Wednesday, January 31, 2018

PERJALANAN 5 ( PUNCAK B29 dan B30 )


Matahari terbit dilihat dari Puncak B29
Gunung Bromo dan lautan pasir
Sesuai janjiku pada Albert (anakku yang pertama) kalau mudik akan saya ajak ke Puncak B29, kali ini dengan Erlo (keponakan) dan Bernard (anak kedua) pergi ke dengan menggunakan 2 motor trail. Sebenarnya untuk menikmati pemandangan sunrise (matahari terbit) harus berangkat dari rumah jam 03.00 wib, tapi kali ini kami berangkat jam 05.00 wib. Dengan berbekal kamera DLSR, Camera Action, Camera HP, (tripot yang saya siapkan ternyata tidak ikut terbawa) kami berangkat, dan mesti menggunakan jaket tebal untuk mengusir dinginnya tempat yang kami kunjungi.

Perjalanan dari rumah (Senduro) hanya ditempuh sekitar 1 jam dengan menggunakan kendaraan roda 2 atau roda 4, jalanan yang menanjak dan berliku. Saat ini akses sudah lebih mudah, ingat waktu pertama kali ke Gn. Bromo sekitar tahu 1985, dengan jalur ini harus ditempuh seharian jalan kaki, fisik yang baik harus juga disiapkan karena medannya yang menanjak. Sepanjang perjalanan dari rumah ke Puncak B29 bisa menikmati pemandangan alam yang indah (hutan rimba, kebun sayur dan bukit bukit).
Bila menggunakan kendaraan roda 2, langsung menuju puncak B29, tetapi bila menggunakan kendaraan roda 4 harus berhenti di rest area yang telah disiapkan dan berganti dengan kendaraan roda 2 (ojek) dengan tarif  Rp. 50.000 – Rp. 80.000 PP tergantung negonya. Untuk pengendara harus hati hati karena medannya yang menanjak dan beberapa tempat kiri atau kanan kita adalah jurang.

Kami sampai di puncak B29 jam 06.00 wib, tidak bisa menikmati sunrise, disamping cuaca agak mendung, juga matahari sudah terbit. Tetapi pemandangannya yang disuguhkan alam Gn. Bromo memang menakjubkan, benar benar menakjubkan. Awan menyelimuti gn. Bromo dan lautan pasirnya yang luas. Pesona lautan pasir dengan latar belakang Gn. Bromo, Gn. Batok dan jauh dibelakang Gn. Arjuno disisi barat, sedang disisi selatan Gn. Semeru dengan puncak Mahamerunya juga kelihatan megah dan agung seta disisi timur Gn. Lemongan dan Gn. Argopuro (kab. Probolinggo), disisi utara kelihatan desa Sukapura yang merupakan akses termudah menuju Gn Bromo melalui Probolinggo.

Aliran awan yang mulai menghilang perlahan seperti mengalir dibibir jurang membuat suasana magis, sangat indah. Setiap kali saya kesini selalu menemukan keindahan yang terus berganti tak pernah kehilangan pesonanya, tak pernah kehilangan daya tariknya untuk menikamati kebesaran karya Tuhan. Alam yang harus dipelihara dan dimanfaatkan dengan bijak oleh manusia. Karena dengan demikian manusia juga yang akan menikmatinya, kelestariannya. Salah satunya adalah menjadi obyek wisata alam (pemandangan), wisata religi (Kasada), wisata Edukasi, maupun pengolahan tanah untuk bercocok tanaman sayur. Dengan kesuburan tanah yang baik dan pengolahan yang baik maka akan didapatkan hasil yang baik pula.


Puncak B29 berada diketinggian sekitar 3000 Mdpl, jadi tidak heran kalau tempat ini udaranya dingin dan selalu berkabut. Dan kalau kita mau menjelajah lebih jauh bisa juga ke puncak B30 puncak yang lebih tinggi lagi di sebelah barat laut dari puncak B29. Di puncak B30 ini terdapat Pura kecil yang biasa dipakai/tempat doa bagi saudara kita yang beragama Hindu Tengger. Dari tempat ini bisa dilihat lebih jelas puncak Gn. Semeru dan desa Sukapura. Dan merupakan perbatasan kab. Lumajang dan kab. Probolinggo. Agak jarang wisatawan kesini disamping jalannya menanjak dan sempit juga bagi sebagian orang sampai di puncak B29 sudah bisa menikmati Gn. Bromo dan sekitarnya.

Ladang Sayur
Di Puncak B29 maupun B30 kita bisa menikmati yang menjadi maskot pendaki yaitu bunga Edelweis (saya sarankan jangan petik bunga ini, demi kelestarian alam). Jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak, jangan bunuh sesuatu kecuali waktu, jangan ambil sesuatu kecuali gambar. Dan ada beberapa tumbuhan yang bisa kita nikmati (makan), redberry, kecalingan dll yang rasanya agak asem asem manis. Dan kali ini saya tunjukan pada kedua anakku dan keponakan. Tumbuhan sehat yang bisa dimakan, dan ternyata mereka sangat menyukainya walau dengan ekpresi lucu, karena rasanya yang asam manis. Membuktikan di alam banyak tersedia makanan yang bisa dikonsumsi, tapi harus hati hati agar tidak makan tumbuhan yang bisa membuat alergi atau bahkan beracun.

Matahari semakin tinggi, udara masih terasa dingin, dan ini yang kadang membuat kita coba berjemur, akhirnya kulit jadi terbakar tanpa disadari. Pemandanganpun juga mulai berubah, Sekitaran Gn. Bromo semakin jelas kelihatan, lautan pasir juga kelihatan membentang dengan lalu lalang kendaraan wisatawan. Bromo memang menakjubkan.

Tuesday, January 30, 2018

NEGERI DIATAS AWAN B29


Puncak B29 
Tempat ini sangat populer dikalangan traveler, terutama muda mudi. Apalagi 2 tahun belakangan ini, Semakin populer bagi mereka yang ingin menyaksikan Gunung Bromo dari sisi yang berbeda.
Puncak B29 berada di desa Argosari kecamatan Senduro kab Lumajang Jawa Timur. Dari kota Lumajang kearah Senduro sekitar 17 Km dan dilanjutkan sekitar 18 km lagi menuju desa Argosari.
Untuk mencapai lokasi ini bisa menggunakan angkutan umum dari Klojen ke Senduro hanya dibatasi sampai jam 17.00 wib sudah agak sulit mencari angkutan ini, tapi bisa juga menggunakan jasa ojek.


Negeri diatas awan
Dari desa Senduro bisa menggunakan jasa ojek sampai di puncak B29. Untuk lebih mudahnya memang harus menggunakan kendaraan pribadi, bila menggunakan kendaraan roda 4 maka harus parkir di rest area desa Argosari dan dilanjutkan menggunakan jasa Ojek (ongkosnya sekitar Rp. 80.000 PP), tapi kalau menggunakan kendaraan roda 2 bisa langsung ke Puncak B29.
Waktu yang tepat untuk mengabadikan kegiatan ini adalah pagi hari sekitar jam 04.30 - 06.00 Wib untuk menyaksikan matahari terbit dan awan yang mengambang dibawah puncak B29. Serasa kita berada diatas awan.

Latar belakang gn. Bromo, lautan pasir
Gunakan jaket agar tidak kedinginan dan wajib untuk menyiapkan kamera, handycam (minimal kamera HP,  hehehe,,,,,)
Pemandangan akan berganti setiap saat seirng waktu dan cuaca, inilah yang membuat puncak B29 begitu menarik untuk diabadikan. Setiap saat begitu indah, sayang dilewatkan untuk diabadikan sebagai oleh oleh.
Dalam perjalanan ke B29 atau sebaliknya, bisa melihat pemandangan penduduk suku Tengger yang sedang bercocok tanam sayuran, bawang pre (daun bawang), wortel, kol (kubis), kentang dll.

Puncak B29 diselimuti kabut pagi
Bercengkrama dengan penduduk setempat juga menjadi hiburan tersendiri, mereka sangat ramah terhadap pendatang (wisatawan). Kalau kita mau juga bisa ikut mencoba berladang dengan penduduk setempat. Hanya perlu kesiapan kita, karena medannya yang begitu curam, diantara lembah dan bukit. Kalau tidak terbiasa dipastikan napas akan ngos-ngosan. Belum lagi kalau mereka membawa hasil ladang dari lembah kejalan yang bisa diakses kendaraan, mesti dipikul. Jangan anda coba-coba untuk melakukannya, "tidak kuat, hahaha....". Biarkan saja mereka yang melakukan dengan caranya.


Latar belakang lautan pasir


SENDURO

Pura Mandara Giri Semeru Agung




Puri Dewi Rengganis











Desa disebelah barat kabupaten Lumajang  ini menjadi tempat aku dilahirkan. Tempat yang sejuk cenderung dingin dengan lingkungannya yang masih banyak kebun kopi, cengkeh, pisang dan pohon albasia serta hutan rimba kawasan Taman Nasional Bromo Semeru Tengger yang masih terjaga. Dan suku Tengger yang mendiami daerah Argosari dengan aktifitasnya bertanam sayuran, kentang bawang pre, kol, wortel dll. Untuk wilayah Senduro sendiri terkenal dengan buah pisang Agung yang menjadi maskot kota Lumajang, yang tidak akan ditemukan di daerah manapun di Indonesia.
Salak Pondoh
Pisang Mas
Api unggun di kebun
Untuk wilayah kecamatan Senduro banyak tempat yang bisa "di explore".
Air Terjun Manggisan
dikunjungi, Gunung Semeru, Gunung Bromo yang tidak asing lagi bagi sebagian besar orang pasti sudah mengenalnya bahkan sampai ke luar negeri. Dan yang lagi trend adalah puncak B29 negeri diatas awan, Pura Mandara Giri Semeru Agung, Pemandian Selokambang, Air Terjun Manggisan, Watu Klosot dan banyak tempat lain yang bisa dikunjungi.
Kali ini aku hanya ketempat disekeliling rumahku saja, depan rumah, Pura Mandara Giri Semeru Agung, Kebon Kopi dan Cengkeh kebun salak dan duren dibelakang rumah.
Oh ya rumah kami "Puri Dewi Rengganis" biasa dipakai sebagai home stay untuk saudara saudara dari Bali untuk berziarah ke Pura Mandara Giri Semeru Agung yang lokasinya tepat di depan, sangat strategis, apalagi saat acara Piodalan (Piodalan adalah wujud bhakti sebagai usaha untuk mencapai jagadhita yang dalam babad Bali)  biasanya bulan Juni atau Juli tiap tahunnya.

PERJALANAN 4 ( SENDURO - LUMAJANG - KEBUN WETAN)



Panen Salak


Durian, yang mulai membesar
Menikmati suasana rumah yang masih dikelilingi kebun (Salak, Duren, kopi) memang sangat menyenangkan, dengan udaranya yang sejuk dingin. Dan Pura Mandara Giri Semeru Agung yang megah di depan rumah juga memberikan kesan religi dan damai.
Kegiatan kali ini, bercengkerama dengan keluarga besar, dan panen salak yang kebetulan sudah waktunya panen. Sore hari kami bersama ke kebun “Wetan” (Kebun kopi, pisang, kelapa, cengkeh, duren), membuat api unggun untuk mengusir nyamuk, mengambil degan (kelapa muda) dan menikmatinya menjadi pengalaman tersendiri bagi kami, anak dan keponakan.
Beberapa pohon yang ada dikebun kami roboh/tumbang setelah beberapa hari sebelumnya di terjang siklon Dahlia. Setelah siklon tropis Cempaka terpantau menjauhi wilayah Indonesia, kini muncul siklon tropis Dahlia. Siklon tropis tersebut menyebabkan perubahan cuaca yang ekstrem seperti hujan deras dan angin kencang.  Pohon duren, pohon cengkeh yang sudah berumur 30 tahun lebih tumbang oleh siklon ini. Tidak hanya di kebun kami, tetapi hampir semua wilayah yang dilewati siklon ini mengalami hal yang sama. Pohon albasia yang menjadi andalan wilayah kami juga tidak lepas dari bencana ini, patah, tumbang, roboh. Bahkan pondok yang kami dirikan di kebun juga roboh.

Pondok yang sebagian roboh
Sebagian team
Tapi ini tidak membuat kegembiraan kami berkurang, kebahagiaan kami tetap tumbuh seiring tumbuhnya anak anak, keponakan kami. Tetap menikmati kebersamaan untuk menikmati kelapa muda, hangatnya api unggun, dan gigitan nyamuk (hahahahaha.....).
Mengajak anak-anak ke kebun membuat mereka menjadi lebih mengenal alam, lingkungan yang lain dari kesehariannya. Lebih mengenalkan pada mereka, tumbuhan cengkeh, kopi, pisang, kelapa, pete, duren dll. 
Dan antusias mereka untuk memetik kelapa muda sendiri yang kebetulan tidak terlalu tinggi, serta coba untuk membelahnya dengan caranya sendiri.

Saturday, January 27, 2018

PERJALANAN 3 ( PROBOLINGGO )



Perjalanan ke Lumajang dari Malang, kami lewat jalur utara (Malang, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang), walau sebenarnya agak malas lewat jalur ini karena dipastikan jalanan macet dan banyak kendaraan besar (truk, bus), tetapi karena ada janji dengan kakak sepupu dari Pasuruan dan dari Probolinggo maka ya sudah, harus lewat jalur ini. Benar saja Blimbing, Singosari, Lawang jalanan padat merayap. Tetapi setelah Purwosari karena sudah terpisah jalur Surabaya dan Pasuruan, maka jalanan lancar. Sampai di tempat janjian (Sari Kuring Probolinggo) kami harus menunggu kakak sepupu yang dari Krucil, sebuah desa dikaki gunung Argopuro yang indah (cek ke mbah google) sambil makan kenyang sambil ngantuk. Menyenangkan bisa bertemu dengan saudara, apalagi ketemu Gista (kakak sepupu punya anak, anaknya punya anak, namanya Gista) hehehe… jadi kalau manggil aku Embah ( yaaa….dipanggil embah, hehehehe). Lucu dan ternyata mau aku gendong walau belum pernah ketemu sebelumnya, rayuannya ………diajak naik odong odong di alun alun Probolinggo dan makan bakso stasiun. Karena semakin malam, maka kami lanjutkan perjalanan ke Lumajang dan berhenti sebentar di Leces untuk membeli mangga arummanis, yang harganya sanagat muarah karena sedang musim mangga. Dan sampai di rumah sekitar jam 23.00 wib.

Thursday, January 25, 2018

PERJALANAN 2 ( KEDIRI - MALANG )


Bunga yang bisa dibeli di Dewi Sri



Kali ini tujuan kami ke Lumajang, karena ada saudara yang juga tinggal di Malang, maka kami putuskan untuk menginap semalam di Malang. Perjalanan melalui jalur Kediri – Pare – Batu – Malang. Jalur ini sangat menarik karena di kanan kiri perjalanan pemandangan alam bisa dinikmati, walau jalan berbelok belok, dan mesti berhati hati. Masuk di daerah Pujon, kami berhenti di Dewi Sri, tempat wisata pemandian dan tempat jualan sayur, buah maupun bunga segar. Bagi para pelintas jalan ini, sayang kalau dilewatkan, karena harganya cukup murah untuk belanja keperluan dapur. Perjalanan dilanjutkan ke arah kota Batu, sebenarnya bisa juga mampir ke Air terjun Coban Rondo (sekitar 2 km) tetapi kali ini kami merelakan untuk tidak mampir.
Sayuran yang bisa dibeli di Dewi SRi
Mengenang masa kuliah, kami berhenti di Payung (istilah tempat istirahat di puncak kota Batu) untuk menikmati sate ayam dan sate kelinci. Di tempat ini banyak tersedia makanan maupun jajanan, sate kelinci, sate ayam, bakso malang, mie instan maupun jagung bakar. Pada malam Minggu biasanya ramai anak muda yang nongkrong disini dengan melihat pemandangan malam kota Batu. Jalanan berbelok belok dengan pohon Pinus dikiri maupun kanan. Kota Batu menjadi tujuan wisata yang menarik, karena menawarkan tempat wisata yang bervariasi, wisata alam maupun wisata buatan. Siapa yang tidak mengenal Jatim Park 1, Jatim Park 2 dan sekarang dibuka baru Jatim Park 3, Musium Angkut, wisata alam juga ada, air terjun (coban) Rondo, coban Talun, pemandian air panas Cangar, dan masih banyak yang lain.

Pemandangan dari payung
Perjalanan sempat tersendat, macet di daerah Dau, karena ada alat berat (excavator) yang jatuh dari alat angkut (trailer excavator). Sampai dirumah saudara di daerah Sawojajar, kami disuguhi tahu telor khas Malang yang sangat familiar buat lidah kami, sangat uenaak… Sebetulnya kami menunggu tukang bakso lewat, tetapi kali ini tidak lewat karena sudah larut malam.





Menikmati Sate kelinci

Tuesday, January 23, 2018

PERJALANAN 1 ( LAMPUNG - KEDIRI )

Bus Puspa Jaya

Mendengar kata liburan bagiku sangat menyenangkan. Musim liburan sekolah telah tiba, cukup lama dari tanggal 18 Des 17 – 4 Jan 18 dan aku sendiri cuti tgl 27-29 Des 17, karena ada hari Sabtu dan Minggu serta libur bersama maka aku off kerja 11 hari. Kali ini kami berempat (Hendro, Yuli, Albert, Bernard) liburan ke Jawa Timur karena kebetulan ada acara keluarga di Kediri dan Lumajang. Sempat agak panik, karena tiket Kereta api sudah full booking, pesawat harga tinggi, Bus juga sudah full booking. Walau akhirnya dapat bus Vip PO. Harga Tiket Rp 390.000 per orang. Puspa Jaya dengan tidak ada pilihan tempat duduk. Persiapan bekal makanan berat maupun ringan telah disiapkan untuk diperjalanan, karena pengalaman, bus tidak bisa berhenti ditempat makan meskipun sudah jam makan. Perjalanan dimulai dari pool Puspa Jaya di jalan Sukarno Hatta, jam 16.30 wib terlambat 30 menit dari jadwal. Perjalanan sampai penyeberangan Bakauheni, Merak lancar, hanya ketika sampai di Merak agak ngeselin, karena harus lewat jalur umum tidak lewat toll karena harus mencari minimarket untuk top up e-money sebagai alat pembayaran toll.
Pemandangan dalam perjalaban
Perjalanan lancar, sampai akhirnya di tol Kebon Jeruk tersendat, dan jalanan mulai padat di tol Cikampek. Macet juga terjadi di Pekalongan, Semarang, Salatiga dan di Caruban. Biasanya samapai di Kediri jam 17.00 wib, kali ini sampai jam 05.00 wib terlambat 12 jam.

Hari pertama (24 Desember 2017) di Kediri istirahat, sore ke Gereja untuk mengikuti Misa malam Natal. Dilanjutkan reuni keluarga besar Mbah Sodi, dari Kediri, Lampung, Surabaya, Malang. Menyenangkan bersama keluarga besar, berbagi cerita, hadiah, makan bersama, bergurau bersama sambil merencanakan rencana reuni rutin yang akan dilaksanakan sekali setahun. Kegembiraan berlangsung sampai jam 23.00 wib.

Monday, November 27, 2017

Awal dari Kehidupan

RIP VJ. SOELIHAM
Mendengar kata "mati, wafat, meninggal" pasti ada kesedihan yang menyertainya. Manusiawi sekali, kesedihan akan muncul ketika ditinggal orang yang dicintainya. Kebersamaan yang selama ini berlangsung akan secara jasmani terputus tak tersambung lagi. Tidak untuk menyentuhnya, tidak untuk berbicara, tidak untuk berinteraksi langsung, semua itu tdak lagi bisa dilakukan. Dan kematian itu memisahkan kebersamaan.
Proses kematian menjadi menakutkan bagi sebgaian orang dan sebaliknya menjadi proses yang indah bagi sebagian orang. Filipi 1:21 Karena bagiku hidup adalah Kristus   dan mati adalah keuntungan.
Ditinggalkan orang yang dikasihi memang sangat menyedihkan, kehilangan memang sangat menyakitkan.
Ingat ketika aku mestinya pulang ke rumah setelah hampir sebulan tidak pulang, di "kost"an di Malang dan memilih untuk ikut ke rumah salah satu teman di Jember. Sampai suatu saat aku mendapat khabar dari kerabatku kalau ibu ku masuk rumah sakit dan menyuruhku untuk segera pulang ke Nganjuk. Dan beberapa menit kemudian sebelum aku berangkat, mendapat khabar agar jangan ke Nganjuk tetapi ke Lumajang saja. Disini aku sudah punya firasat, ibuku sudah meninggal. Dimana sebelumnya aku harus ke Nganjuk tetapi beberapa menit kemudian diminta ke Lumajang saja. Itu terjadi sekitar bulan November 1993.
Peristiwa kedua yang sangat menyedihkan ketika beberapa tahun lalu sekitar bulan Maret 2010, kakakku harus masuk rumah sakit dan akhirnya Tuhan memanggilnya.
Kembali kesedihan manusiawi menghampiriku, Bapakku yang selama ini kulihat sehat, tegar harus beberapa kali masuk rumah sakit, harus operasi di RS Kediri, di RSAL Surabaya dan terakhir dirawat di RS Lumajang sampai akhirnya Tuhan memanggilnya.
Sore 11 Nov 17 khabar bapak masuk RS, jam 02.00 wib bpk drop dan jam 04.00 wib bapak dipanggil Tuhan. Khabar menyedihkan tetapi mesti direlakan.
Kematian benar benar menyedihkan bagi yang ditinggalkan, tetapi ini harus dipahami bahwa kematian harus terjadi, kepada siapapun, kapanpun, dimanapun. Harus dipahami juga bahwa kematian bukan akhir dari kehidupan, justru merupakan awal dari kehidupan abadi yang kita yakini.
Allah menghendaki agar semua manusia memperoleh kehidupan yang kekal (1Tim 2:4), sehingga Ia sendiri mengutus Putera-Nya yang tunggal sehingga barang siapa percaya kepada-Nya tidak akan binasa melainkan memperoleh kehidupan kekal (lih. Yoh 3:16). Demikian pula, Kristus menjanjikan kehidupan kekal bagi umat-Nya (lih. 1Yoh 2:25) dan menganugerahkan rahmat keselamatan ini dengan kedatangan-Nya ke dunia, kerelaan-Nya menderita dan wafat di kayu salib. Kristus berkata bahwa Ia sendiri akan mempersiapkan tempat bagi kita (lih. Yoh 14:2).

Friday, April 07, 2017

PUNCAK B29


Awal perjalanan, Pura Mandara Giri Semeru Agung
Gerbang Selamat Datang
Mendengar puncak B29 pertama kali setelah sekian tahun keluar dari kota kelahiranku Lumajang, menjadi pertanyaan, "Dimanakah itu?". Dan keponakanku yang masih TK menjelaskan dengan rinci, "Itu lho Pakde, di Bromo, jalan ini (sambil menunjuk jalan depan rumah) terus saja sampai deh nanti". Ealah.... kog aku baru dengar, ternyata B29 itu adalah istilah orang Perhutani untuk menandai lokasi / wilayah hutan. Dan itu sudah aku lewati sekitar 30 tahun lalu ketika aku ke Bromo melihat upacara Kasada, bersama beberapa saudaraku. Kami harus berjalan kaki mulai dari desa Senduro sampai melewati puncak B29 dan akhirnya turun ke lautan pasir Gn Bromo dan selanjutnya ke puncak Gn Bromo melewati tangga.
Indah
Namun sekarang untuk menuju ke puncak B29 tidak terlalu sulit,
karena dengan kendaraan sepeda motor bisa sampai parkiran yang disediakan penduduk dan berjalan kaki beberapa ratus meter, bahkan kadang kala bisa sampai puncak B29 atau B30.


Sunrise
Dari puncak B30
Dengan ditemani Iwan Subiantoro (keponakan) dan sepeda motor Honda, kami berangkat jam 04.00 wib, pagi, berharap perjalanan sekitar 1 - 1,5 jam bisa ditempuh untuk selanjutnya menikmati sunrise. Berbekal minuman dan sedikit camilan, serta tidak lupa senjata traveller, kamera DLSR + tripot. Dan jangan lupa jaket tebal, sarung serta penutup kepala, untuk menahan dinginnya cuaca.
Gn Semeru dilihat dari puncak B29
Iwan yang sudah terbiasa dengan track, begitu lincah menelusuri jalan aspal yg kadang berlubang.
Sampai di puncak B29 sekitar jam 05.15 wib, gelap dengan bintang yang berkedip, dingin menemani kami, belum ada pengunjung lain kecuali satu tenda yang tidak terdengar seorang pun, mungkin sedang lelap didinginnya puncak B30.
Kami harus tetap bergerak agar tubuh kami tetap hangat dan kacang yang kami bawa cukup membantu untuk selalu menggerakan mulut.

Iwan sang Pengendara
Dari ufuk timur samar samar mulai terlihat langit bersinar, kuning kemerahan. Sudah terasa keindahan yang dipancarkan oleh yang penguasa pagi. Warna merah mulai dominan dan biru juga mulai terlihat sedikit demi sedikit menghapus hitam.
Disisi barat Gn. Bromo mulai terlihat keagungannya, lautan pasir nampak begitu luas membentang, disisi Selatan Gn. Semeru dengan puncak Mahameru nya tidak mau ketinggalan. Ladang kentang, kol, bawang menghijau di sebelah timur. Pemandangan indah yang tidak akan ada dimanapun.

Salah satu Pura yang ada di lautan pasir 
Puas menyaksikan sang surya terbit dengan keagungannya, kami lanjutkan perjalanan ke Gn. Bromo melalui lereng selatan, jalan setapak yang memang biasa dipakai penduduk setempat ke desa Ranupani. Hanya orang orang yang pengalaman yang bisa melewatinya, karena medannya begitu berat, licin dan sempit serta berbahaya. Untungnya Iwan sudah beberapa kali melewatinya, sehingga hapal "medan"nya.
Satu jam kami menelusuri jalan berat, licin dan akhirnya sampai di plawangan (pertigaan antara ke Ranupane - Tumpang dan Gn Bromo). Ada penjual Mi goreng disini, dan kami melahap mi yang telah dipesan ditambah beberapa bakwan dan teh manis hangat.
Melintasi padang pasir kami bertemu dengan sekumpulan kendaraan roda 4 ( Toyota Hardtop), dan beberapa pengendara motor trail. Serta beberapa tempat dipakai untuk pre wedding, diantara semak, pohon perdu, pasir, bukit bukit kecil.
Meniti tangga ke puncak Gn. Bromo menjadi tantangan tersendiri, apalagi umur diatas 40 tahun, tetapi semangat tetap menyala. Tangga sudah tertutup debu vulkanik, sehingga sudah tidak seperti tangga lagi, hanya kelihatan tiang-tiang tangganya saja. Dan up.....akhirnya sampai juga di puncak Gn. Bromo. Indah, menakjubkan, mempesona, sangar, berbahaya, magis  menjadi satu identitas.
Gunung yang menjadi tempat suci bagi saudara kita umat Hindu Tengger.
Setelah puas
Sang Petualang
Angkutan resmi lautan pasir Gn Bromo


Lautan Pasir Gn Bromo
Turis manca negara pun takjub

Perjalanan pulang via Ranupani

Ranupani 

Sticker identitas pendaki Gn Semeru



Ranu Regulo
Pondok Pendaki Ranu Regulo

Thursday, May 15, 2014

GUNUNG BETUNG



Air Terjun Bawah
Menikmati dinginnya pagi
Mendengar Gunung Betung, bagi para penggiat alam bebas di Lampung tidak asing lagi. Lokasinya tidak jauh dari kota Bandarlampung, sekitar 15 km dan mudah dijangkau, baik dengan angkutan umum atau kendaraan pribadi.
Kegiatan alam bebas bagi keluargaku menjadi agenda tersendiri yang harus selalu ada dalam daftar kegiatan yang menjadi hobby kami selain traveling ke kota-kota di Indonesia dan beberapa negara.



Jernihnya air terjun
Pegunjung menikmati keindahan air terjun

Menanam biji-biji bengkuang
Air terjun atas
Kali ini kami berempat (aku, istriku, dan 2 anak laki-lakiku) bersama seorang teman yang sudah menjadi saudara kembali melakukan perjalanan pendakian ke Gn. Betung.  Dua tahun yang lalu kami mengendarai motor roda dua sehingga bisa sampai di tempat perkemahan lebih dekat, tetapi kali ini kami menggunakan mobil dan harus parkir di depan rumah penduduk, perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki, melewati kebun kakao, dibutuhkan sekitar 2 jam perjalanan dengan kontur jalan yang menanjak dengan kemiringan 45 derajat. Canda tawa anak-anak (Albert dan Bernard) sedikit melupakan lelahnya perjalanan dengan carrier di pundak. Kadang-kadang justru mereka yang memberikan semangat pada kami, "ayo semangat bu/pak, semangat" perjalanan sudah dekat, tinggal dua belokan lagi". Sampai di camp  sudah sekitar jam 19.00 wib, sudah ada 1 tenda berdiri dari teman-teman mahasiswa, kami kebagian ditempat yang sama seperti 2 tahun lalu kami berkemah. Setelah sebentar istirahat, kami lanjutkan dengan mendirikan  2 tenda, dan mencari kayu bakar untuk persiapan menghangatkan cuaca. Beruntung cuaca cerah sehingga kami bisa menikmati indahnya bintang dilangit dan kunang-kunang. Api unggun sudah menyala, saatnya membuat kopi untuk mengusir dinginnya malam.
Malam berganti pagi, dingin tidak terlalu menyengat, udara cerah pagi hari sangat bersahabat. Sarapan, kopi sudah kami nikmati, "narsis" kembali kami jalanni, foto dengan berbagai gaya dan tempat kami coba untuk hasil yang terbaik. Dan misi unuk menanam bengkuang di sekitar camp (perkemahan) kami lakukan di sekitaran lokasi perkemahan.
Team lengkap
Sekitar jam 11.30 wib kami mulai bersiap untuk berkemas dan melanjutkan perjalanan ke air terjun bawah, dimana sebelumnya kami foto-foto di air terjun atas dari ketinggian. Barang bawaan kami titipkan di mbah Sum, karena perjalanan ke air terjun bawah cukup curam dan berbahaya. Kami cukup bawa makanan kecil dan air minum secukupnya, serta jangan lupa membawa kamera.




Pacet, menjadi mainan Albert
Perjalanan ke air terjun bawah harap ekstra hati-hati, curam, licin dan jangan terburu-buru. Tetapi keindahan alam sekitar cukup melupakan kelelahan perjalannan, apalagi ketika sudah sampai di air terjun. Keindahan yang tersembunyi, airnya yang sejuk dan alam sekitar yang masih alami, membuat tempat ini menjadi favorit untuk dikunjungi. Ketinggian air terjun 30 meter atau lebih, sangat bagus untuk menjadi obyek foto meskipun pencahayaan yang kurang karena lokasinya yang berada di lembah.