Wednesday, February 21, 2018

PANTAI SUAK, KARUNIA ALAM TAK PERNAH HABIS



Pantai Suak berada di Desa Suak Kecamatan Sidomulyo Kabupaten Lampung Selatan. Kalau dari Bandarlampung bisa ditempuh dalam waktu sekitar 1 – 1,5 Jam. Sebelum pertigaan Sidomulyo, sebelah kanan ada pertigaan ke pantai Suak, jalan beberapa ratus meter masih ada yang berlubang, selebihnya sudah lumayan bagus.
Pantai ini masih jarang dikunjungi oleh wisatawan karena kurang dikenal. Tidak banyak wisatawan ketika kami menginjungi pantai Suak, hanya ada beberapa Orang Muda Katolik (OMK) yang sedang mengadakan acara outbound, dan beberapa penduduk lokal. Serta beberapa orang yang sedang mencari rumput laut. Karena kami sampai di pantai Suak sekitar jam 14.00 wib, laut sudah surut, dari bibir pantai sekitar 100 meter, baru ombak laut terasa, itupun langsung masuk ke laut dalam (berbahaya untuk bermain ombak).
Tidak banyak kegiatan yang bisa kami lakukan, kecuali hanya memandang laut lepas dengan beberapa perahu yang berlayar dan orang sekitar yang sedang mencari rumput laut. Rumput laut sangat banyak menempel di batu batu karang, mereka tinggal mencabutnya, memasukan kedalam karung. Bersiap untuk basah dan diterjang ombak, mereka mecabuti rumput laut yang berwarna kekuningan, harga jual sekitar Rp 1500 per kilogram kering, mereka bisa mengumpulkan sekitar 50 kg perhari (hanya bisa dilakukan ketika air laut surut). Ada pengepul yang siap membeli hasil panen mereka untuk dibawa ke pebrik di Jakarta, untuk diolah sebagai bahan makanan (agar-agar) makanan yang banyak mengandung serat.
Rumput laut jenis Sargassum sp ini merupakan rumput laut yang tergolong dalam  divisi Phaeophyceae (rumput laut coklat). Spesies ini dapat tumbuh sampai panjang 12 meter. Tubuhnya berwarna cokelat kuning kehijauan.
Ciri umumnya memiliki bentuk thallus silindris atau gepeng, pipih, licin, batang utama bulat agak kasar dan holdfast (bagian yang digunakan untuk melekat) berbentuk cakram. Cabangnya  rimbun  menyerupai pohon di  darat. Bentuk daun melebar, lonjong atau seperti pedang. Mempunyai gelembung udara (bladder) yang umumnya soliter. Warna thallus umumnya coklat
Rumput laut memiliki kandungan esensial yang sangat lengkap, yaitu air, protein, karbohidrat, lemak, serat kasar, abu, enzim, asam nukleat, asam amino, vitamin (A,B,C,D, E dan K), makro mineral seperti nitrogen, oksigen, kalsium, selenium serta mikro mineral semacam zat besi, magnesium dan natrium.
Rumput laut memiliki banyak manfaat, diantaranya sebagai pencegah kanker, sumber Yodium, Menurunkan berat badan, Kesehatan pencernaan, Kesehatan gigi dan mulut, Kesehatan jantung dan pembuluh darah, kesehatan kulit, Perawatan rambut



Wednesday, February 14, 2018

PUASA ALA PAUS FRANSISKUS 2018

Paus Fransiskus mengajukan 15 aksi kasih sederhana yang menjadi perwujudan konkret dari cinta:
1. TERSENYUMLAH.
Seorang Katolik selalu ceria.
2. Katakan TERIMA KASIH/BERSYUKURLAH untuk hal-hal sekecil apapun (bahkan jika kita tidak memilikinya)
3. Ingatkan yang lain bagaimana kamu sungguh MENCINTAI mereka.
4. BERI SALAM SUKACITA kepada orang2 yang kamu jumpai tiap hari
5. DENGARKAN cerita orang lain tanpa menghakimi, tapi dengan cinta.
6. Berhentilah jika ada yang membutuhkan bantuanmu. Jangan CUEK.
7. Cobalah untuk BANGKITKAN SEMANGAT orang-orang di sekitarmu.
8. RAYAKAN KESUKSESAN DAN KEBERHASILAN orang lain, hindarilah menjadi iri dan cemburu.
9. TATALAH barang-barang yang sudah tidak digunakan atau tidak dibutuhkan, dan BERIKAN ke mereka yang membutuhkan.
10. SIAP SEDIALAH UNTUK MEMBANTU ketika kamu dibutuhkan sehingga orang lain bisa beristirahat.
11. KOREKSILAH ORANG LAIN DENGAN CINTA, sesedikit mungkin jangan sampai membuat ia takut.
12. RAWATLAH relasi yang baik dengan mereka di dekatmu
13. JAGALAH KEBERSIHAN barang-barang yang kamu gunakan di rumah
14. TOLONGLAH yang lain mengatasi hambatan mereka
15. TELPONLAH ORANGTUAMU sesering mungkin.
Puasa yang Terbaik:
Rekomendasi dari Paus Fransiskus
1. Puasa mengeluarkan kata-kata yang menyerang dan ubahlah dengan kata-kata yang manis dan lembut
2. Puasa kecewa/tidak puas, dan penuhilah dirimu dengan rasa syukur.
3. Puasa marah dan penuhi dirimu dengan sikap taat dan sabar.
4. Puasa pesimis. Penuhilah dengan OPTIMIS
5. Puasa khawatir dan penuhilah dirimu dengan percaya pada Tuhan.
6. Puasa Meratap/Mengeluh dan nikmatilah hal-hal sederhana dalam kehidupan.
7. Puasa stress dan penuhilah dirimu dengan DOA
8. Puasa dari kesedihan dan kepahitan. Penuhilah hatimu dengan Sukacita.
9. Puasa egois, dan gantilah dengan bela rasa pada yang lain
10. Puasa dari sikap ga bisa mengampuni dan balas dendam. gantilah dengan pendamaian dan pengampunan.
11. Puasa ngomong banyak, dan penuhilah dirimu dengan keheningan dan siap sedia mendengarkan orang lain.
Jika kita semua mempraktikkan gaya berpuasa ini, setiap hari-hari kita akan dipenuhi dengan kedamaian, sukacita, dan percaya satu dengan yang lain, dan HIDUP.

Friday, February 09, 2018

KACA MATA

Penglihatan yang mulai berbayang, membaca tidak terlalu jelas, terutama mata kanan, membuatku "terpaksa" untuk memeriksakan mata di optik karena kebetulan lewat. Dan ternyata petugas optik menyarankan untuk memeriksakan ke dokter mata sebelum order kaca mata, karena mata kanan ada sedikit lapisan tipis.
Berurusan dengan dokter, bagiku memberikan kesan yang menyeramkan, terutama dengan jarum suntik. Pengalaman kecil, semua serba suntik, demam disuntik. Ini membekas sampai saat ini, teringat ketika suatu waktu, aku sakit demam selama 2 hari tidak turun turun panasnya. Sama orang tua dipanggilkan dokter puskesmas yang tidak terlalu jauh dari rumah. Kedatangan dokter ini membuatku tambah stress (hahaha....). Benar juga.... aku lebih baik melarikan diri dari seramnya jarum suntik, kabur melalui jendela kamar, padahal sudah dipegangi Ibu dan Bapak, dan tragisnya...dokternya sempat kena jaruk suntik. Aksi kabur ini menjadi aneh, demam, badan panas tapi justru lebih baik kabur dari pada disuntik.
Tapi kali ini mau tidak mau, suka tidak suka harus periksa ke dokter mata, (kalau baca di internet, mesti operasi kecil, hhiiii...). Dan ternyata dokter tidak merekomendasikan operasi, cukup di obati saja dan pakai kaca mata sesuai ukuran yang sudah diresepkan. Puji Tuhan.
Setelah beberapa hari order di optik, akhirnya kacamata jadi. Aku memutuskan untuk membeli 2 kacamata (kacamata baca dan kacamata jarak jauh). Karena selain pertimbangan harga juga pertimbangan pemakaian mana yang paling sering digunakan.
Penyesuaian penampilan dan  pemakaian, sehari ini, harus pasang dan lepas lagi untuk membedakan lebih enak pakai kacamata atau tidak. Untuk kacamata baca, lumayan membantu, tulisan lebih jelas, lebih terang, untuk tulisan menjadi lebih gelap. Hanya untuk baca dengan jarak sampai 40 cm, diatas itu kabur. Mesti ganti kaca mata yang jarak jauh. Ya...agak repot, tapi harus pakai, karena kata dokter, mata harus dikurangi kena paparan matahari langsung, debu atau asap.


HUJAN

Pagi ini hujan mengguyur  merata diseluruh wilayah Bandarlampung. Jalanan begitu padat, karena aktivitas harian (sekolah, kerja, dll), yang biasanya jalanan macet dengan dominasi sepeda motor, kali ini jalanan sesak kendaraan roda 4. Sepertinya kendaraan roda 4 semua keluar dari garasi, baik untuk pergi kerja maupun untuk antar anak sekolah. Membuktikan Bandarlampung sudah dipenuhi kendaraan roda 4.
Hujan tidak banyak memberikan pilihan bagi orang yang mengendarai kendaraan roda 2 (sepeda motor) yang mau bekerja atau sekolah selain berteduh sejenak, atau pakai jas hujan atau berganti moda transportasi masal atau online. Sepertinya banyak pilihan pengendara  untuk berteduh di emperan toko menunggu hujan reda. Emperan toko yang beratap/kanopi lebar menjadi tempat berteduh yang cukup melindungi dari air hujan. Walaupun beberapa halaman toko yang di batasi rantai (tidak ada bisa untuk berteduh). 
Hujan yang cukup deras, dibeberapa tempat sempat tergenang air, irigasi yang buruk menjadi salah satu penyebabnya, selain gorong gorong yang tersumbat sampat.
Hujan bagi sebagian orang menyusahkan, tetapi sebagian orang menjadi berkah. Beberapa anak kecil dengan tubuhnya yang kurus menyediakan ojek payung dibeberapa pertokoan atau tempat makan yang banyak dikunjungi orang. Basah, dingin tidak dihiraukan yang penting kesempatan baik ini menjadi berkah untuk mendapatkan kerelaan beberapa orang yang mau menyewa jasa mereka
Bagiku hujan sangat menyenangkan, menyegarkan. Kesempatan untuk hujan hujanan (bermain hujan) bagi orang kota menjadi sangat aneh, tetapi bagiku biasa saja, sama halnya dengan dengan menginjak tanah atau bermain tanah. Coba perhatikan, kapan anda terakhir bermain tanah atau setidaknya menginjak tanah, tanah yang benar benar tanah. Apakah dirumah anda masih tersisa halaman masih tanah? Lantai rumah keramik, halaman paving blok, keluar rumah pakai sepatu/sandal, lantai kantor/tempat kerja sama, juga sudah dikeramik.
Tidak memberikan kesempatan bagi tubuh kita yang fana ini berinteraksi langsung dengan air, tanah yang pada akhirnya kita semua akan dikubur bersamanya.
Hujan pagi ini memberikan ingatan bagiku, bahwa tubuh yang fana ini merupakan bagian dari alam yang juga fana, tidak bisa dipisahkan. Hujan tidak akan membuat kita sakit, kalau kita tidak memikirkannya hujan bisa membuat orang sakit. Kekuatan pikiranlah yang membuat kita sakit karena hujan, bukan sebaliknya.

Friday, February 02, 2018

PERJALANAN 6 (LUMAJANG – MALANG – BLITAR - KEDIRI)


Gladak Perak (Jembatan Perak) 
Setelah beberapa hari di Senduro, kami harus kembali ke Kediri. Kali ini kami melewati jalur selatan, yang jalannya berkelok kelok dan pemandangannya yang bagus. Karena rencana untuk mampir/berhenti dibeberapa tempat wisata ijalur yang kami lalui, maka kami berangkat pagi pagi.  Perjalananan dimuali jam 07.00 wib melalui jalur Senduro – Jambe arum – Candipuro, dari jalur ini sebenarnya bisa melewati beberapa obyek wisata Loji Besuk sat (tempat pengamatan Gn. Semeru), Loji Tawon songo, Hutan bambu. Kami hanya mampir di Gladak Perak (Jembatan perak), jembatan yang dibangun pada jaman Belanda yang menghubungkan kab. Lumajang dan kab. Malang. Dan sekarang sudah dibangun jembatan baru sebagai ganti, karena jembatan lama sudah tidak bisa menahan beban berat kendaraan.

Ditempat ini kita bisa melihat sungai Besuk sat yang merupakan sungai aliran lahar gunung Semeru, jadi sewaktu waktu bila terjadi hujan di gunung Semeru sungai ini debitnya akan naik. Mengingat sekitar tahun 1984, tempat ini juga menjadi salah satu pembuangan korban penembakan misterius. Aku sendiri mengalami melihat sendiri mayat yang dibuang ke dasar sungai. Tapi saat ini sudah ramai dengan pelintas jalan yang mampir untuk sekedar selfie, foto atau sekedar nongkrong di warung warung yang banyak di sekitaran.
Kalau beruntung, juga bisa menjumpai monyet monyet yang banyak berkeliaran disekitar tempat ini. Dari arah Lumajang disebelah kiri bisa melihat pemandangan laut selatan, disebelah kanan bisa melihat hutan lindung dan puncak Gn. Semeru. Harap hati-hati melintas maupun bermain ditempat ini, karena curamnya sungai, apalagi kalau dengan anak-anak.
Perjalanan dilanjutkan menuju Coban Sewu, ada yang menyebut juga Tumpak Sewu, sebuah air terjun yang berada di perbatasan Lumajang dan Malang.  Sebelumnya mampir sebentar di rumah saudara di Pronojiwo, dan salak yang menjadi andalan petani di sini menjadi oleh oleh bagi kami. Sebenarnya ada beberapa coban (air terjun) di sekitaran Pronojiwo salah satunya Gua Tetes, tapi karena tujuan awal kami ke coban Sewu, maka perjalanan dilanjutkan. Gua Tetes dan Coban Sewu sebenarnya terletak pada jalur yang sama dan tidak terlalu jauh, hanya aksesnya saja yang berbeda.

Coban Sewu
Coban Sewu
Petunjuk ke Gua Tetes maupun Coban Sewu sangat jelas terlihat. Tiket masuk Rp 5.000 / orang. Karena letaknya di jurang, maka perlu ekstra hati hati bila ke lokasi ini. Jalan yang menuruni tangga, dan berpegangan pada batu, pagar yang sudah dipasang sebagai pengaman. Melewati kebun salak, kebon kopi, menuruni tangga yang cukup curam akhinya sampai di lokasi pandang coban Sewu. Dan pertama yang terucap adalah “Menakjubkan”. Karunia Tuhan yang sungguh indah, memanjakan mata siapa saja yang melihatnya. Air terjun yang begitu besar dan tinggi dari aliran sungai Gn. Semeru yang agak keruh berpasir, tetapi disisi kanan dan kiri justru air terjun sangat bening bersih, karena bersumber dari celah bebatuan.
Bila dilihat dari atas dan matahari bersinar tepat dari atas, akan kelihatan pelangi yang begitu indah. Pelangi ini tercipta dari uap air terjun yang terpapar sinar matahari. Sungguh menakjubkan. Tidak akan bosan menikmati semua ini.
Setelah sedikit puas (perjalanan masih jauh, hehehe…), kami lanjutkan perjalanan ke arah Malang dan akhirnya sampai di Karangkater, tetapi karena waktu sudah jam 16.00, sudah tidak bisa masuk ke area waduk, akhirnya masuk ke waduk Lahor tidak jauh adri waduk Karangkates.
Menikmati Bakso Malang, sambil memandang luasnya waduk Lahor dan guyuran gerimis menjadi pengalaman sendiri bagi kami. Melewati waduk Lahor juga merupakan alternatif jalan menuju Blitar. Hujan agak deras, sehingga kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke Blitar.
Makam Bung Karno
Di Blitar kami mampir ke makam Bung Karno sang Proklamator. Tidak terlalu sulit mencapai tempat ini, karena petunjuk jalan sudah sangat jelas. Walau hari sudah agak malam, tetapi masih banyak wisatawan yang mengunjungi tempat ini, terutama wisatawan dari luar kota. Ada yang hanya sekedar berwiasata tetapi banyak juga dengan tujuan ziarah, baik perorangan maupun berombongan.

Tidak lama kami berada ditempat ini, akhirnya perjalanan dilanjutkan untuk pulang ke rumah orang tua di Kediri. 

Wednesday, January 31, 2018

PERJALANAN 5 ( PUNCAK B29 dan B30 )


Matahari terbit dilihat dari Puncak B29
Gunung Bromo dan lautan pasir
Sesuai janjiku pada Albert (anakku yang pertama) kalau mudik akan saya ajak ke Puncak B29, kali ini dengan Erlo (keponakan) dan Bernard (anak kedua) pergi ke dengan menggunakan 2 motor trail. Sebenarnya untuk menikmati pemandangan sunrise (matahari terbit) harus berangkat dari rumah jam 03.00 wib, tapi kali ini kami berangkat jam 05.00 wib. Dengan berbekal kamera DLSR, Camera Action, Camera HP, (tripot yang saya siapkan ternyata tidak ikut terbawa) kami berangkat, dan mesti menggunakan jaket tebal untuk mengusir dinginnya tempat yang kami kunjungi.

Perjalanan dari rumah (Senduro) hanya ditempuh sekitar 1 jam dengan menggunakan kendaraan roda 2 atau roda 4, jalanan yang menanjak dan berliku. Saat ini akses sudah lebih mudah, ingat waktu pertama kali ke Gn. Bromo sekitar tahu 1985, dengan jalur ini harus ditempuh seharian jalan kaki, fisik yang baik harus juga disiapkan karena medannya yang menanjak. Sepanjang perjalanan dari rumah ke Puncak B29 bisa menikmati pemandangan alam yang indah (hutan rimba, kebun sayur dan bukit bukit).
Bila menggunakan kendaraan roda 2, langsung menuju puncak B29, tetapi bila menggunakan kendaraan roda 4 harus berhenti di rest area yang telah disiapkan dan berganti dengan kendaraan roda 2 (ojek) dengan tarif  Rp. 50.000 – Rp. 80.000 PP tergantung negonya. Untuk pengendara harus hati hati karena medannya yang menanjak dan beberapa tempat kiri atau kanan kita adalah jurang.

Kami sampai di puncak B29 jam 06.00 wib, tidak bisa menikmati sunrise, disamping cuaca agak mendung, juga matahari sudah terbit. Tetapi pemandangannya yang disuguhkan alam Gn. Bromo memang menakjubkan, benar benar menakjubkan. Awan menyelimuti gn. Bromo dan lautan pasirnya yang luas. Pesona lautan pasir dengan latar belakang Gn. Bromo, Gn. Batok dan jauh dibelakang Gn. Arjuno disisi barat, sedang disisi selatan Gn. Semeru dengan puncak Mahamerunya juga kelihatan megah dan agung seta disisi timur Gn. Lemongan dan Gn. Argopuro (kab. Probolinggo), disisi utara kelihatan desa Sukapura yang merupakan akses termudah menuju Gn Bromo melalui Probolinggo.

Aliran awan yang mulai menghilang perlahan seperti mengalir dibibir jurang membuat suasana magis, sangat indah. Setiap kali saya kesini selalu menemukan keindahan yang terus berganti tak pernah kehilangan pesonanya, tak pernah kehilangan daya tariknya untuk menikamati kebesaran karya Tuhan. Alam yang harus dipelihara dan dimanfaatkan dengan bijak oleh manusia. Karena dengan demikian manusia juga yang akan menikmatinya, kelestariannya. Salah satunya adalah menjadi obyek wisata alam (pemandangan), wisata religi (Kasada), wisata Edukasi, maupun pengolahan tanah untuk bercocok tanaman sayur. Dengan kesuburan tanah yang baik dan pengolahan yang baik maka akan didapatkan hasil yang baik pula.


Puncak B29 berada diketinggian sekitar 3000 Mdpl, jadi tidak heran kalau tempat ini udaranya dingin dan selalu berkabut. Dan kalau kita mau menjelajah lebih jauh bisa juga ke puncak B30 puncak yang lebih tinggi lagi di sebelah barat laut dari puncak B29. Di puncak B30 ini terdapat Pura kecil yang biasa dipakai/tempat doa bagi saudara kita yang beragama Hindu Tengger. Dari tempat ini bisa dilihat lebih jelas puncak Gn. Semeru dan desa Sukapura. Dan merupakan perbatasan kab. Lumajang dan kab. Probolinggo. Agak jarang wisatawan kesini disamping jalannya menanjak dan sempit juga bagi sebagian orang sampai di puncak B29 sudah bisa menikmati Gn. Bromo dan sekitarnya.

Ladang Sayur
Di Puncak B29 maupun B30 kita bisa menikmati yang menjadi maskot pendaki yaitu bunga Edelweis (saya sarankan jangan petik bunga ini, demi kelestarian alam). Jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak, jangan bunuh sesuatu kecuali waktu, jangan ambil sesuatu kecuali gambar. Dan ada beberapa tumbuhan yang bisa kita nikmati (makan), redberry, kecalingan dll yang rasanya agak asem asem manis. Dan kali ini saya tunjukan pada kedua anakku dan keponakan. Tumbuhan sehat yang bisa dimakan, dan ternyata mereka sangat menyukainya walau dengan ekpresi lucu, karena rasanya yang asam manis. Membuktikan di alam banyak tersedia makanan yang bisa dikonsumsi, tapi harus hati hati agar tidak makan tumbuhan yang bisa membuat alergi atau bahkan beracun.

Matahari semakin tinggi, udara masih terasa dingin, dan ini yang kadang membuat kita coba berjemur, akhirnya kulit jadi terbakar tanpa disadari. Pemandanganpun juga mulai berubah, Sekitaran Gn. Bromo semakin jelas kelihatan, lautan pasir juga kelihatan membentang dengan lalu lalang kendaraan wisatawan. Bromo memang menakjubkan.

Tuesday, January 30, 2018

NEGERI DIATAS AWAN B29


Puncak B29 
Tempat ini sangat populer dikalangan traveler, terutama muda mudi. Apalagi 2 tahun belakangan ini, Semakin populer bagi mereka yang ingin menyaksikan Gunung Bromo dari sisi yang berbeda.
Puncak B29 berada di desa Argosari kecamatan Senduro kab Lumajang Jawa Timur. Dari kota Lumajang kearah Senduro sekitar 17 Km dan dilanjutkan sekitar 18 km lagi menuju desa Argosari.
Untuk mencapai lokasi ini bisa menggunakan angkutan umum dari Klojen ke Senduro hanya dibatasi sampai jam 17.00 wib sudah agak sulit mencari angkutan ini, tapi bisa juga menggunakan jasa ojek.


Negeri diatas awan
Dari desa Senduro bisa menggunakan jasa ojek sampai di puncak B29. Untuk lebih mudahnya memang harus menggunakan kendaraan pribadi, bila menggunakan kendaraan roda 4 maka harus parkir di rest area desa Argosari dan dilanjutkan menggunakan jasa Ojek (ongkosnya sekitar Rp. 80.000 PP), tapi kalau menggunakan kendaraan roda 2 bisa langsung ke Puncak B29.
Waktu yang tepat untuk mengabadikan kegiatan ini adalah pagi hari sekitar jam 04.30 - 06.00 Wib untuk menyaksikan matahari terbit dan awan yang mengambang dibawah puncak B29. Serasa kita berada diatas awan.

Latar belakang gn. Bromo, lautan pasir
Gunakan jaket agar tidak kedinginan dan wajib untuk menyiapkan kamera, handycam (minimal kamera HP,  hehehe,,,,,)
Pemandangan akan berganti setiap saat seirng waktu dan cuaca, inilah yang membuat puncak B29 begitu menarik untuk diabadikan. Setiap saat begitu indah, sayang dilewatkan untuk diabadikan sebagai oleh oleh.
Dalam perjalanan ke B29 atau sebaliknya, bisa melihat pemandangan penduduk suku Tengger yang sedang bercocok tanam sayuran, bawang pre (daun bawang), wortel, kol (kubis), kentang dll.

Puncak B29 diselimuti kabut pagi
Bercengkrama dengan penduduk setempat juga menjadi hiburan tersendiri, mereka sangat ramah terhadap pendatang (wisatawan). Kalau kita mau juga bisa ikut mencoba berladang dengan penduduk setempat. Hanya perlu kesiapan kita, karena medannya yang begitu curam, diantara lembah dan bukit. Kalau tidak terbiasa dipastikan napas akan ngos-ngosan. Belum lagi kalau mereka membawa hasil ladang dari lembah kejalan yang bisa diakses kendaraan, mesti dipikul. Jangan anda coba-coba untuk melakukannya, "tidak kuat, hahaha....". Biarkan saja mereka yang melakukan dengan caranya.


Latar belakang lautan pasir


SENDURO

Pura Mandara Giri Semeru Agung




Puri Dewi Rengganis











Desa disebelah barat kabupaten Lumajang  ini menjadi tempat aku dilahirkan. Tempat yang sejuk cenderung dingin dengan lingkungannya yang masih banyak kebun kopi, cengkeh, pisang dan pohon albasia serta hutan rimba kawasan Taman Nasional Bromo Semeru Tengger yang masih terjaga. Dan suku Tengger yang mendiami daerah Argosari dengan aktifitasnya bertanam sayuran, kentang bawang pre, kol, wortel dll. Untuk wilayah Senduro sendiri terkenal dengan buah pisang Agung yang menjadi maskot kota Lumajang, yang tidak akan ditemukan di daerah manapun di Indonesia.
Salak Pondoh
Pisang Mas
Api unggun di kebun
Untuk wilayah kecamatan Senduro banyak tempat yang bisa "di explore".
Air Terjun Manggisan
dikunjungi, Gunung Semeru, Gunung Bromo yang tidak asing lagi bagi sebagian besar orang pasti sudah mengenalnya bahkan sampai ke luar negeri. Dan yang lagi trend adalah puncak B29 negeri diatas awan, Pura Mandara Giri Semeru Agung, Pemandian Selokambang, Air Terjun Manggisan, Watu Klosot dan banyak tempat lain yang bisa dikunjungi.
Kali ini aku hanya ketempat disekeliling rumahku saja, depan rumah, Pura Mandara Giri Semeru Agung, Kebon Kopi dan Cengkeh kebun salak dan duren dibelakang rumah.
Oh ya rumah kami "Puri Dewi Rengganis" biasa dipakai sebagai home stay untuk saudara saudara dari Bali untuk berziarah ke Pura Mandara Giri Semeru Agung yang lokasinya tepat di depan, sangat strategis, apalagi saat acara Piodalan (Piodalan adalah wujud bhakti sebagai usaha untuk mencapai jagadhita yang dalam babad Bali)  biasanya bulan Juni atau Juli tiap tahunnya.

PERJALANAN 4 ( SENDURO - LUMAJANG - KEBUN WETAN)



Panen Salak


Durian, yang mulai membesar
Menikmati suasana rumah yang masih dikelilingi kebun (Salak, Duren, kopi) memang sangat menyenangkan, dengan udaranya yang sejuk dingin. Dan Pura Mandara Giri Semeru Agung yang megah di depan rumah juga memberikan kesan religi dan damai.
Kegiatan kali ini, bercengkerama dengan keluarga besar, dan panen salak yang kebetulan sudah waktunya panen. Sore hari kami bersama ke kebun “Wetan” (Kebun kopi, pisang, kelapa, cengkeh, duren), membuat api unggun untuk mengusir nyamuk, mengambil degan (kelapa muda) dan menikmatinya menjadi pengalaman tersendiri bagi kami, anak dan keponakan.
Beberapa pohon yang ada dikebun kami roboh/tumbang setelah beberapa hari sebelumnya di terjang siklon Dahlia. Setelah siklon tropis Cempaka terpantau menjauhi wilayah Indonesia, kini muncul siklon tropis Dahlia. Siklon tropis tersebut menyebabkan perubahan cuaca yang ekstrem seperti hujan deras dan angin kencang.  Pohon duren, pohon cengkeh yang sudah berumur 30 tahun lebih tumbang oleh siklon ini. Tidak hanya di kebun kami, tetapi hampir semua wilayah yang dilewati siklon ini mengalami hal yang sama. Pohon albasia yang menjadi andalan wilayah kami juga tidak lepas dari bencana ini, patah, tumbang, roboh. Bahkan pondok yang kami dirikan di kebun juga roboh.

Pondok yang sebagian roboh
Sebagian team
Tapi ini tidak membuat kegembiraan kami berkurang, kebahagiaan kami tetap tumbuh seiring tumbuhnya anak anak, keponakan kami. Tetap menikmati kebersamaan untuk menikmati kelapa muda, hangatnya api unggun, dan gigitan nyamuk (hahahahaha.....).
Mengajak anak-anak ke kebun membuat mereka menjadi lebih mengenal alam, lingkungan yang lain dari kesehariannya. Lebih mengenalkan pada mereka, tumbuhan cengkeh, kopi, pisang, kelapa, pete, duren dll. 
Dan antusias mereka untuk memetik kelapa muda sendiri yang kebetulan tidak terlalu tinggi, serta coba untuk membelahnya dengan caranya sendiri.

Saturday, January 27, 2018

PERJALANAN 3 ( PROBOLINGGO )



Perjalanan ke Lumajang dari Malang, kami lewat jalur utara (Malang, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang), walau sebenarnya agak malas lewat jalur ini karena dipastikan jalanan macet dan banyak kendaraan besar (truk, bus), tetapi karena ada janji dengan kakak sepupu dari Pasuruan dan dari Probolinggo maka ya sudah, harus lewat jalur ini. Benar saja Blimbing, Singosari, Lawang jalanan padat merayap. Tetapi setelah Purwosari karena sudah terpisah jalur Surabaya dan Pasuruan, maka jalanan lancar. Sampai di tempat janjian (Sari Kuring Probolinggo) kami harus menunggu kakak sepupu yang dari Krucil, sebuah desa dikaki gunung Argopuro yang indah (cek ke mbah google) sambil makan kenyang sambil ngantuk. Menyenangkan bisa bertemu dengan saudara, apalagi ketemu Gista (kakak sepupu punya anak, anaknya punya anak, namanya Gista) hehehe… jadi kalau manggil aku Embah ( yaaa….dipanggil embah, hehehehe). Lucu dan ternyata mau aku gendong walau belum pernah ketemu sebelumnya, rayuannya ………diajak naik odong odong di alun alun Probolinggo dan makan bakso stasiun. Karena semakin malam, maka kami lanjutkan perjalanan ke Lumajang dan berhenti sebentar di Leces untuk membeli mangga arummanis, yang harganya sanagat muarah karena sedang musim mangga. Dan sampai di rumah sekitar jam 23.00 wib.

Thursday, January 25, 2018

PERJALANAN 2 ( KEDIRI - MALANG )


Bunga yang bisa dibeli di Dewi Sri



Kali ini tujuan kami ke Lumajang, karena ada saudara yang juga tinggal di Malang, maka kami putuskan untuk menginap semalam di Malang. Perjalanan melalui jalur Kediri – Pare – Batu – Malang. Jalur ini sangat menarik karena di kanan kiri perjalanan pemandangan alam bisa dinikmati, walau jalan berbelok belok, dan mesti berhati hati. Masuk di daerah Pujon, kami berhenti di Dewi Sri, tempat wisata pemandian dan tempat jualan sayur, buah maupun bunga segar. Bagi para pelintas jalan ini, sayang kalau dilewatkan, karena harganya cukup murah untuk belanja keperluan dapur. Perjalanan dilanjutkan ke arah kota Batu, sebenarnya bisa juga mampir ke Air terjun Coban Rondo (sekitar 2 km) tetapi kali ini kami merelakan untuk tidak mampir.
Sayuran yang bisa dibeli di Dewi SRi
Mengenang masa kuliah, kami berhenti di Payung (istilah tempat istirahat di puncak kota Batu) untuk menikmati sate ayam dan sate kelinci. Di tempat ini banyak tersedia makanan maupun jajanan, sate kelinci, sate ayam, bakso malang, mie instan maupun jagung bakar. Pada malam Minggu biasanya ramai anak muda yang nongkrong disini dengan melihat pemandangan malam kota Batu. Jalanan berbelok belok dengan pohon Pinus dikiri maupun kanan. Kota Batu menjadi tujuan wisata yang menarik, karena menawarkan tempat wisata yang bervariasi, wisata alam maupun wisata buatan. Siapa yang tidak mengenal Jatim Park 1, Jatim Park 2 dan sekarang dibuka baru Jatim Park 3, Musium Angkut, wisata alam juga ada, air terjun (coban) Rondo, coban Talun, pemandian air panas Cangar, dan masih banyak yang lain.

Pemandangan dari payung
Perjalanan sempat tersendat, macet di daerah Dau, karena ada alat berat (excavator) yang jatuh dari alat angkut (trailer excavator). Sampai dirumah saudara di daerah Sawojajar, kami disuguhi tahu telor khas Malang yang sangat familiar buat lidah kami, sangat uenaak… Sebetulnya kami menunggu tukang bakso lewat, tetapi kali ini tidak lewat karena sudah larut malam.





Menikmati Sate kelinci

Tuesday, January 23, 2018

PERJALANAN 1 ( LAMPUNG - KEDIRI )

Bus Puspa Jaya

Mendengar kata liburan bagiku sangat menyenangkan. Musim liburan sekolah telah tiba, cukup lama dari tanggal 18 Des 17 – 4 Jan 18 dan aku sendiri cuti tgl 27-29 Des 17, karena ada hari Sabtu dan Minggu serta libur bersama maka aku off kerja 11 hari. Kali ini kami berempat (Hendro, Yuli, Albert, Bernard) liburan ke Jawa Timur karena kebetulan ada acara keluarga di Kediri dan Lumajang. Sempat agak panik, karena tiket Kereta api sudah full booking, pesawat harga tinggi, Bus juga sudah full booking. Walau akhirnya dapat bus Vip PO. Harga Tiket Rp 390.000 per orang. Puspa Jaya dengan tidak ada pilihan tempat duduk. Persiapan bekal makanan berat maupun ringan telah disiapkan untuk diperjalanan, karena pengalaman, bus tidak bisa berhenti ditempat makan meskipun sudah jam makan. Perjalanan dimulai dari pool Puspa Jaya di jalan Sukarno Hatta, jam 16.30 wib terlambat 30 menit dari jadwal. Perjalanan sampai penyeberangan Bakauheni, Merak lancar, hanya ketika sampai di Merak agak ngeselin, karena harus lewat jalur umum tidak lewat toll karena harus mencari minimarket untuk top up e-money sebagai alat pembayaran toll.
Pemandangan dalam perjalaban
Perjalanan lancar, sampai akhirnya di tol Kebon Jeruk tersendat, dan jalanan mulai padat di tol Cikampek. Macet juga terjadi di Pekalongan, Semarang, Salatiga dan di Caruban. Biasanya samapai di Kediri jam 17.00 wib, kali ini sampai jam 05.00 wib terlambat 12 jam.

Hari pertama (24 Desember 2017) di Kediri istirahat, sore ke Gereja untuk mengikuti Misa malam Natal. Dilanjutkan reuni keluarga besar Mbah Sodi, dari Kediri, Lampung, Surabaya, Malang. Menyenangkan bersama keluarga besar, berbagi cerita, hadiah, makan bersama, bergurau bersama sambil merencanakan rencana reuni rutin yang akan dilaksanakan sekali setahun. Kegembiraan berlangsung sampai jam 23.00 wib.

Monday, November 27, 2017

Awal dari Kehidupan

RIP VJ. SOELIHAM
Mendengar kata "mati, wafat, meninggal" pasti ada kesedihan yang menyertainya. Manusiawi sekali, kesedihan akan muncul ketika ditinggal orang yang dicintainya. Kebersamaan yang selama ini berlangsung akan secara jasmani terputus tak tersambung lagi. Tidak untuk menyentuhnya, tidak untuk berbicara, tidak untuk berinteraksi langsung, semua itu tdak lagi bisa dilakukan. Dan kematian itu memisahkan kebersamaan.
Proses kematian menjadi menakutkan bagi sebgaian orang dan sebaliknya menjadi proses yang indah bagi sebagian orang. Filipi 1:21 Karena bagiku hidup adalah Kristus   dan mati adalah keuntungan.
Ditinggalkan orang yang dikasihi memang sangat menyedihkan, kehilangan memang sangat menyakitkan.
Ingat ketika aku mestinya pulang ke rumah setelah hampir sebulan tidak pulang, di "kost"an di Malang dan memilih untuk ikut ke rumah salah satu teman di Jember. Sampai suatu saat aku mendapat khabar dari kerabatku kalau ibu ku masuk rumah sakit dan menyuruhku untuk segera pulang ke Nganjuk. Dan beberapa menit kemudian sebelum aku berangkat, mendapat khabar agar jangan ke Nganjuk tetapi ke Lumajang saja. Disini aku sudah punya firasat, ibuku sudah meninggal. Dimana sebelumnya aku harus ke Nganjuk tetapi beberapa menit kemudian diminta ke Lumajang saja. Itu terjadi sekitar bulan November 1993.
Peristiwa kedua yang sangat menyedihkan ketika beberapa tahun lalu sekitar bulan Maret 2010, kakakku harus masuk rumah sakit dan akhirnya Tuhan memanggilnya.
Kembali kesedihan manusiawi menghampiriku, Bapakku yang selama ini kulihat sehat, tegar harus beberapa kali masuk rumah sakit, harus operasi di RS Kediri, di RSAL Surabaya dan terakhir dirawat di RS Lumajang sampai akhirnya Tuhan memanggilnya.
Sore 11 Nov 17 khabar bapak masuk RS, jam 02.00 wib bpk drop dan jam 04.00 wib bapak dipanggil Tuhan. Khabar menyedihkan tetapi mesti direlakan.
Kematian benar benar menyedihkan bagi yang ditinggalkan, tetapi ini harus dipahami bahwa kematian harus terjadi, kepada siapapun, kapanpun, dimanapun. Harus dipahami juga bahwa kematian bukan akhir dari kehidupan, justru merupakan awal dari kehidupan abadi yang kita yakini.
Allah menghendaki agar semua manusia memperoleh kehidupan yang kekal (1Tim 2:4), sehingga Ia sendiri mengutus Putera-Nya yang tunggal sehingga barang siapa percaya kepada-Nya tidak akan binasa melainkan memperoleh kehidupan kekal (lih. Yoh 3:16). Demikian pula, Kristus menjanjikan kehidupan kekal bagi umat-Nya (lih. 1Yoh 2:25) dan menganugerahkan rahmat keselamatan ini dengan kedatangan-Nya ke dunia, kerelaan-Nya menderita dan wafat di kayu salib. Kristus berkata bahwa Ia sendiri akan mempersiapkan tempat bagi kita (lih. Yoh 14:2).