Monday, July 30, 2018

RAK BUKU KAYU PINUS



Buku buku yang kami miliki memang perlu tempat / rak yang cukup kuat dan tentunya juga sebagai interior minimalis, modern dan rustic. Pilihannnya adalah kayu pinus bekas pallet AC yang sudah tidak terpakai lagi. Kayu pinus memiliki serat kayu yang bagus, dipakai sebagai bahan rak tanpa finishing pun sudah cukup menambah indah interior.
Kayu pinus sangat familiar dengan para pendaki gunung, karena memang kayu ini tumbuh di ketinggian. Kayu pinus identik dengan udara sejuk/dingin. Bila kita berada dibawah kayu pinus yang sedang ditiup angin, akan terdengar suara yang semilir. Kayu pinus juga menghasilkan getah yang banyak digunakan untuk bahan cat, cosmetic maupun wewangian.
Kali ini rak buku yang kami buat sederhana tetapi bisa menambah interior dalam rumah. Baunya yang wangi juga menambah manfaat kayu pinus sebagai pewangi alami.

Tuesday, July 24, 2018

KESEIMBANGAN




Menciptakan suasana alam di rumah tinggal sungguh menyenangkan, banyak hal bisa kita lakukan dengan tanaman bunga, buah, dan sayuran. Memanfaatkan lahan sempit samping, depan atau depan rumah untuk tanaman setelah ruang untuk penghuni sudah cukup luas. Memberi kesempatan makhluk lain juga mendapat ruang yang cukup untuk hidup.  Agar kehidupan menjadi seimbang.
Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan menanam pohon buah (jambu Jamaika, Jambu biji merah, Jamblang/Juwet), strawberry, pohon kamboja, pohon gaharu juga tanaman bunga (mawar, aster, tabat barito, bunga matahari, kamboja jepang dll) dan juga tanaman sayuran (sawi, selada, kangkung, bayam merah dll). Selain menjaga keseimbangan ekosistem juga bisa menjadi pemandangan hijau yang selalu bisa dinikmati setiap saat.
Dinding  kaca kamar tidur utama memang dibuat lebar menghadap lahan samping dengan tujuan cahaya bebas masuk kedalam ruang walau bukan sinar langsung matahari. Dengan demikian cahaya bisa didapatkan dari cahaya alam baik siang maupun malam, dalam hal ini mengurangi konsumsi pemakaian listrik. Dinding kaca juga menjadi akses bebas menikmati suburnya tanaman bunga, sayur dan buah di lahan samping.

Tuesday, June 26, 2018

SWEET SEVENTEEN


Usia 17 Tahun atau biasa disebut sweet seventeen bagi sebagian orang sangat spesial, tetapi bagi sebagian orang biasa biasa saja. Kali ini Albert Ardyatma anak pertamaku genap berusia 17 Tahun pada tanggal 8 Juni 2018. Sudah kami tawarkan mau dirayakan secara spesial bersama teman-teman dengan mengundang mereka ditempat makan atau dimanapun, tetapi Albert lebih suka dirayakan bersama kami, Bapak, ibu, dan adiknya dengan perayaan sederhana. Kue tart, lilin, soto spesial buatan ibunya dan boleh pesen makanan apapun yang dia suka. Ternyata dia pesen Pizza Hut via gofood. 
Dibuka doa bersama dengan menyertakan rasa syukur, harapan kepada Tuhan kami merayakan ulang tahun Albert dengan pesta kecil sederhana. Kebahagiaan bagi keluarga kecil ini dikaruniai anak yang semakin besar, semakin dewasa, dan tentunya sehat. 
Banyak hal yang bisa aku petik dari peristiwa ini, menjadi orang tua yang semakin  menjadi lebih bijak, kesederhanaan dan kekompakan, saling pengertian, kepercayaan  dan memahami menjadi jalan untuk melangkah ke dalam masa depan. Rasa syukur atas berkat yang begitu berlimpah bagi keluarga kami yang selalu hadir setiap dibutuhkan.


Monday, May 28, 2018

TANJUNG PINANG PART 3




Hari ini kami mengunjungi tempat tempat wisata disekitaran kota Tanjung Pinang diantaranya Hutan Wisata Manggrove Sei Carang, sebuah tempat wisata di tepi sungai (sei) Carang yang berada di daerah Senggarang, Tanjung Pinang. Lokasinya tidak jauh dari jembatan Gugus yang juga menjadi tempat yang bagus untuk menikmati hari.
Manggrove merupakan hutan bakau yang tumbuh di air payau
dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hutan ini tumbuh pada tempat tempat dimana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Hutan manggrove harus dijaga kelestariannya karena hutan ini bisa mencegah terjadinya abrasi dan merupakan tempat yang baik untuk berkembang biaknya biota laut.
Untuk menuju ke wisata Sei Carang setelah jembatan Sei Carang lurus sampai ketemu perempatan, dan anda belok kiri, sekitar 200 meter sudah sampai di lokasi. Jalannya aspal mulus. Dan anda akan masuk melalui gerbang Cagar Budaya dan Situs, karena memang lokasi berada satu area. Anda bisa belajar banyak dengan situs ini, karena situs ini merupakan situs yang dilindungi melalui UU RI No 5 Th 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Area pemakaman Kerajaan Riau-Johor-Pahang-Lingga (Kota Raja / Kota Lama) Hulu Riau- Sungai Carang.
Pada saat kami mengunjungi tempat ini, tidak ada penjaga hanya ada beberapa petani yang sedang menyadap nira pohon kolang kaling. Dengan minta ijin mereka, kami berkeliling area ini. Sayang memang tempat yang seharusnya dirawat tetapi sudah terbengkalai. Fasilitas wisata sudah banyak yang rusak, pelabuhannya banyak berkarat, cottage rusak, toilet tidak ada air, dan jembatan menuju hutan mangrove lapuk.
Tetapi bagi kami sudah cukup bagus, karena bisa menyaksikan panen nira dan melihat cagar budaya. Dan masih banyak binatang liar yang kami lihat, burung, lebah, monyet.


 Puas menikmati wisata cagar budaya Sei carang, perjalanan kami lanjutkan, tidak jauh dari jembatan Sei Carang kami mampir di sebuah gubuk (kalau disebut rumah juga tidak layak) dan ditemui dua orang anak, dan yang seorang menerangkan dengan gamblang tentang keberadaannya. Tanah yang mereka diami merupakan tanah sengketa yang menurut mereka adalah tanah adat yang diserobot oleh pihak lain. Tanah peninggalan yang merupakan tanah cagar budaya. Di gubuk itu juga banyak benda benda cagar budaya yang merupakan koleksi peninggalan sejarah warisan Melayu, seperti
tombak, lampu, dll. Dari Jalan terlihat jelas tulisan Museum Sri Melayu.








Dan perhentian kami selanjutnya adalah Makam Sultan Riau I, yang merupakan lokasi Benda Cagar Budaya. Merupakan makam Sultan Riau I (Riau-Johor-Pahang), Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah


Wednesday, May 16, 2018

TANJUNGPINANG PART 2

Hutan Mangrove

Setelah sarapan, perjalanan kami lanjutkan dengan mengendarai motor Yamaha NMAX yang dipinjami seorang teman ke sebuah tempat wisata hutan mangrove yang memang banyak ditemukan disekitar Tanjungpinang yang dikelolala masyarakat. Belum selesai puas menikmati puasnya hutan magrove, kami di telpone teman untuk ketemu di hotel yang memang kami janjian untuk pergi keliling pulau Bintan.




Vihara Ksitigarbha Bodhisattva
Vihara seribu patung
Vihara Ksitigabha Bodhisattva
Bersama keluarga Yuan, kami berencana pergi ke pantai Trikora dan pantai Lagoi. Dalam perjalanan kesana kami mampir ke sebuah vihara yang cukup terkenal dan besar yaitu Vihara Ksitigarbha Bodhisattva yang sering disebut orang Vihara seribu patung. Tempat peribadatan umat Budha ini terbuka untuk umum dengan memperhatikan kesakralan dan ketertiban. Vihara yanga hanya berjarak sekitar 14 km dari kota Tanjungpinang ini bisa ditempuh sekitar 20 menit. 

Vihara Avalokitesvara
Vihara Avalokitesvara











Selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju Vihara Avalokitesvara yang berada di kelurahan Air Raja kota Tanjungpinang, sekitar 12 Km dari kota Tanjungpinang, sebelah kiri jalur lintas Tanjungpinang – Tanjunguban. Vihara ini merupakan Vihara terbesar di Asia Tenggara.

Pantai Trikora
Pantai Trikora
Puas menikmati keindahan, kemegahan Vihara Avalokitesvara, kami menuju ke pantai Trikora yang menjadi salah satu tujuan wisata lokal maupun mancanegara. Jaraknya sekitar 45 Km dari kota Tanjungpinang, jalan yang lebar dan bagus, membuat perjalanan cukup lancar. Sebelum sampai di pantai Trikora, kami berhenti di desa Kawal untuk berbelanja makanan kecil yang menjadi favorit yaitu otak otak yang dibungkus daun kelapa dan tape singkong. Pantai Trikora cukup bersih dan nyaman untuk keluarga, pantai landai, ombak tidak terlalu besar sehingga aman untuk bermain anak-anak. Laut cukup bersih, pasir putih dan pohon kelapa membuat indahnya pantai Trikora begitu menawan.











Gerbang Masuk Bintan Resort
Perjalanan kami lanjutkan menuju pantai Lagoi, sebuah kawasan Wisata dengan banyak Resort. Tempat wisata yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara, sebuah kawasan wisata yang tertutup, untuk masuk kawasan ini diperlukan pemeriksaan khusus.






Senja di Lagoi Resort






TANJUNG PINANG PART 1




Pulau pulau kecil di Batam
Bandara Hang Nadim Batam

Mendarat di bandara Hang Nadim Batam kami dijemput oleh bu Liliana bersama suami dan kedua anaknya. Menyenangkan berkenalan dengan keluarga ini, keluarga muda yang sudah lama tinggal di Batam dari asal mereka Solo. Sebelum kami diantar ke pelabuhan penyeberangan Ferry Telaga Punggur Batam untuk menyeberang ke pelabuhan Ferry Sri Bintan Pura Tanjungbintang kami makan sambil bercengkerama dengan keluarga ceria ini.
Loket tiket ferry penyeberangan
Di pelabuhan Ferry Telaga Punggur, kami membeli tiket penyeberangan dengan harga tertulis Rp. 52.000, tetapi di tiket tertulis Rp. 57.000 per orang. Tidak terlalu lama untuk mengantri, karena keberangkatan kapal penyeberangan hanya berselang 30 menit. Tidak terlalu banyak penumpang yang akan menyeberang, hanya terisi 40 persen dari kapasitas kapal.

Penyeberangan antar pulau ini cukup menarik karena melewati beberapa pulau kecil, penambangan minyak lepas pantai. Kapal ferry (oceanna 2) yang kami tumpangi cukup bagus, bersih dan cepat, penyeberangan bisa ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam.
Ferry antar pulau

Di pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang kami dijemput oleh Yuan bersama suami dan anaknya. Berkeliling di kota Tanjungpinang mampir ke rumah Yuan dan ngopi ditepi laut di kedai Tepi Laut sambil menunggu sunset. Tetapi sunset yang kami tunggu tertutup awan, sehingga berencana mencari tempat lain yang mungkin lebih bagus.





Sunset dari jembatan Dompak
Kami pergi ke salah satu ikon kota Tanjungpinang yaitu jembatan Dompak yang memiliki panjang 1,5 Km, dengan lebar 14 meter ( 4 lajur). Jembatan yang menghubungkan pulau Dompak dan Tanjungpinang ini sangat megah dan menjadi ikon baru bagi masyarakat Tanjungpinang. Setiap sore banyak anak muda menjadikan jembatan Dompak tempat nongkrong, bercengkerama dengan temannya sambil menikmati sunset yang begitu indah. Dan bagi wisatawan bagus juga tempat ini untuk mengabadikannya dalam kenangan foto dan cerita. Dibeberapa tempat juga sudah ada pedagang (café jalanan) yang menyediakan minuman maupun makanan ringan sambil duduk santai.

Gonggong siap masak
Setelah kami check in hotel, kami membersihkan diri dan lanjut menelusuri kota Tanjungpinang yang memang indah dimalam hari, apalagi malam minggu. Dan dalam kesempatan ini kami makan di lokasi Laman Boenda, banyak menu yang disajikan sate padang, seafood dan andalan serta mejadi favorit khas  daerah ini adalah olahan gonggong (siput laut) yang konon di Tanjungpinang olahan masakan ini yang paling lezat. Gonggong banyak disajikan dalam menu gonggong tumis, gonggong saus tiram, gonggong sate, gonggong pedas manis, gonggong rebus dan sambal jeruk, tinggal pilih menu sesuai selera.

Laman Boenda
Menikmati malam bersama keluarga di sekitar gedung gonggong yang lokasinya ditepi laut menjadi hiburan bagi masyarakat Tanjungpinang. Area yang cukup luas, bersih dan tertata menjadikan malam semakin indah dengan lampu yang menyinari gedung Gonggong yang selalu berubah. Sebuat tempat favorit bagi keluarga di Tanjungpinang untuk menghabiskan malam sambil bersosialisasi.

MALAM REFLEKSI BURUH MIGRAN

Tanggal 1 Mei diperingati sebagai hari buruh Internasional dan dikenal juga dengan May Day.
Banyak kegiatan buruh atau kelompok buruh untuk memeperingatinya, ada workshop, demo, pelatihan penguatan serikat buruh, dan lain lain. Kali ini Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Kerahiman Ilahi Tiban Batam memperingati dengan acara Malam Refleksi Buruh Migran. Acara yang diadakan di pelataran Gereja Katolik Kerahiman Ilahi Tiban Batam ini dikemas dalam diskusi, pembacaan puisi, lagu, drama remaja. Acara yang dihadiri berbagai elemen ini diantaranya, kelompok buruh, OMK, pekerja seni, THS THM, sastrawan dll.
Diawali dengan tarian nona Singapura acara dibuka buka sekitar jam 19.30 wib. Acara yang dimotori oleh Rm. Paskalis ini sangat menyentuh sekali karena banyak melibatkan orang muda dan buruh serta seniman. 
Diskusi perburuhan dengan beberapa nara sumber diantaranya Ch. Dwi Yuli Nugrahani (Penggiat GATK, Penulis), Romo Eko Aldilanto O Carm (Sekretaris Eksekutif Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau KWI), Wahyu Susilo (Direktur Eksekutif Migran Care) dan Simanjuntak.


Friday, April 27, 2018

TRANFORMASI



Dimulai awal bulan Februari 2018, rumah yang kami tinggali beberapa tahun mesti direnovasi karena atap, plafon sudah rusak. Karena memang rumah yang kami beli dibangun tahun 1998, type 21 luas tanah 175 meter persegi (10 meter x 17,5 meter). Cukup luas untuk ukuran tanah di perumahan. Ya... kami membelinya dengan meneruskan kredit ke bank BTN dengan iuran sekitar Rp. 97.000.
Dengan pertimbangan matang, karena banyak pohon yang harus kami tebang, harus dikorbankan, pohon jambu biji merah, pohon sirsat (2 pohon), pohon anggur, pohon lengkeng, pohon jambu jamaika, buah naga, pohon salam, anggrek tanah, pohon cacao, akhirnya kami merenovasi rumah.
Buat kami tanaman itu sangat bermanfaat, sebagai peneduh, resapan air hujan dan penting lagi buahnya menjadi asupan vitamin gratis setiap saat.

 Dan yang "tragis" burung pipit yang bersarang dipohon klengkeng jadi berkurang, juga burung kutilang yang selalu mampir sekarang entah kemana.
Tapi itulah resiko perubahan, resiko tranformasi yang mesti dihadapi. Yang jelas masih ada beberapa pohon yang siap dijadikan sarang mereka, diantaranya pohon jambu Jamaika, pohon Juwet (jamblang), pohon jambu merah yang aku tanam lagi walau masih ukuran 3 meter.
Dan akan aku siapkan kolam ikan, sangkar/kandang burung yang cukup luas dan tanaman bunga dan buah serta sayur. Sedang aku                                                            rancang semacam vertical garden untuk tanaman bunga dan sayur.

Itu rencana kami, rumah yang terbuka buat siapapun yang ingin berkarya, teman-teman, wartawan, sastrawan/wati, penulis, warga lingkungan, saudara, teman, burung, lebah, kelelawar, ikan, dll. Silahkan untuk menginap dirumah kami kapanpun diperlukan. Ada beberapa kamar yang siap digunakan, dapur terbuka untuk masak, dan ruang terbuka untuk nongkrong, diskusi atau sekedar duduk ngopi.














Wednesday, April 18, 2018

SARAPAN PECEL MADIUN DI BANDARLAMPUNG


Hari ini harus bangun lebih pagi karena harus mempersiapkan segala sesuatu untuk memulai aktifitas. Pulang dari kantor jam 23.30 wib, membereskan rumah, mandi dan dilanjut istirahat, tidur. Aku stel alarm jam 04.30 wib karena bangun harus lebih pagi untuk mempersiapkan sarapan, membereskan rumah, mempersiapkan kebutuhan tukang (makanan, minuman, kue-kue). Mengantar anak ke sekolah  harus berangkat lebih pagi karena di beberapa titik ada kemacetan pada waktu-waktu teetentu, yaitu waktu berangkat sekolah/kerja dan waktu pulang sekolah/kerja. Dan diperparah dengan adanya pembangunan underpass di pertigaan Unila, jalan menyempit dan antrian kendaran menyebabkan kemacetan parah.


Belum sempat sarapan, akhirnya aku mampir ke pasar Bambu Kuning, untuk membeli pecel pincuk pinggir emperan toko. Yang jual ibu ibu dari Ponorogo, yang beli biasanya pekerja pasar, penjual, pembeli di pasar Bambu Kuning. Pecelnya enak dengan komposisi sayurannya lengkap, daun pepaya, daun bayam, tauge, kemangi, kembang turi, pete cina dan ditambah srundeng dan pelengkap sempurna peyek kacang, teri, dan tempe goreng. Sampai saat ini baru ditempat ini aku menemukan penjual pecel seperti ini di Bandarlampung. Untuk membelinya mesti pagi hari antara jam 06.00 - 08.00 wib, itu kalau kebagian. harganya cukup Rp. 7.500 perbungkus.

Sebenarnya ibunya juga yang jual, tetapi karena sudah tidak kuat lagi, maka hanya anaknya saja yang jualan. Ibunya hanya menyiapkan bahan di rumahnya.
Silahkan yang mau menikmati pecel Madiun, murah meriah dan tentunya enak bisa ke pasar Bambu Kuning, Jl, Imam Bonjol, dekat grosir buah.