 Des 17 – 4 Jan 18 dan aku sendiri cuti tgl 27-29 Des 17, karena ada hari Sabtu dan Minggu serta libur bersama maka aku off kerja 11 hari. Kali ini kami berempat (Hendro, Yuli, Albert, Bernard) liburan ke Jawa Timur karena kebetulan ada acara keluarga di Kediri dan Lumajang. Sempat agak panik, karena tiket Kereta api sudah full booking, pesawat harga tinggi, Bus juga sudah full booking. Walau akhirnya dapat bus Vip PO. Harga Tiket Rp 390.000 per orang. Puspa Jaya dengan tidak ada pilihan tempat duduk. Persiapan bekal makanan berat maupun ringan telah disiapkan untuk diperjalanan, karena pengalaman, bus tidak bisa berhenti ditempat makan meskipun sudah jam makan. Perjalanan dimulai dari pool Puspa Jaya di jalan Sukarno Hatta, jam 16.30 wib terlambat 30 menit dari jadwal. Perjalanan sampai penyeberangan Bakauheni, Merak lancar, hanya ketika sampai di Merak agak ngeselin, karena harus lewat jalur umum tidak lewat toll karena harus mencari minimarket untuk top up e-money sebagai alat pembayaran toll.
Pemandangan dalam perjalaban
Perjalanan lancar, sampai akhirnya di tol Kebon Jeruk tersendat, dan jalanan mulai padat di tol Cikampek. Macet juga terjadi di Pekalongan, Semarang, Salatiga dan di Caruban. Biasanya samapai di Kediri jam 17.00 wib, kali ini sampai jam 05.00 wib terlambat 12 jam.

Hari pertama (24 Desember 2017) di Kediri istirahat, sore ke Gereja untuk mengikuti Misa malam Natal. Dilanjutkan reuni keluarga besar Mbah Sodi, dari Kediri, Lampung, Surabaya, Malang. Menyenangkan bersama keluarga besar, berbagi cerita, hadiah, makan bersama, bergurau bersama sambil merencanakan rencana reuni rutin yang akan dilaksanakan sekali setahun. Kegembiraan berlangsung sampai jam 23.00 wib.

Monday, November 27, 2017

Awal dari Kehidupan

RIP VJ. SOELIHAM
Mendengar kata "mati, wafat, meninggal" pasti ada kesedihan yang menyertainya. Manusiawi sekali, kesedihan akan muncul ketika ditinggal orang yang dicintainya. Kebersamaan yang selama ini berlangsung akan secara jasmani terputus tak tersambung lagi. Tidak untuk menyentuhnya, tidak untuk berbicara, tidak untuk berinteraksi langsung, semua itu tdak lagi bisa dilakukan. Dan kematian itu memisahkan kebersamaan.
Proses kematian menjadi menakutkan bagi sebgaian orang dan sebaliknya menjadi proses yang indah bagi sebagian orang. Filipi 1:21 Karena bagiku hidup adalah Kristus   dan mati adalah keuntungan.
Ditinggalkan orang yang dikasihi memang sangat menyedihkan, kehilangan memang sangat menyakitkan.
Ingat ketika aku mestinya pulang ke rumah setelah hampir sebulan tidak pulang, di "kost"an di Malang dan memilih untuk ikut ke rumah salah satu teman di Jember. Sampai suatu saat aku mendapat khabar dari kerabatku kalau ibu ku masuk rumah sakit dan menyuruhku untuk segera pulang ke Nganjuk. Dan beberapa menit kemudian sebelum aku berangkat, mendapat khabar agar jangan ke Nganjuk tetapi ke Lumajang saja. Disini aku sudah punya firasat, ibuku sudah meninggal. Dimana sebelumnya aku harus ke Nganjuk tetapi beberapa menit kemudian diminta ke Lumajang saja. Itu terjadi sekitar bulan November 1993.
Peristiwa kedua yang sangat menyedihkan ketika beberapa tahun lalu sekitar bulan Maret 2010, kakakku harus masuk rumah sakit dan akhirnya Tuhan memanggilnya.
Kembali kesedihan manusiawi menghampiriku, Bapakku yang selama ini kulihat sehat, tegar harus beberapa kali masuk rumah sakit, harus operasi di RS Kediri, di RSAL Surabaya dan terakhir dirawat di RS Lumajang sampai akhirnya Tuhan memanggilnya.
Sore 11 Nov 17 khabar bapak masuk RS, jam 02.00 wib bpk drop dan jam 04.00 wib bapak dipanggil Tuhan. Khabar menyedihkan tetapi mesti direlakan.
Kematian benar benar menyedihkan bagi yang ditinggalkan, tetapi ini harus dipahami bahwa kematian harus terjadi, kepada siapapun, kapanpun, dimanapun. Harus dipahami juga bahwa kematian bukan akhir dari kehidupan, justru merupakan awal dari kehidupan abadi yang kita yakini.
Allah menghendaki agar semua manusia memperoleh kehidupan yang kekal (1Tim 2:4), sehingga Ia sendiri mengutus Putera-Nya yang tunggal sehingga barang siapa percaya kepada-Nya tidak akan binasa melainkan memperoleh kehidupan kekal (lih. Yoh 3:16). Demikian pula, Kristus menjanjikan kehidupan kekal bagi umat-Nya (lih. 1Yoh 2:25) dan menganugerahkan rahmat keselamatan ini dengan kedatangan-Nya ke dunia, kerelaan-Nya menderita dan wafat di kayu salib. Kristus berkata bahwa Ia sendiri akan mempersiapkan tempat bagi kita (lih. Yoh 14:2).

Friday, April 07, 2017

PUNCAK B29


Awal perjalanan, Pura Mandara Giri Semeru Agung
Gerbang Selamat Datang
Mendengar puncak B29 pertama kali setelah sekian tahun keluar dari kota kelahiranku Lumajang, menjadi pertanyaan, "Dimanakah itu?". Dan keponakanku yang masih TK menjelaskan dengan rinci, "Itu lho Pakde, di Bromo, jalan ini (sambil menunjuk jalan depan rumah) terus saja sampai deh nanti". Ealah.... kog aku baru dengar, ternyata B29 itu adalah istilah orang Perhutani untuk menandai lokasi / wilayah hutan. Dan itu sudah aku lewati sekitar 30 tahun lalu ketika aku ke Bromo melihat upacara Kasada, bersama beberapa saudaraku. Kami harus berjalan kaki mulai dari desa Senduro sampai melewati puncak B29 dan akhirnya turun ke lautan pasir Gn Bromo dan selanjutnya ke puncak Gn Bromo melewati tangga.
Indah
Namun sekarang untuk menuju ke puncak B29 tidak terlalu sulit,
karena dengan kendaraan sepeda motor bisa sampai parkiran yang disediakan penduduk dan berjalan kaki beberapa ratus meter, bahkan kadang kala bisa sampai puncak B29 atau B30.


Sunrise
Dari puncak B30
Dengan ditemani Iwan Subiantoro (keponakan) dan sepeda motor Honda, kami berangkat jam 04.00 wib, pagi, berharap perjalanan sekitar 1 - 1,5 jam bisa ditempuh untuk selanjutnya menikmati sunrise. Berbekal minuman dan sedikit camilan, serta tidak lupa senjata traveller, kamera DLSR + tripot. Dan jangan lupa jaket tebal, sarung serta penutup kepala, untuk menahan dinginnya cuaca.
Gn Semeru dilihat dari puncak B29
Iwan yang sudah terbiasa dengan track, begitu lincah menelusuri jalan aspal yg kadang berlubang.
Sampai di puncak B29 sekitar jam 05.15 wib, gelap dengan bintang yang berkedip, dingin menemani kami, belum ada pengunjung lain kecuali satu tenda yang tidak terdengar seorang pun, mungkin sedang lelap didinginnya puncak B30.
Kami harus tetap bergerak agar tubuh kami tetap hangat dan kacang yang kami bawa cukup membantu untuk selalu menggerakan mulut.

Iwan sang Pengendara
Dari ufuk timur samar samar mulai terlihat langit bersinar, kuning kemerahan. Sudah terasa keindahan yang dipancarkan oleh yang penguasa pagi. Warna merah mulai dominan dan biru juga mulai terlihat sedikit demi sedikit menghapus hitam.
Disisi barat Gn. Bromo mulai terlihat keagungannya, lautan pasir nampak begitu luas membentang, disisi Selatan Gn. Semeru dengan puncak Mahameru nya tidak mau ketinggalan. Ladang kentang, kol, bawang menghijau di sebelah timur. Pemandangan indah yang tidak akan ada dimanapun.

Salah satu Pura yang ada di lautan pasir 
Puas menyaksikan sang surya terbit dengan keagungannya, kami lanjutkan perjalanan ke Gn. Bromo melalui lereng selatan, jalan setapak yang memang biasa dipakai penduduk setempat ke desa Ranupani. Hanya orang orang yang pengalaman yang bisa melewatinya, karena medannya begitu berat, licin dan sempit serta berbahaya. Untungnya Iwan sudah beberapa kali melewatinya, sehingga hapal "medan"nya.
Satu jam kami menelusuri jalan berat, licin dan akhirnya sampai di plawangan (pertigaan antara ke Ranupane - Tumpang dan Gn Bromo). Ada penjual Mi goreng disini, dan kami melahap mi yang telah dipesan ditambah beberapa bakwan dan teh manis hangat.
Melintasi padang pasir kami bertemu dengan sekumpulan kendaraan roda 4 ( Toyota Hardtop), dan beberapa pengendara motor trail. Serta beberapa tempat dipakai untuk pre wedding, diantara semak, pohon perdu, pasir, bukit bukit kecil.
Meniti tangga ke puncak Gn. Bromo menjadi tantangan tersendiri, apalagi umur diatas 40 tahun, tetapi semangat tetap menyala. Tangga sudah tertutup debu vulkanik, sehingga sudah tidak seperti tangga lagi, hanya kelihatan tiang-tiang tangganya saja. Dan up.....akhirnya sampai juga di puncak Gn. Bromo. Indah, menakjubkan, mempesona, sangar, berbahaya, magis  menjadi satu identitas.
Gunung yang menjadi tempat suci bagi saudara kita umat Hindu Tengger.
Setelah puas
Sang Petualang
Angkutan resmi lautan pasir Gn Bromo


Lautan Pasir Gn Bromo
Turis manca negara pun takjub

Perjalanan pulang via Ranupani

Ranupani 

Sticker identitas pendaki Gn Semeru



Ranu Regulo
Pondok Pendaki Ranu Regulo

Thursday, May 15, 2014

GUNUNG BETUNG



Air Terjun Bawah
Menikmati dinginnya pagi
Mendengar Gunung Betung, bagi para penggiat alam bebas di Lampung tidak asing lagi. Lokasinya tidak jauh dari kota Bandarlampung, sekitar 15 km dan mudah dijangkau, baik dengan angkutan umum atau kendaraan pribadi.
Kegiatan alam bebas bagi keluargaku menjadi agenda tersendiri yang harus selalu ada dalam daftar kegiatan yang menjadi hobby kami selain traveling ke kota-kota di Indonesia dan beberapa negara.



Jernihnya air terjun
Pegunjung menikmati keindahan air terjun

Menanam biji-biji bengkuang
Air terjun atas
Kali ini kami berempat (aku, istriku, dan 2 anak laki-lakiku) bersama seorang teman yang sudah menjadi saudara kembali melakukan perjalanan pendakian ke Gn. Betung.  Dua tahun yang lalu kami mengendarai motor roda dua sehingga bisa sampai di tempat perkemahan lebih dekat, tetapi kali ini kami menggunakan mobil dan harus parkir di depan rumah penduduk, perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki, melewati kebun kakao, dibutuhkan sekitar 2 jam perjalanan dengan kontur jalan yang menanjak dengan kemiringan 45 derajat. Canda tawa anak-anak (Albert dan Bernard) sedikit melupakan lelahnya perjalanan dengan carrier di pundak. Kadang-kadang justru mereka yang memberikan semangat pada kami, "ayo semangat bu/pak, semangat" perjalanan sudah dekat, tinggal dua belokan lagi". Sampai di camp  sudah sekitar jam 19.00 wib, sudah ada 1 tenda berdiri dari teman-teman mahasiswa, kami kebagian ditempat yang sama seperti 2 tahun lalu kami berkemah. Setelah sebentar istirahat, kami lanjutkan dengan mendirikan  2 tenda, dan mencari kayu bakar untuk persiapan menghangatkan cuaca. Beruntung cuaca cerah sehingga kami bisa menikmati indahnya bintang dilangit dan kunang-kunang. Api unggun sudah menyala, saatnya membuat kopi untuk mengusir dinginnya malam.
Malam berganti pagi, dingin tidak terlalu menyengat, udara cerah pagi hari sangat bersahabat. Sarapan, kopi sudah kami nikmati, "narsis" kembali kami jalanni, foto dengan berbagai gaya dan tempat kami coba untuk hasil yang terbaik. Dan misi unuk menanam bengkuang di sekitar camp (perkemahan) kami lakukan di sekitaran lokasi perkemahan.
Team lengkap
Sekitar jam 11.30 wib kami mulai bersiap untuk berkemas dan melanjutkan perjalanan ke air terjun bawah, dimana sebelumnya kami foto-foto di air terjun atas dari ketinggian. Barang bawaan kami titipkan di mbah Sum, karena perjalanan ke air terjun bawah cukup curam dan berbahaya. Kami cukup bawa makanan kecil dan air minum secukupnya, serta jangan lupa membawa kamera.




Pacet, menjadi mainan Albert
Perjalanan ke air terjun bawah harap ekstra hati-hati, curam, licin dan jangan terburu-buru. Tetapi keindahan alam sekitar cukup melupakan kelelahan perjalannan, apalagi ketika sudah sampai di air terjun. Keindahan yang tersembunyi, airnya yang sejuk dan alam sekitar yang masih alami, membuat tempat ini menjadi favorit untuk dikunjungi. Ketinggian air terjun 30 meter atau lebih, sangat bagus untuk menjadi obyek foto meskipun pencahayaan yang kurang karena lokasinya yang berada di lembah.

BATURADEN, Gn. SLAMET dan PANCURAN 7

Rumah Retret Hening Griya berlatar belakang Gn.Slamet
Mendapatkan undangan pertemuan FPBN tanggal 10-11 Mei 2014 di Baturaden, Purwokerto, membuatku antusias untuk ikut berpartisipasi. Berangkat dari Lampung dengan menggunakan bus Sinar Jaya, tarif Rp 250.000 dengan dua teman cukup menyenangkan sebelum akhirnya ada beberapa kejadian yang kurang mengenakan. Ban belakang bus yang pecah dan ada seorang ibu yang akan menjengguk anaknya yang sedang sakit di Jogjakarta harus kehilangan uang dan beberapa barang berharga di tasnya. Sepertinya ada pencopet yang sengaja naik bus dengan membeli tiket dan setelah aksinya berhasil, mereka turun di suatu tempat.
Perjalanan Lampung Purwokerto melalui jalur Bandung, Nagrek, Ciamis, Majenang, Purwokerto, yang seharusnya sampai sekitar jam 10.00-11.00 wib, harus terlambat sampai jam 14.00 wib, karena harus lapor polisi untuk kejadian pencopetan.
Sampai di kantor PSE Keuskupan Purwokerto, kami harus rela menunggu di luar, karena rumah tertutup dan menunggu dijemput untuk diantarkan ke Baturaden. Sambil menunggu kami menikmati bakso di depan PDAM Lama dan es dawet yang cukup menghibur walau sedang menunggu.
Setelah setengah jam kami menunggu akhirnya mobil datang, tetapi kami tidak langsung menuju Baturaden melainkan "hunting" tiket pulang, karena bertepatan dengan hari Minggu. Benar juga, mulai dari travel, kereta api, dan bus penuh untuk hari minggu, tetapi masih beruntung kami dapat tiket bus jurusan Tangerang setelah berkeliling terminal.
Tidak asing buat saya Baturaden, karena 15 tahun atau lebih yang lalu saya pernah ke tempat ini ketika masih mahasiswa, hanya saja agak lupa arah dan tempatnya. Sambil mengingat saya bertanya teman yang mengantar kami beberapa hal tentang Baturaden.
Bertempat di Hening Griya (HG) sebuat rumah Retret yang lokasinya cukup strategis karena bisa melihat pemandangan kota Purwokerto dan puncak Gn. Slamet, karena memang Baturaden berada di kaki Gn. Slamet. Udara sejuk dan bersih, cuaca cerah, menyambut kehadiran kami di Baturaden, serta teman-teman yang sudah mulai pertemuan dari jam 16.00 wib. Setelah minum kopi kami langsung bergabung dan mempresentasikan kegiatan yang sudah kami lakukan di Lampung kepada para peserta dari beberapa daerah diantaranya, Palembang, Lampung, Serang, Tangerang, Bandung, Bogor, Jakarta dan Purwokerto yang kali ini sebagai tuan rumah.
Jam Istirahat, mandi, makan dan tidak membuang kesempatan untuk jalan-jalan di sekitar RR Hening Griya untuk melihat suasana malam yang memang cukup hening, dingin, dan pemandangan malam yang sungguh indah kota Purwokerto.
Pagi, bangun jam 04.00 wib, udara dingin cukup membuatku ingin memeluk guling dan berselimut kembali, tetapi gambaran malam kemarin membuatku ingin segera menyambut matahari pagi untuk aku bawa dalam kenangan gambarku "hunting sunrise". Dan megahnya puncak Gg. Slamet, membuatku tetap dan selalu takjub akan kebesaran Tuhan yang telah menciptakannya. Aku ketika itu tahun 1994 bersama enam teman kampus berhasil mencapai puncak Gn. Slamet membuatku tetap mendalam mengenang dan memahami betapa indah pemandangan dan ingin kembali untuk mendaki lagi.
Pagi saya buka dengan "hunting" foto sebelum akhirnya acara dilanjutkan dengan Misa Pagi Kapel RR. Hening Griya. Sarapan, dan pertemuan dengan teman-teman Aliansi FPBN dilanjutkan hingga jam 12.30 wib. Sharing, diskusi mengenai Merancang Strategi Gerakan Penguatan Advokasi Buruh cukup terbuka, ringan menghasilkan beberapa kesepakatan, diantaranya penguatan ekonomi buruh untuk penguatan perjuangan serikat buruh.
Peserta Pertemuan Aliansi dan FPBN
Acara diakhiri dengan foto bersama dan setelah makan siang, kami bersiap untuk aktivitas selanjutnya yaitu menuju tempat rekreasi yang kali ini tujuan kami adalah Pancuran 7. Dengan diantar panitia kami menuju pancuran tujuh dengan membayar Rp 15.000 / orang, perjalanan sekitar 4 km dari gerbang, cukup menyenangkan karena harus melewati pohon-pohon rindang (pohon damar, pohon rimba) dan jembatan yang oleh teman kami dihitung ada 17 buah. Walau agak sedikit kuatir dengan jalan menanjak karena aspal jalan sudah banyak yang mengelupas. Sampai di parkiran mobil, setelah mengambil beberapa foto kami harus melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki menuju pancuran 7 yang cukup jauh. Melewati beberapa pedagang makanan (jagung bakar) dan minuman (legen atau air aren), cukup membuatku berkeringat, tetapi canda teman-teman juga membantu menghilangkan rasa lelah.
Dan Pancuran 7 menyambut kami dengan air belerangnya yang cukup panas atau bahkan cenderung panas untuk hanya sekedar merendam kaki. Dan aksi "narsis" kami mulai muncul, jeprat-jepret untuk mengabadikan kedatangan kami yang pertama kalinya. Setelah dirasa cukup, kami mendapatkan tawaran dipijat dengan dilumuri cairan lumpur belerang oleh beberapa orang dengan membayar Rp. 20.000 untuk pijatan sekitar 20 menit. Menurut mereka ini bisa menyembuhkan beberapa penyakit kulit dan menghaluskan kulit.
Sebenarnya Baturaden mememiliki beberapa tempat rekreasi seperti Pancuran 3, Telaga Hening dll, namun karena kami harus segera kembali ke Lampung, maka menjadi agenda tersendiri untuk suatu waktu kami kembali untuk mengunjunginya.



Team dari Lampung

Pancuran 7

Pijat dengan diolesi belerang

Kami

Teman-teman dr Lampung dan Jakarta

Teman-teman dari Jakarta dan Palembang





Sunday, April 13, 2014

PEMILU 2014

Pemilu tahun 2014 diadakan 2 kali, tanggal 9 April 2014 Pemilu Legislatif untuk memilih anggota dewan Legistatif dan tanggal 9 Juli 2014 Pemilu Presiden untuk memilih Presiden dan wakil presiden. Kali ini pemilu diikuti oleh 12 Partai nasional dan 3 partai lokal Aceh.
Pemilu Legislatif sudah selesai, tinggal menunggu hasil secara real count, walau secara quick count sudah ada pemenangnya yaitu 1. PDIP, 2. Golkar, 3. Gerinda.
Dibalik suksesnya pemilu 2014, banyak kejadian menarik, lucu, menyebalkan, menyedikan dll. Hakekatnya menjadi anggota dewan yang disebut wakil rakyat adalah sebuah tugas pelayanan kepada kontituen yang diwakilinya, tapi justru sebaliknya aspirasi rakyat tidak didengarkan, malah asyik memikirkan kepentingan golongan bahkan kepentingan pribadi.
Bisa dimengerti, bagaimana proses pemilihan anggota dewan yang  "terhormat" dari pencalonan sampai pemilihan diwarnai dengan ketidakadilan, kecurangan, politik uang, dan hal-hal yang tidak masuk akal (minta bantuan "orang pintar"), sehingga hasilnya pun adalah anggota dewan yang tidak kompeten. Menjadi anggota dewan dianggap sebagai cara untuk mendapatkan kekuasaan yang akhirnya mendapatkan kekayaan. 
Tapi benarkah demikian? Bagaimana usaha caleg untuk mendapatkan kedudukannya harus memberikan barang atau uang untuk menjaring suara dari rakyat (istilah kerennya, money politic). Bukannya artinya suara Tuhan bisa dibeli?.
Banyak modus kecurangan yang dilakukan caleg untuk menggapai ambisinya, salah satunya dengan dana, siapa yang memiliki dana besar dapat memobilisasi masa, dialah pemenangnya. Menjadi sebuah pertanyaan, ketika seseorang ingin menjadi anggota dewan yang nantinya mewakili kontituennya harus membayar orang untuk memilihnya. Bukannya ini menjadi jelas, caleg ini ingin menyampaikan aspirasi kontituennya bila terpilih, atau mencari pekerjaan dan kekuasaan? Karena bagaimanapun juga bila terpilih nanti maka mula-mula mengembalikan modal adalah tujuan pertama. 
Bagaimana bila ternyata caleg tidak mendapatkan kursi yang diharapkannya? Sudah banyak contoh dan kenyataan, caleg harus mengambil kembali uang atau barang yang telah diberikan pada orang itu karena dianggap tidak mencoblos pada saat pemilu. Dan lebih tragis, banyak caleg yang harus kehilangan ingatan karena uang harta bendanya habis tetapi kursi dewan tidak bisa diraihnya.
 

Tuesday, April 08, 2014

TAMAN HUTAN RAYA (TAHURA) WAN ABDUL RACHMAN LAMPUNG

Mendengar cerita dari seorang teman, kalau ada alternatif tempat wisata disekitar Bandarlampung selain pantai adalah Tahura Wan Abdulrachman. Hanya saja dia tidak ingat dimana lokasi sebenarnya, karena sudah beberapa tahun lalu dia kesana, hanya mengatakan lokasinya sekitar pantai Mutun dan Hanura. 
Sabtu 5 April 2014 saya berdua dengan sang istri pergi ke sana. Dengan sebelumnya mencari alamat sebenarnya di internet. Tetapi tidak dijelaskan rute sebenarnya, hanya disebutkan berjarak 12 km dari Bandarlampung arah Hanura.
Dan benar saja kami sempat bertanya kesana kemari pada orang disekitar jalan Pantai Mutun, tidak seorangpun mengenalnya. Tanya melalui beberapa teman yang saya anggap tahupun, ternyata juga tidak tahu dimana lokasinya, bahkan ada yang bertanya balik, "tempat baru ya?"
AKhirnya kami mampir dirumah teman di Hanura (dekat pasar), sebentar berbincang dan bertanya apakah tahu tempat tersebut. Ternyata tahu arahnya tetapi belum pernah kesana. Ok, akhirnya kami melintasi jalan desa sekitar 1 km dari jalan utama Bandarlampung - Hanura (sebelah kanan dari arah Bandarlampung), sekitar 2 km dari jalan masuk Pantai Mutun. Tidak ada petunjuk arah tetapi ada gerbang dan di sampingnya sungai kecil mengalir, adalah jalan yang benar menuju Tahura.
Ada gerbang di dalam lokasi dan tulisan besar di tembok diparkiran begitu kita sampai dilokasi. Setelah parkir dan mengobrol sebentar dengan penjaga, kami lanjutkan perjalanan ke air terjun.  Tiket masuk untuk Rp 3000, Motor Rp 2000, Mobil Rp 3000. 
Tahura Wan Abdulrachman memiliki luas sekitar 22 Ha, secara administrasi pemerintah terletak di Kecamatan Tanjungkarang Barat, Kedondong, Gedong Tataan, Padang Cermin. Pengelolaan dibawah Balai Konservasi Sumber Daya Alam II Tanjungkarang. Topografi bergelombang ringan sampai berat, sebagian datar. Ada 4 gunung yang meliputinya yaitu Gn. Rantai (1.671 mdpl); Gn. Pesawar (661 mdpl), Gn. Betung (1.240 mdpl) dan Gn. Tangkit Ulu Padang Ratu (1.600 mdpl).
 
Melewati beberapa fasilitas yang ada di Tahura, diantaranya lokasi perkemahan, kolam ikan, jembatan dan tempat api unggun bila ada acara tertentu. Juga kami melewati pondok dan rumah kosong tak terawat disepanjang perjalanan, ditutupi pohon-pohon perdu dan rumput liar. Jalan menuju air terjun ternyata sedang longsor sehingga harus melewati jalan lain, menyeberangi sungai kecil aliran dari air terjun. Melewati jalan sedikit menanjak kami sampai pada salah satu air terjun yang cukup bagus dengan batu-batu besar disekitarnya. Sebentar ambil gambar, perjalannya kami lanjutkan ke tempat yang lebih tinggi (air terjun, konon ada 7 buah). Sebenarnya ada gardu pandang yang dibangun, tetapi tidak terawat dan berkarat. Setelah dengan keringat bercucuran, kami berhenti di satu tempat yang cukup enak untuk istirahat, sungai kecil bening dan bersih dengan batu batu besar disekelilingnya. Asik bermain air, membuat pancuran kecil, saat indah masa kecil, dan memperhatikan binatang air yang berenang diatas air yang saya kenal namanya anggang-anggang. 
Setelah cukup beristirahat dan bermain, kami putuskan untuk pulang, karena jam 14.00 wib harus mengantarkan anak les.
Tempat wisata yang cukup menarik bila dikelola secara baik, selain tempatnya yang cukup strategis, jarak tidak terlalu jauh dari kota Bandarlampung dan tentunya alternatif wisata selain pantai yang menjadi pilihan bila berkemah, baik dengan teman maupun keluarga.





BELI AIR ATAU SAMPAH


Tujuan ke Tahura (Taman Hutan Rakyat) Wan Abdul Rahman melewati desa Kemiling, sambil menikmati pedesaan. Ada beberapa rumah dengan taman yang luas, sepertinya milik pengusaha atau penguasa untuk dijadikan villa pribadi. Juga melewati Taman Kupu-kupu Gita Persada, dikaki gunung Betung, mau mampir, tapi tidak jadi karena istriku paling takut sama ulat, hehehe.

 Jalanan menurun dan rusak di sebagian tempat, berbahaya bagi pengendara sepeda motor bila tidak hati-hati. Dan kami melewati sebuah pabrik air minum dalam kemasan (AMDK) yang bagi sebagian orang di Lampung sudah tidak asing lagi produk ini.
Selintas kami berdua mengobrol tentang pabrik ini. Air yang diberikan gratis oleh Tuhan, sekarang harus membeli untuk mendapatkannya. Air sudah tidak selalu bisa didapatkan dengan mudah dan bebas, apalagi untuk minum. Sumber-sumber air sudah dikuasai oleh investor untuk kepentingan pribadi. Akses langsung pada sumber air bersih sudah sulit didapatkan oleh masyarakat.


Bila akses pada sumber air sudah tidak bisa, maka dengan terpaksa masyarakat harus membeli untuk mendapatkannya. Dan bagi sebagian orang menguntungkan karena mendapatkan keuntungan dari penjualan, tetapi bagi lain orang sangat merugikan, karena harus mengeluarkan uang tambahan untuk mendapatkannya.
Bila orang sudah tidak berhubungan langsung dengan sumber air, maka kepedulian terhadap sumber airpun menjadi rendah bahkan tidak ada.
Beruntung kami masih memiliki sumur dibelakang rumah, yang sampai saat ini masih digunakan, baik untuk minum, mandi atau mencuci. Dan ada beberapa pohon keras (klengkeng, jambu jamaika, jambu klutuk merah, jambu kancing, sirsat, salam, gaharu) dan tanaman lainnya (anggur, jeruk pecel) serta tanaman bunga lainnya yang tumbuh disekitar halaman rumah kami yang tidak terlalu luas halamannya.

 
Ilustrasi, apakah kita membeli air kemasan atau sampah :
Harga air kemasan dalam satu drum (umumnya disebut galon) kapasitas 19 liter adalah sekitar Rp 9.000 - Rp 14.000, tergantung merk. Kita ambil harga Rp 9.000/drum , maka  perliter Rp 473 (9000/19), dan Rp 0,473/ ml (474/1000),  maka harga Rp 0,473/ml.


Kemasan botol isi 600 ml biasa dihargai Rp 2.000.
          Rp 0,473 x 600 ml =  Rp 284 / botol,
           Rp 2.000 - Rp 284 = Rp 1.716
           Harga air Rp 284, sedangkan harga botol plastik Rp 1.716


Kemasan Gelas isi 240 ml biasa dihargai Rp 500
         Rp  0,473 x 240 ml = Rp 114 / gelas,
         Rp 500 - Rp 114 = Rp 386
         Harga air Rp 114 sedangkan harga gelas plastik Rp 386.


Bisa dibayangkan bila kita membeli air minum dalam kemasan, berarti kita menghargai sampahnya lebih mahal dari air kemasan itu sendiri.