Sunday, November 08, 2026

LHHH RUN 1183, TRAILS OF STRUGGLE, SPIRIT OF FRIENDSHIP

 

TRAILS OF STRUGGLE, SPIRIT OF FRIENDSHIP

Jejak Perjuangan, Semangat Persahabatan

Run 1183 – Lampung Hash House Harriers (LHHH)
Vila Suka Harum, Batu Putu

Vila Suka Harum di kawasan Batu Putu menjadi run site Lampung Hash House Harriers (LHHH) untuk Run 1183 kali ini. Vila yang merupakan milik salah seorang senior member Lampung Hash, Pak Hadi, memiliki area yang cukup luas dan asri. Berbagai tanaman menghiasi kawasan vila, dilengkapi kolam ikan, kolam renang, aula, serta fasilitas penginapan yang dapat disewa.

Sejak pukul 06.00 WIB, sekitar 150 member dan partisipan Lampung Hash mulai berdatangan. Dengan dress code bernuansa merah, suasana vila perlahan dipenuhi warna yang melambangkan keberanian dan semangat perjuangan.

Mengusung tema TRAILS OF STRUGGLE, SPIRIT OF FRIENDSHIP – Jejak Perjuangan, Semangat Persahabatan, kegiatan kali ini sekaligus menyambut Hari Pahlawan, 10 November. Semangat dan antusiasme para peserta begitu terasa. Merah mendominasi seluruh sudut run site, mulai dari pakaian hingga suasana kebersamaan yang tercipta.

Setelah registrasi, pembagian kupon makan, dan air mineral, tepat pukul 07.00 WIB kegiatan segera dimulai. Seperti tradisi setiap minggunya, acara diawali dengan dokumentasi bersama, foto dan video. Nuansa merah semakin terlihat dalam setiap jepretan kamera.

Selanjutnya, peserta mulai bersiap mengambil jalur masing-masing. Sekitar 30 orang memilih rute long, terutama mereka yang memang terbiasa mengambil jalur panjang dalam setiap kegiatan hash mingguan. Sebagian besar peserta memilih rute medium, sementara beberapa lainnya memilih rute suka-suka.

Perjalanan Dimulai: Tanjakan Menjadi Sambutan

Begitu keluar dari Vila Suka Harum, peserta langsung disambut jalan beraspal yang menanjak. Sebuah ujian kecil sejak langkah pertama. Jalan kampung pagi itu dipenuhi warna merah khas Lampung Hash, lengkap dengan candaan, guyonan, kelakar, dan tentu saja semangat untuk mengabadikan perjalanan melalui foto dan video.

Beberapa komentar spontan mulai terdengar.

"Baru berangkat sudah nanjak, bagaimana nanti?"

"Kalau nanjak begini, pasti nanti rutenya menurun!"

Komentar-komentar seperti itu justru mengundang tawa. Namun, di balik candaan tersebut, ada semangat yang sama: berolahraga, menjaga kesehatan, menikmati alam, dan yang tidak kalah penting, bertemu teman-teman dengan hobi yang sama.

Setelah melewati jembatan dan mulai memasuki perkebunan warga, jalur pun terpisah menjadi tiga pilihan: long, medium, dan suka-suka.

Peserta rute long dan medium diarahkan memasuki kawasan kebun karet, sedangkan peserta rute suka-suka melanjutkan perjalanan melalui jalan beraspal di kawasan perkebunan, dengan arah menuju Taman Rusa atau Taman Kupu-Kupu.

Menyusuri Kebun dan Mengenal Alam

Saya memilih rute long, bersama sebagian besar peserta yang mengambil jalur medium. Perjalanan diawali dengan sedikit tanjakan melewati kebun karet, kemudian memasuki kawasan Jalan Teropong Bintang.

Dahulu, kawasan ini direncanakan menjadi jalur menuju tempat pengamatan bintang. Namun, sekarang kondisinya sudah tidak terawat dan sebagian jalannya mulai ditumbuhi semak belukar.

Di sebuah persimpangan, Rosa sudah menunggu untuk mengarahkan peserta. Dari titik tersebut, rombongan kembali dipisahkan menjadi dua kelompok, yaitu rute long dan medium. Sekitar 20 orang melanjutkan rute long, sementara peserta lainnya disarankan Rosa untuk mengambil jalur medium.

Rute medium masih melewati Jalan Teropong Bintang sebelum akhirnya masuk lebih jauh ke perkebunan warga. Berbagai tanaman tumbuh di sepanjang perjalanan, mulai dari kopi, pala, durian, pisang, hingga tanaman perkebunan lainnya.

Pohon-pohon kopi masih memperlihatkan buah-buah kecil setelah melewati masa berbunga. Sementara itu, beberapa pohon durian masih berbunga dan sebagian lainnya sudah mulai memperlihatkan buah-buah mungil.

Menyusuri perkebunan warga ternyata memberikan pengalaman tersendiri bagi kami para hasher. Selain menikmati perjalanan, kami juga bisa belajar mengenal berbagai jenis tanaman. Tidak semua orang mengenali pohon dari bentuknya, meskipun sudah mengenal buahnya.

Ada yang tahu buah pala, tetapi belum tentu mengenali pohonnya. Ada yang mengenal cabai jawa, tetapi belum pernah melihat tanamannya secara langsung. Begitu pula dengan kemiri dan berbagai tanaman lainnya.

Perjalanan ini seolah menjadi ruang belajar alam yang sederhana. Kita tidak hanya berjalan, tetapi juga melihat, mengenal, dan memahami lingkungan di sekitar kita.

Di beberapa bagian perjalanan, kami melewati pohon-pohon hutan berukuran besar yang usianya mungkin sudah puluhan tahun. Sayangnya, kami tidak mengetahui nama pohon-pohon tersebut. Ukurannya yang menjulang dan batangnya yang besar menjadi pemandangan menarik sekaligus spot foto yang sayang untuk dilewatkan.

Memang, salah satu bagian menyenangkan dari hash adalah mengabadikan setiap momen. Bukan hanya pemandangan luas atau panorama alam, tetapi juga pepohonan, kebun, jalan setapak, dan kebersamaan teman-teman sepanjang perjalanan.

Jalur medium kemudian melewati jalan setapak yang sebagian sudah disemen oleh warga karena menjadi akses kendaraan roda dua menuju perkebunan. Sepanjang jalur ini banyak dijumpai pohon durian. Sayangnya, belum memasuki musim panen. Kami hanya menemukan beberapa buah durian kecil yang jatuh ke tanah. Lumayan, bisa menjadi bahan candaan dan permainan sejenak.

Perjuangan dan Kepedulian di Sepanjang Jalur

Namun, perjalanan tidak selalu menyenangkan dan mudah. Tanjakan demi tanjakan terus menghadang. Jalan seolah tidak memberikan kesempatan bagi para hasher untuk menikmati jalur datar.

Di tengah perjalanan, salah seorang peserta mengalami mual dan pusing. Teman-teman yang berada di sekitarnya segera memberikan pertolongan pertama dan membantu menenangkan kondisinya.

Sementara itu, teman lainnya berinisiatif mencari bantuan kepada pekebun yang membawa sepeda motor agar peserta tersebut dapat diantar kembali ke run site, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan.

Tidak lama kemudian, seorang peserta lainnya juga mengalami kelelahan. Setelah mendapatkan pertolongan pertama dan dinilai tidak memungkinkan untuk meneruskan perjalanan, kami kembali berusaha mencari bantuan pekebun yang dapat mengantarkannya pulang ke run site.

Dua kejadian ini menjadi pengingat bahwa dalam kegiatan luar ruang, keselamatan dan kepedulian harus selalu menjadi prioritas. Semangat menyelesaikan rute memang penting, tetapi mengetahui batas kemampuan diri dan saling memperhatikan kondisi teman jauh lebih penting.

Perjalanan pun berlanjut. Tanjakan masih menjadi teman setia kami. Namun, semangat terus dibangun bersama. Sesekali tertawa, bercanda, dan saling menyemangati menjadi cara sederhana untuk melupakan rasa lelah.

Batu Lapis dan Tantangan Menuju Kaki Gunung Betung

Setelah melewati sejumlah tanjakan, akhirnya kami menemukan jalan yang lebih datar dan sedikit menurun. Rupanya, kami telah sampai di tujuan pertama, yaitu Batu Lapis.

Batu Lapis merupakan kawasan aliran sungai yang dipenuhi batu-batu besar dengan susunan berlapis-lapis. Bentuk dan susunan batu inilah yang menjadi asal penyebutannya. Sayangnya, karena sedang musim kemarau, sungai tersebut tidak lagi dialiri air.

Kami memanfaatkan kesempatan untuk beristirahat sejenak, menikmati suasana, mengambil foto dan video, sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Dan benar saja, tanjakan kembali menyambut.

Beberapa teman bahkan harus saling membantu dengan menarik tangan ketika menghadapi tanjakan yang cukup berat. Kondisi tubuh yang mulai lelah ditambah jalur yang terus menanjak membuat perjalanan semakin menantang.

Namun, sebagian peserta justru menikmati tantangan tersebut. Di antara pepohonan kopi, dengan latar belakang langit biru, kamera kembali bekerja mengabadikan momen. Ada saja alasan untuk berhenti sejenak, berfoto, dan membuat video.

Sampai akhirnya kami berhasil melewati tanjakan tertinggi di kawasan kaki Gunung Betung. Lega rasanya ketika jalur mulai menurun. Setelah melewati sebuah persimpangan, terlihat jalur menuju kawasan pendakian Gunung Betung.

Sebagai informasi, Gunung Betung memiliki beberapa jalur pendakian yang dikenal, antara lain melalui Wiyono, Sukawera, dan kawasan Hutan Kemiri.

Namun, jangan membayangkan bahwa jalan menurun selalu lebih mudah daripada tanjakan. Justru pada jalur menurun, kita harus lebih berhati-hati. Kaki dan lutut menjadi tumpuan utama untuk menahan berat tubuh. Jika saat menanjak kita harus pandai mengatur napas, saat menurun kita harus lebih memperhatikan pijakan dan menjaga keseimbangan.

Kecepatan berjalan pun terkadang hampir sama dengan ketika menanjak.

Hutan Kemiri: Teduh, Sejuk, dan Menawan

Memasuki kawasan Hutan Kemiri, suasana terasa sedikit berbeda. Udara lebih sejuk, pepohonan besar menaungi jalan, dan suasana hutan memberikan kesegaran setelah melewati perjalanan panjang.

Pohon-pohon kemiri yang berukuran besar berdiri di sepanjang kawasan ini. Entah sudah berapa puluh tahun usianya. Jumlahnya cukup banyak sehingga kawasan ini dikenal sebagai Hutan Kemiri.

Pepohonan besar tersebut menjadi latar foto dan video yang menarik. Di tengah perjalanan yang melelahkan, suasana teduh hutan memberikan kesempatan bagi kami untuk beristirahat dan menikmati keindahan alam.

Kawasan ini termasuk dalam wilayah Taman Hutan Raya (Tahura) Wan Abdul Rachman.

Setelah beristirahat sebentar dan mengabadikan beberapa momen, kami kembali melanjutkan perjalanan. Masih cukup jauh untuk mencapai run site.

Jalur mulai relatif datar dan cenderung menurun. Akan tetapi, matahari semakin terik. Jam menunjukkan sekitar pukul 10.45 WIB. Meskipun beberapa bagian perjalanan masih dinaungi pepohonan, udara panas mulai terasa.

Ketika memasuki jalan kampung yang lebih terbuka, teriknya matahari siang seolah menjadi tantangan tersendiri. Matahari tepat berada di atas kepala, sementara kami masih harus melangkah cukup jauh.

Semangat tetap dijaga. Tujuan berikutnya adalah Taman Rusa, yang menjadi salah satu patokan sebelum kembali menuju Vila Suka Harum.

Taman Rusa dan Segelas Kesegaran

Sesampainya di sekitar Taman Rusa, kami mulai melihat beberapa pedagang yang berjualan di sepanjang jalan. Salah satu yang menarik perhatian adalah penjual es jus.

Di tengah cuaca panas dan perjalanan panjang, segelas minuman dingin terasa begitu menggoda. Kami pun memilih berhenti sejenak untuk menikmati kesegarannya.

Sederhana memang, tetapi dalam perjalanan seperti ini, hal-hal kecil justru terasa sangat istimewa. Segelas minuman dingin bisa menjadi hadiah setelah melewati tanjakan, turunan, dan perjalanan panjang.

Setelah menikmati minuman, kami kembali melangkah menuju run site.

Kembali ke Run Site: 12 Kilometer Perjuangan

Akhirnya, sekitar pukul 12.15 WIB kami tiba kembali di Vila Suka Harum. Beberapa peserta sudah lebih dahulu pulang, sementara sebagian lainnya baru menyelesaikan perjalanan.

Menu makan siang kali ini adalah ayam goreng geprek dan sebotol air mineral. Rasanya sudah lebih dari cukup untuk mengisi perut yang sejak tadi seolah terus mengingatkan bahwa waktunya makan telah tiba.

Sambil menikmati makan siang, obrolan tentang perjalanan hari ini masih terus berlangsung. Berdasarkan catatan jam dan aplikasi masing-masing, jarak perjalanan kami mencapai sekitar 12 kilometer.

Beragam komentar muncul. Ada yang merasa rutenya bagus, menarik, dan menantang. Ada pula yang tidak menyangka bahwa dirinya mampu melewati jalur sejauh itu, dengan tanjakan dan turunan yang cukup menguras tenaga.

Namun, justru di situlah letak kepuasannya. Ada rasa bangga ketika menyadari bahwa sesuatu yang awalnya terasa berat ternyata bisa dilalui.

Run 1183 kali ini bukan sekadar perjalanan berjalan kaki menyusuri perkebunan dan hutan. Ada pengalaman mengenal alam, melihat kehidupan perkebunan warga, menikmati keindahan Hutan Kemiri, melewati Batu Lapis, dan tentu saja merasakan kebersamaan yang tumbuh sepanjang perjalanan.

Lebih dari itu, ada pelajaran tentang kepedulian. Bahwa dalam sebuah perjalanan, kita tidak hanya memikirkan langkah sendiri, tetapi juga memperhatikan teman yang berjalan bersama kita.

Akhirnya, satu per satu meninggalkan Vila Suka Harum, milik Pak Hadi, senior member Lampung Hash, untuk kembali ke rumah masing-masing dan beristirahat.

Mungkin kaki masih terasa lelah, tetapi ada banyak cerita yang akan dibawa pulang. Tentang tanjakan yang seolah tidak ada habisnya, candaan sepanjang jalan, pemandangan yang indah, segelas es jus yang menyegarkan, hingga kebersamaan yang membuat perjalanan terasa lebih ringan.

Jejak perjuangan bukan hanya tentang seberapa jauh kita melangkah, tetapi juga tentang bagaimana kita saling menguatkan dalam perjalanan.

Sampai bertemu di rute berikutnya, dengan tantangan dan pengalaman yang tentunya lebih menarik.

LAMPUNG HASH HOUSE HARRIERS

Fun, Fitness, Friendship.

ON..... ON.....!

 





























 

No comments: