Friday, June 13, 2025

EKSPLORASI AIR TERJUN WAY TAYAS : PERMATA TERSEMBUNYI DI KAKI GUNUNG RAJABASA, LAMPUNG SELATAN

 1 April 2025

Perjalanan petualangan di alam terbuka selalu memberikan pengalaman yang mengesankan dan menjadi sumber inspirasi tersendiri bagi saya. Setiap langkah menuju alam liar membawa tantangan, keindahan, dan pelajaran baru tentang kehidupan. Salah satu aktivitas yang selalu saya tunggu adalah menjelajahi tempat-tempat wisata alam di Lampung, yang menyimpan banyak potensi keindahan yang masih alami.

Kali ini, bersama teman-teman dari komunitas Hasher Lampung, kami merencanakan sebuah perjalanan menuju Air Terjun Way Tayas, sebuah destinasi eksotis yang terletak di lereng Gunung Rajabasa, Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan.

Keindahan Alami Air Terjun Way Tayas

Air Terjun Way Tayas adalah salah satu air terjun tersembunyi yang belum terlalu ramai dikunjungi wisatawan. Dengan 
ketinggian sekitar 69 meter, air yang jatuh dari tebing batu menciptakan pemandangan yang dramatis dan memesona. Suara gemuruh airnya mengalun berpadu dengan kicau burung dan desir angin, menjadikan tempat ini sempurna untuk melepas penat dari kesibukan kota.

Keaslian alam di sekitar air terjun masih sangat terjaga. Rimbunnya pepohonan, udara yang sejuk, dan minimnya jejak modernisasi membuat tempat ini terasa seperti surga kecil di tengah belantara Lampung Selatan.

                                    Rute dan Akses Menuju Lokasi

Untuk mencapai Air Terjun Way Tayas, perjalanan dimulai dari pusat Kota Kalianda menuju arah Kecamatan Rajabasa. Perjalanan darat ini juga menyajikan pengalaman wisata tambahan, karena Anda akan melewati beberapa pantai indah dan populer seperti:

  • Pantai Guci Batu Kapal
  • Pantai Canti
  • Pantai Banding Resort
  • Pantai Wartawan 


Setelah melewati Pantai Wartawan, perhatikan papan petunjuk bertuliskan "Kawasan Wisata Gunung Rajabasa" atau "Sungai Way Tayas" di sisi kiri jalan. Jalur selanjutnya akan membawa Anda melalui area persawahan, kebun milik warga, dan jalan bebatuan, yang terutama perlu diwaspadai saat musim hujan karena menjadi licin dan berlumpur.

Akses kendaraan:

 

  • Roda dua: Bisa melanjutkan perjalanan hingga ke area parkir dekat loket masuk.
  • Roda empat: Hanya bisa sampai ke titik parkir awal di dekat pondokan. Disarankan untuk tidak menggunakan kendaraan dengan chasis rendah.

Perjalanan lanjutan:

  • Dari tempat parkir kendaraan roda empat ke loket memerlukan jalan kaki sekitar 30–40 menit.
  • Dari loket ke air terjun, lanjut dengan trekking selama 15–30 menit.


Jalur trekking tidak terlalu ekstrem namun tetap membutuhkan stamina yang cukup. Di sepanjang perjalanan, Anda akan dimanjakan oleh kebun kopi dan kakao, serta pemandangan khas pegunungan yang menenangkan jiwa.

Harga Tiket Masuk

Biaya yang dikenakan untuk masuk ke kawasan wisata ini cukup terjangkau:

  • Tiket masuk: Rp10.000/orang
  • Parkir motor: Rp5.000
  • Parkir mobil: Rp10.000


Harga ini sangat sepadan dengan pengalaman dan keindahan alam yang akan Anda nikmati.

Fasilitas dan Aktivitas yang Bisa Dilakukan

Meski tergolong wisata alam yang masih "perawan", beberapa fasilitas dasar telah tersedia di kawasan Air Terjun Way Tayas:

  • Pondokan di area loket untuk beristirahat sebelum atau setelah trekking.
  • Toilet umum yang bersih dan layak pakai.
  • Area kolam alami di bawah air terjun, dengan kedalaman di bawah 2 meter, cocok untuk mandi atau berenang santai.

Namun perlu diperhatikan, jangan terlalu dekat ke bawah jatuhan air terjun utama, karena terdapat potensi bahaya dari batuan atau material lain yang bisa jatuh dari atas.

Catatan penting:

  • Tidak ada warung atau penjual makanan di area air terjun. Bawalah bekal makanan ringan atau makanan berat dari rumah.
  • Bawa pakaian ganti jika Anda berencana untuk bermain air atau berenang.
  • Gunakan alas kaki yang nyaman dan memiliki grip yang baik, karena medan bisa licin dan berbatu.


Waktu Terbaik untuk Berkunjung

Air Terjun Way Tayas buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 16.30 WIB. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi hari, agar Anda punya cukup waktu untuk trekking, menikmati suasana, dan kembali dengan aman sebelum sore.

Sangat disarankan tidak berkunjung saat musim hujan, karena:

  • Jalur trekking menjadi lebih licin.
  • Aliran air terjun lebih deras, dan bisa membahayakan.
  • Kabut bisa menutupi pemandangan dan menyulitkan navigasi.

Nilai Ekologis dan Harapan

Selain menjadi tempat wisata, kawasan Gunung Rajabasa dan Air Terjun Way Tayas juga memiliki nilai ekologis penting sebagai habitat flora dan fauna endemik. Oleh karena itu, penting bagi setiap pengunjung untuk menjaga kebersihan dan tidak merusak alam sekitar. Bawa kembali 
sampahmu, dan hindari meninggalkan jejak yang dapat merusak lingkungan.

Penutup

Air Terjun Way Tayas bukan sekadar tempat wisata alam, tetapi sebuah pengalaman menyatu dengan alam. Trekking yang menantang, udara pegunungan yang segar, dan pemandangan air terjun yang menawan menjadikannya tempat yang cocok bagi 
para petualang sejati dan pencinta alam.

Jika Anda sedang mencari tempat untuk healing, mengejar momen keheningan, atau ingin menjajal sisi liar Lampung Selatan, maka Way Tayas adalah jawabannya.



Thursday, June 12, 2025

LELAH YANG MEMURNIKAN: GUNUNG RATAI DAN KONTEMPLASI DI KETINGGIAN

Keberangkatan kami untuk kedua kalinya menuju Gunung Ratai, Pesawaran, dimulai dengan berkumpul di Rumah Makan Chi Chi—milik salah satu anggota komunitas Lampung Hash—pada Minggu, 12 Mei 2025, pukul 06.20 WIB. Kali ini kami berangkat menggunakan tiga mobil, masing-masing milik Ko Anton, Ko Sunhin, dan Mas Heru.

Gunung Ratai, atau Gunung Pesawaran, merupakan stratovolcano aktif dengan ketinggian 1.682 meter di atas permukaan laut. Terletak di Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, gunung ini menjadi salah satu puncak tertinggi dan populer di kawasan tersebut. Secara administratif, ia berada di Kecamatan Way Ratai, sekitar 55–70 km dari Kota Bandar Lampung.

Perjalanan Menuju Basecamp

Perjalanan kami dari Bandar Lampung menempuh rute melalui Hanura dan Pantai Klara. Setelah sampai di pertigaan Padang Cermin, kami belok kanan menuju Pasar Umbul Kluwih. Di titik ini, kami menyewa mobil pick-up karena kendaraan roda empat tidak dapat melanjutkan ke desa terakhir. Jalanan mulai menantang, dengan aspal yang berlubang dan sebagian rusak. Perlu kehati-hatian ekstra, terutama karena jalurnya sempit dan hanya bisa dilalui satu mobil dalam satu waktu.

Setiba di kampung terakhir, area parkir sangat terbatas—hanya cukup untuk sekitar empat mobil. Kami sempat mengalami kendala: ban belakang mobil Mas Heru kempes, dan ban serep yang sulit dikeluarkan membuat kami tertahan cukup lama.

Menuju Basecamp Punggung Naga

Pukul 09.30 WIB, pendakian kami dimulai dari parkiran dengan menyusuri jalur kebun kopi. Jalur berupa tanah merah yang basah dan lengket akibat hujan semalam. Meski licin dan menanjak, suasana tetap ceria karena semangat dan canda tawa rombongan. Di sepanjang perjalanan, kami menikmati hijaunya tanaman kopi 
dan sesekali terlihat hamparan laut serta puncak gunung di kejauhan. Jalur ini masih bisa dilalui motor atau ojek lokal dengan tarif Rp 20.000 pulang-pergi.


Pukul 10.27 WIB, kami tiba di basecamp Punggung Naga, sebuah area terbuka yang biasa digunakan pendaki untuk berkemah sebelum melanjutkan ke puncak. Fasilitasnya cukup lengkap: lampu tenaga surya, dua kamar mandi dengan air bersih, serta tempat sampah terpisah untuk sampah organik dan non-organik. Beberapa pondok dan gardu pandang menambah daya tarik lokasi ini, cocok untuk istirahat dan berfoto.

Malam sebelumnya sempat turun hujan deras disertai angin kencang. Beberapa pendaki mengalami hypothermia karena kurangnya persiapan, tapi bersyukur mereka mendapat bantuan. Ini menjadi pengingat bahwa pendakian membutuhkan perencanaan matang—terutama dalam hal fisik dan perlengkapan.

Jalur Menuju Puncak Gunung Ratai

Pukul 11.25 WIB, saya bersama Pak Hadi, Azel, dan Dyank memutuskan melanjutkan perjalanan ke puncak, sementara yang lain memilih jalur ke air terjun Lidah Naga. Setelah makan siang dan beristirahat, kami bergabung dengan beberapa rombongan lain—termasuk dua pendaki perempuan dan sekitar 10 siswa SMA 15 Bandar Lampung.

1. Pintu Rimba (11.57 WIB)

Dari basecamp, kami menuju Pintu Rimba, batas antara kebun kopi dan hutan. Dari sini, kontur mulai menanjak dengan tanah yang masih basah. Hutan mulai rapat dan jalur makin sempit. Di sisi kiri, pemandangan laut terbuka terlihat sangat indah.

2. Pos 1 (12.07 WIB)

Tidak terlalu jauh dari pintu rimba, kami sampai di Pos 1. Jalur menuju pos ini masih menanjak dengan lintasan tanah merah licin. Beberapa pendaki terlihat terpeleset, meninggalkan jejak sepatu di tanah liat yang licin. Ranting dan akar menjadi pegangan penting.

3. Pos 2 (12.34 WIB)

Perjalanan ke Pos 2 cukup menguras tenaga. Vegetasi makin lebat dan jalur semakin tertutup semak. Kami sempat mengambil foto beberapa tanaman liar dan bunga hutan yang menarik. Di sini, jalur sedikit menyempit dan di beberapa bagian sangat licin.

4. Pos 3 (12.57 WIB)

Setelah menanjak terus, kami tiba di Pos 3—sebuah area datar dan cukup luas. Banyak pendaki berhenti di sini untuk istirahat. Jalurnya sedikit landai dibandingkan sebelumnya, meski tetap licin. Kami bertemu dengan beberapa pendaki yang sedang turun.

5. Pos 4 (13.27 WIB)

Jalur dari Pos 3 ke Pos 4 cukup berat. Awalnya datar, tapi kemudian menanjak tajam dan sangat licin. Saya beberapa kali harus membantu Azel, Dyank, dan pendaki lain untuk melewati jalur ini. Pegangan berupa akar dan ranting sangat membantu. Di Pos 4, jalurnya sempit tapi terbuka dengan pemandangan lembah dan sisi lain gunung.

6. Jalur Ekstrem & Persimpangan (14.01 WIB)

Setelah Pos 4, kami memasuki bagian jalur paling ekstrem di Gunung Ratai. Ini adalah tanjakan tercuram yang dilengkapi tali webbing. Jalur ini sangat menantang, terutama bagi pemula. Licin, berlumpur, dan berbahaya jika tidak hati-hati. Banyak pendaki harus saling membantu untuk melewatinya. Di ujung tanjakan, ada persimpangan jalur.

  • Ke kiri: spot foto Teluk Semangka.
  • Ke kanan: jalur langsung menuju puncak.

Kami sempat belok kiri untuk menikmati pemandangan Teluk Semangka yang spektakuler. Di sini, saya bertemu lagi dengan Robertus Bejo, RD. Bagas, dan RD. Desta, yang sebelumnya pernah mengajak saya mendaki ke Gunung Ratai.

7. Puncak Tugu (14.18 WIB)

Setelah puas berfoto, kami kembali ke persimpangan dan naik ke Puncak Tugu, puncak utama Gunung Ratai. Area puncaknya terbuka, cukup luas, dan sudah dipadati pendaki dari berbagai daerah. Udara terasa segar, dan rasa capek pun terbayar lunas dengan pemandangan luar biasa.

Turun Kembali ke Basecamp

Pukul 14.37 WIB, kami mulai menuruni jalur yang sama. Turun ternyata jauh lebih berat. Jalur licin membuat banyak pendaki terpeleset. Saya kembali membantu beberapa pendaki, termasuk Azel yang sudah kelelahan. Banyak pendaki pemula hanya memakai sandal atau sepatu lari, yang tentu sangat berisiko.

Pukul 17.12 WIB, kami tiba kembali di basecamp Punggung Naga. Masih ada Mas Heru, Mbak Yuli, dan Ci Lan yang menunggu, sementara yang lain sudah turun ke parkiran. Azel benar-benar kelelahan dan perlu dibantu turun, apalagi di jalur curam dan berlumpur.


Penutup

Gunung Ratai adalah destinasi pendakian yang menantang sekaligus menyenangkan. Jalur pendakiannya memberikan pengalaman yang lengkap: dari kebun kopi, hutan hujan tropis, tanjakan curam, hingga pemandangan laut dan lembah yang memukau. Tapi satu hal yang pasti—pendakian ke Gunung Ratai bukan hanya soal sampai ke puncak, melainkan bagaimana kita bersyukur atas setiap langkah, tawa, dan bantuan yang saling kita bagi sepanjang jalur.






 

 

Wednesday, June 11, 2025

CURUP PADAE - KESEGARAN ALAM DI JANTUNG WAY TENONG

Destinasi selanjutnya yang kami kunjungi adalah Curup Padae, sebuah air terjun indah yang terletak di Kecamatan Way Tenong, Kabupaten Lampung Barat. Air terjun ini terkenal dengan debit airnya yang deras dan kolam alami yang jernih, menjadikannya tempat favorit bagi para pencinta alam, terutama untuk berenang, bermain air, dan berfoto dengan latar pemandangan yang memukau.

Untuk mencapai lokasi, Anda dapat mengikuti Jalan Lintas Sumatera menuju Kecamatan Way Tenong. Setelah tiba di Simpang Mutar Alam, perjalanan dilanjutkan menuju lokasi air terjun dengan akses jalan yang cukup mudah dilalui.

Harga tiket masuk ke Curup Padae sangat terjangkau, hanya Rp5.000 per orang. Dengan harga tersebut, pengunjung sudah bisa menikmati berbagai aktivitas alam yang menyegarkan dan menyenangkan, di antaranya:

 

  • Berenang dan Bermain Air
    Nikmati kesegaran air terjun yang mengalir deras ke kolam alami yang jernih. Sangat cocok untuk melepas penat dan menyatu dengan alam.
  • Fotografi
    Abadikan momen indah bersama keluarga atau teman dengan latar belakang air terjun, hutan hijau, dan bebatuan eksotis yang menambah keindahan suasana.
  • Camping
    Di sekitar area air terjun tersedia lokasi yang memungkinkan untuk berkemah. Suasana alam yang tenang dan udara yang sejuk menjadikan pengalaman berkemah semakin berkesan, terutama bagi para pecinta petualangan.
  • Rafting dan Tubing
    Tak jauh dari Curup Padae, terdapat kawasan wisata seperti Padae Riverside Camping Ground yang menawarkan aktivitas arung jeram (rafting) dan tubing di sungai dengan aliran air yang jernih dan cukup menantang.

Curup Padae merupakan pilihan destinasi alam yang sangat tepat bagi wisatawan yang ingin merasakan kesegaran air pegunungan, berinteraksi dengan alam, sekaligus menikmati suasana yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Kombinasi keindahan, kesegaran, dan ketenangan membuat tempat ini layak menjadi salah satu destinasi unggulan di Lampung Barat.




 

 

 

Sekolah Kopi - Lampung Barat

Sekolah Kopi Lampung Barat terletak di Desa Sukajaya, Kecamatan Sumber Jaya, Kabupaten Lampung Barat. Berdiri di ketinggian sekitar 860 meter di atas permukaan laut, kawasan ini merupakan salah satu sentra penghasil kopi robusta terbesar di Indonesia.

Didirikan dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat, khususnya para petani kopi, Sekolah Kopi hadir sebagai pusat edukasi yang fokus pada peningkatan mutu fisik biji kopi robusta. Para petani dan pelaku usaha kopi diajak untuk lebih memahami proses budidaya, pengolahan, hingga pemasaran produk kopi berkualitas.

Selain berperan sebagai sarana pendidikan, Sekolah Kopi juga dikembangkan menjadi destinasi wisata unggulan Kabupaten Lampung Barat. Fasilitas yang tersedia cukup lengkap, antara lain gedung sekolah kopi, kedai kopi, gazebo, area bermain, serta penginapan dengan harga yang terjangkau. Untuk anak-anak, tersedia pula wahana permainan seperti mobil dan motor listrik mainan.

Jarak dari Sekincau ke Sekolah Kopi di Sukajaya sekitar 30 km, dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam perjalanan. Sepanjang perjalanan, pengunjung disuguhi pemandangan alam yang menakjubkan, udara sejuk khas pegunungan, dan hamparan kebun kopi yang luas.

Tempat ini sangat cocok untuk menikmati udara segar sambil bersantai, belajar tentang kopi, atau sekadar mengabadikan momen bersama keluarga dan teman. Namun, saat kunjungan kami, terdapat beberapa hal yang patut menjadi catatan untuk perbaikan. Pertama, banyaknya kabel listrik yang melintang di udara cukup mengganggu estetika pemandangan dan spot foto. Kedua, minimnya informasi atau penjelasan yang tersedia tentang kegiatan dan program Sekolah Kopi, terutama di hari libur saat jumlah pengunjung meningkat. Ketidakhadiran petugas saat itu juga membuat pengunjung kesulitan mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

Meski demikian, tempat ini tetap layak dikunjungi. Harga tiket masuk yang hanya Rp 3.000 per orang dan biaya parkir sebesar Rp 2.000 tergolong sangat terjangkau. Petugas yang kami temui pun ramah dan bersahabat, menambah kenyamanan selama berada di lokasi.

Sekolah Kopi Lampung Barat merupakan kombinasi menarik antara edukasi, wisata alam, dan rekreasi keluarga. Dengan beberapa perbaikan kecil, tempat ini berpotensi menjadi pusat pembelajaran dan destinasi wisata kopi yang lebih optimal di masa depan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


SEKINCAU, PERJALANAN KE NEGERI SEJUK DI LAMPUNG BARAT

Hari pertama, kami berangkat dari rumah pada hari Jumat, 6 Juni 2025 pukul 11.00 WIB menggunakan jasa travel dengan biaya Rp150.000 per orang. Rombongan kami terdiri dari 9 orang, bertepatan dengan momen long weekend yang membuat suasana jalanan cukup ramai.

Kami berhenti untuk istirahat makan siang di Warung Bakso Rudal 38 yang terletak di Candi Rejo, Way Pangubuan, Lampung Utara. Setelah cukup beristirahat dan mengisi tenaga, perjalanan kami lanjutkan menuju Sekincau.

Namun, di daerah Bukit Kemuning, salah satu kendaraan travel yang berangkat bersamaan mengalami kendala pada kipas pendingin. Mesin kendaraan mengalami overheat, dan setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata motor penggerak kipas dapat dibeli di toko spare part terdekat. Sayangnya, komponen kipas yang rusak tidak tersedia, sehingga teknisi harus mengakalinya agar kendaraan dapat kembali beroperasi. Setelah perbaikan darurat selesai, kami baru bisa melanjutkan perjalanan sekitar pukul 18.00 WIB, dan tiba di rumah yang kami tuju di Sekincau sekitar pukul 20.00 WIB.

Sekincau adalah sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung. Terletak pada ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut, wilayah ini menyuguhkan udara yang sejuk dan suasana yang tenang. Sekincau berjarak sekitar 40 km dari ibu kota kabupaten, Liwa, dan sekitar 220 km dari Kota Bandar Lampung. Perjalanan dari Bandar Lampung menuju Sekincau dapat ditempuh menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum seperti travel, dengan waktu tempuh sekitar 4 hingga 5 jam, tergantung kondisi lalu lintas dan cuaca.

Sekincau dikenal akan keindahan alamnya yang memukau. Salah satu daya tarik utamanya adalah Gunung Sekincau dengan ketinggian mencapai 1.718 meter di atas permukaan laut. Selain panorama alam, kawasan ini juga menjadi desa wisata rintisan yang menonjolkan pengolahan kopi serta produk-produk turunannya.

Mayoritas penduduk Sekincau bermata pencaharian sebagai petani. Luas lahan pertanian di wilayah ini mencapai sekitar 2.400 hektare, terdiri dari perkebunan dan lahan kering. Komoditas utama yang dihasilkan meliputi cabai, tomat, sawi, kentang, kubis, serta berbagai jenis umbi-umbian. Tak hanya itu, usaha peternakan seperti sapi, kerbau, kambing, domba, dan ayam ras juga turut berkembang di daerah ini.

Kawasan ini juga memiliki daya tarik wisata religi, salah satunya adalah Gua Maria Bunda Kerahiman yang menjadi tujuan ziarah dan wisata rohani bagi banyak pengunjung.

Selama di Sekincau, kami menginap di Rumah Susteran Hati Kudus Sekincau, sebuah rumah sederhana yang dikelilingi oleh kebun kopi dan taman bunga yang asri, serta dijaga oleh dua ekor anjing. Tempat ini telah beberapa kali menjadi tempat persinggahan kami. Dulu, rumah ini pernah dihuni oleh para suster Claris sebelum mereka pindah ke rumah baru yang berada lebih dekat dengan Gua Maria.

Sekincau selalu memberikan kesan damai dengan udara pegunungan yang segar dan keramahan penduduknya. Perjalanan panjang dan hambatan di jalan seolah terbayar lunas begitu tiba di tempat ini.

Hari Kedua – Jumat, 6 Juni 2025

Pagi itu kami bangun lebih awal, memanfaatkan waktu untuk berjalan-jalan menelusuri jalan setapak di sekitar kebun kopi yang sedang berbuah. Di kejauhan, matahari perlahan terbit di antara sela-sela daun kopi, menghadirkan pemandangan yang menyejukkan jiwa. Embun masih membasahi rumput dan tanah saat kami melintasi sebagian area tanaman sayur. Udara pagi yang segar dan kesejukan alam sekitar benar-benar menyegarkan, sementara di sisi lain terlihat para pekebun sibuk memupuk tanaman mereka.

Setelah menikmati keindahan pagi, kami kembali ke rumah para suster. Kami mandi dan sarapan dengan menu sederhana namun menggugah selera, sangat cocok dinikmati dalam sejuknya udara Sekincau. Hari ini kami berencana mengunjungi Gua Maria, melaksanakan Jalan Salib, dan mengikuti Misa Kudus di Kapel Biara Suster Klaris.

Pukul 09.40 WIB, kami memulai perjalanan rohani kami dengan memasuki gerbang Porta Sancta, tanda awal Jalan Salib. Kami memulai dari perhentian pertama: Yesus dijatuhi hukuman mati. Sembari mendaraskan doa, kami juga menikmati perjalanan spiritual yang berpadu dengan keindahan alam sekitar—bunga-bunga, buah kopi yang menggantung, udara yang sejuk, keheningan yang membawa kedamaian.

Jalan Salib (Via Crucis) merupakan serangkaian peristiwa yang menggambarkan penderitaan dan pengorbanan Yesus Kristus dalam perjalanan menuju penyaliban-Nya di Bukit Golgota. Tradisi ini sangat penting dalam Gereja Katolik, terutama pada masa Prapaskah dan Jumat Agung.

Empat belas perhentian Jalan Salib mencakup: Yesus dijatuhi hukuman mati, memanggul salib, jatuh tiga kali, bertemu Maria dan perempuan-perempuan Yerusalem, dibantu oleh Simon dari Kirene, diseka wajah-Nya oleh Veronika, ditanggalkan pakaiannya, disalibkan, wafat, diturunkan dari salib, hingga akhirnya dimakamkan.

Makna Jalan Salib bukan sekadar mengenang, tetapi mengajak kita untuk merenungkan secara spiritual penderitaan Yesus, mengidentifikasi diri dengan pengorbanan-Nya, serta mengalami pertobatan dan pemurnian iman dalam perjalanan hidup kita.

Setelah menyelesaikan Jalan Salib, kami singgah dan berdoa sejenak di Gua Maria Bunda Kerahiman, yang terletak dalam kompleks ziarah rohani yang asri. Di dalamnya terdapat juga Gereja Santo Fransiskus Asisi, Kapel Biara Santa Clara, dan biara para suster Klaris. Tempat ini dikelilingi oleh kebun kopi dan udara pegunungan yang sejuk, menjadikannya tempat berdoa yang damai dan tenang.

Tepat pukul 11.00 WIB, kami tiba di Kapel Biara Santa Clara, dan Misa Kudus segera dimulai. Misa kali ini dihadiri oleh kami berdua, satu keluarga peziarah dari Way Kanan, serta seluruh suster Klaris. Suasana hening dan penuh damai mengiringi perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh RP. Bartholomeus Didit Tri Haryadi, OFM.

Setelah Misa, kami sempat bercengkerama dengan beberapa suster, termasuk Suster Xavier yang kami kenal sejak awal berdirinya komunitas suster Klaris di Lampung. Sambutan hangat para suster sungguh menyentuh hati. Suster Xavier bahkan memberikan sebatang cokelat sebagai tanda kasih mereka kepada kami.

Awalnya kami hanya berniat untuk melakukan Jalan Salib, berdoa di Gua Maria, dan mengikuti Misa pagi. Namun, sambutan hangat dan perhatian yang tulus dari para suster sungguh membuat hari kami istimewa. Mereka bahkan menyiapkan makan siang dan mengajak kami menikmati teh hangat sambil berbincang santai. Tanpa terasa, waktu telah menunjukkan pukul 13.35 WIB.

Kami pun berpamitan, melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya: Wisata Sekolah Kopi di Sukajaya, Sumber Jaya. Sebelum beranjak, para suster dengan ramah membekali kami oleh-oleh ketela rambat (mantang) sebuah tanda cinta yang sederhana namun penuh makna.




 

Tuesday, June 10, 2025

LHHH, RUN 111, EARTH, ACTION, HARMONY

 Minggu, 8 Juni 2025

Jam : 07.00 Wib

Dress code : Bebas

Run Site : BackLand Coffee and Me

Bagelen, Gedong Tataan, Kab. Pesawaran.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap 5 Juni menjadi momentum untuk merenungkan dan merayakan hubungan kita dengan alam. Bersama Lampung Hash House Harriers (Lampung H3), tiga kata kunci ini  "Earth, Action, Harmony" menjadi panduan langkah.

Bumi (Earth) adalah rumah kita semua, tempat di mana petualangan Lampung H3 menjadi pengalaman yang selalu mengagumkan. Dari jalur kebun karet hingga tebing dan sungai, setiap lintasan adalah pengingat betapa beragam dan kayanya alam Lampung.

Namun, cinta pada bumi tak cukup hanya dengan menikmati pemandangan. Aksi (Action) adalah wujud nyata kepedulian kita. Di setiap jejak, mari kita berkomitmen untuk memungut sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan menjaga kelestarian alam yang kita lintasi.

Semua itu harus berjalan selaras. Harmoni (Harmony) adalah inti dari semangat Lampung H3: keseimbangan antara petualangan dan konservasi, antara kegembiraan dan tanggung jawab. Karena hanya dengan harmoni, bumi bisa tetap menjadi panggung indah bagi generasi mendatang.

Selamat Hari Lingkungan Hidup 5 Juni.

Mari kita terus melangkah, bertindak, dan menjaga harmoni di setiap langkah bersama Lampung Hash House Harriers

 

Backland Coffee and Me: Suasana Desa yang Menyegarkan di Tengah Alam Pesawaran

Backland Coffee and Me adalah sebuah kafe yang terletak di Jl. Bhayangkara, Dusun V, Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Kafe ini berada sekitar 2 km masuk dari jalan raya Tanjung Karang–Pringsewu, menyuguhkan suasana pedesaan yang asri dengan pemandangan sawah serta latar megah Gunung Betung.

Meski ukurannya tidak terlalu besar, suasana yang ditawarkan terasa hangat dan nyaman. Desain tempatnya yang sederhana namun estetik membuat kafe ini cocok untuk bersantai, ngobrol santai, atau sekadar menikmati kopi sambil menatap hamparan sawah.

Pada kesempatan kali ini, Backland Coffee and Me menjadi lokasi run site alias titik kumpul komunitas Lampung Hash House Harriers (LHHH) untuk kegiatan lari mereka yang ke-1111. Ini merupakan kali pertama kafe ini menjadi tuan rumah acara komunitas tersebut. Antusiasme para anggota cukup tinggi, terbukti dari kehadiran sekitar 60 orang pada Run 1111 hari Minggu ini.

Seperti biasa, kegiatan dimulai pukul 07.00 WIB, diawali dengan sesi foto bersama sebagai dokumentasi. Bagi komunitas LHHH, foto bersama bukan hanya tradisi, tetapi juga cara mengekspresikan keceriaan dan kebersamaan.

Rute lari kali ini cukup menyenangkan. Dimulai dari jalan kampung beraspal, para peserta disambut dengan suasana desa yang ramah. Setiap penduduk yang ditemui menyapa dengan hangat, dan kami pun membalas keramahan itu dengan senyum dan sapaan.

Setelah sekitar 2 km berjalan melewati permukiman warga, kami memasuki area persawahan. Sawah-sawah yang baru ditanami padi membentang luas sejauh mata memandang, menghadirkan ketenangan tersendiri. Di kejauhan, Gunung Betung berdiri megah, seolah memanggil untuk didaki. Spot ini menjadi favorit untuk berfoto karena keindahannya yang luar biasa.

Bagi kami yang sehari-hari bergelut dengan hiruk-pikuk kota, pemandangan seperti ini menjadi penyegar jiwa. Suasana desa, hijaunya sawah, dan latar pegunungan memberikan ruang untuk melepas penat dan menyegarkan pikiran.

Perjalanan kami juga melewati kebun jagung dan singkong, dengan jalur yang cukup teduh dan terlindung dari terik matahari. Menariknya, Run 1111 kali ini menghadirkan banyak “bonus”: jalur yang relatif datar, udara segar, serta lanskap alam yang menyejukkan. Sebuah pengalaman yang menyenangkan, berbeda dari biasanya yang cenderung menantang dengan tanjakan dan turunan.

Setengah perjalanan kami melewati sebuah kampung, lalu kembali menapaki pematang sawah sebelum akhirnya masuk ke kawasan Perkebunan Karet PTPN VII Way Berulu. Saat itu, jam menunjukkan pukul 08.33 WIB. Matahari bersinar terang, namun rimbunnya pepohonan karet memberikan kami naungan yang cukup nyaman. Meski tidak ada angin yang berhembus, suasana tetap terasa sejuk dan tidak terlalu panas.

Di kawasan perkebunan ini, kami bertemu dengan jalur hash yang sudah beberapa kali kami lewati sebelumnya saat lokasi lari berada di PTPN VII Way Berulu. Rute ini cukup familiar bagi kami, namun tetap menyenangkan untuk dijelajahi.

Perkebunan


karet ini juga menyuguhkan pemandangan yang estetik. Deretan pohon karet yang tinggi dan ditanam lurus menciptakan komposisi yang sempurna untuk diabadikan. Cahaya matahari yang menyelinap di antara pepohonan menambah kesan dramatis pada setiap jepretan foto.

Tiba-tiba kami dihadapkan pada sebuah sungai yang harus diseberangi, namun tidak ada jembatan. Pilihannya hanya dua: berbasah-basah atau melepas sepatu. Karena hanya sekali harus diseberangi, banyak dari kami memilih melepas sepatu agar lebih nyaman.

Perjalanan berlanjut kembali melewati pematang sawah yang sedang ditanami padi. Pemandangan di sini luar biasa indah, terutama dengan latar belakang Gunung Betung yang menjulang jelas di bawah langit biru. Tempat ini pun menjadi spot foto yang tak kalah estetik. Kami cukup lama berada di sini, mengabadikan pemandangan dan aktivitas para petani yang sedang menanam padi.

Sekitar pukul 09.25 WIB, kami tiba kembali di Backland Coffee and Me. Beberapa teman yang tidak mengikuti rute panjang sudah berkumpul lebih dulu. Kali ini, kami disambut dengan sajian mie dan teh panas yang cukup mengenyangkan setelah perjalanan yang cukup menguras tenaga.

Menikmati makanan dan minuman sambil bercengkerama di tempat bernuansa pedesaan, dengan pemandangan hamparan sawah dan Gunung Betung di kejauhan, sungguh menjadi pengalaman yang asyik dan menyenangkan. Suasana makin hidup saat beberapa teman mulai melantunkan lagu-lagu, menambah hangatnya kebersamaan kami pagi itu.

Hash kali ini menempuh jarak 9 km dengan rute datar melewati area perkampungan, sawah, kebun jagung, perkebunan karet PTPN VII.