Monday, April 02, 2018

JAMBORE NASIONAL 9 BIS MANIA COMMUNITY 2018


Jambore Nasional 9 Bis Mania Community (MBC) 2018 kali ini diadakan di pantai Ringgung, Pesawaran, Lampung. Acara yang diikuti oleh beberapa peserta dari Bali, Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Beberapa acara yang diadakan untuk memeperingati HUT MBC ke X antara lain, Konvoitertib berlalu lintas, Diskusi perbisan & BMC, Parade Miniatur Bis, Bazaar Souvenir, Gathering Nasional & keakraban, Hiburan, Foto session serta Kopdar Bisminiatun.
Antusiasme peserta begitu terasa di balut acara yang keren ditempat yang keren, pantai Ringgung yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Lampung.
Sesi foto menjadi hal yang sangat menarik karena lokasi yang dipilih sangat bagus, dan mengakomodir acara ini.Souvenir juga banyak diminati peserta, baik souvenir yang berhubungan dengan BMC maupun oleh oleh khas Lampung.

MENIKMAKTI DAN MENGABADIKAN KEINDAHAN YANG SELALU BERUBAH

Keindahan, keagungan karya ciptaan Tuhan memang tiada bandingnya. Dan yang mesti disadari bahwa segala ciptaanNya selalu baru dan selalu indah menakjubkan. Itupun terasa ketika aku berada di lantai 2 rumahku, yang kebetulan aku tinggal diperumahan yang kebetulan juga di depan rumah adalah area SMK PP (Pertanian Pembangunan) yang masih kosong dan rumah tetangga depan juga ditanami tanaman bunga. buah dll, sehingga pemandangan luas terbentang. Dengan latar gunung betung, ketika senja tiba, sinar matahari begitu indah menakjubkan, warna langit biru dan warna orange "semburat" sinar matahari dan siluet pepohonan, sayang untuk tidak dinikmati dan di abadikan. 
Pemandangan indah yang selalu berubah setiap saat ini aku abadikan dalam jepretan kamera HP, sudah cukup mewakili untuk dinikmati setiap saat. Dan menarik untuk dijadikan background layar komputer. Tidak perlu jauh jauh untuk mendapatkan momen indah, cukup dengan melatih kepekaan saja, kita bisa mendapatkan hal menarik yang selalu berubah. 



Friday, March 16, 2018

BERBAGI PERAN

Mendapat kesempatan berlibur memang sangat menyenangkan. Ya...berlibur, melakukan perjalanan memang menjadi hobby dan kebutuhan bagiku, bagi keluarga kami. Namun kali ini istriku yang mendapat kesempatan untuk menemani seorang sahabatnya yang sedang berlibur musim dingin di Indonesia. Sahabatnya memang orang Indonesia, namun sekolah dan tinggal di Swiss, kebetulan bila memasuki musim dingin dia selalu pulang kampung. Dan saat ini berlibur kebeberapa tempat di Indonesia timur, salah satunya di Bali. Biasanya selalu menyempatkan diri untuk mampir ke rumah di Lampung, tetapi kali ini bertemu di Bali disebuah cottage di Amlapura tempat mereka menginap.

"Ditinggal" istri pergi untuk berlibur seminggu bagi kami bertiga ( dengan 2 anaku), sudah biasa karena memang istriku aktifis sosial yang sudah sering kali pergi untuk beberapa hari, baik di wilayah Indonesia maupun ke luar negeri. Repot....memang, tapi ketika itu dijalani dengan sukacita, saling pengertian, maka "repot" tadi menjadi hal yang biasa saja tidak menjadi masalah. Hanya saja pekerjaan yang biasa dilakukan istriku mesti aku yang harus lakukan, terutama memasak untuk kami bertiga. Bangun harus lebih pagi, untuk melakukan aktifitas pagi, mempersiapkan sarapan, makan siang, dll dan mengantar anak ke sekolah, dan akhirnya berangkat ke kantor. Demikian juga sore atau malam hari, mempersiapkan makan malam.
Apalagi saat ini kami sedang renovasi rumah, sehingga aktifitas harian dirumah menjadi lebih ekstra, karena harus menyiapkan keperluan tukang (snack, air minum, kopi dll) yang biasanya dilakukan istriku. 
Tetapi semua bila dijalani dengan penuh pengertian, semua lancar-lancar, mengalir saja yang akhirnya menjadi alami (jam biologis) ter "setting" dengan sendirinya.
Seperti yang saya ceritakan dalam blog sebelumnya, semua mengalir saja tanpa ada yang harus dikuatirkan, semua akan berjalan dengan sendirinya, semua akan indah pada waktunya. http://piethendro.blogspot.co.id/2018/03/berbuat-baik.html
Kebaikan pribadi dalam anggota keluarga akan membawa dampak yang baik juga bagi anggota yang lain, itu yang kami pahami, proses itu yang sedang kami bangun. 
Selamat berlibur, tetap ceria, tetap sehat, kebahagianmu menjadi kebahagian kami. GBU

Sunday, March 11, 2018

BERBUAT BAIK MENDAPAT KEBAIKAN


"Mas, besok ada teman penulis, seorang Kiai NU dari Sumenep Madura mau menghadiri Jambore Nasional ke 9 Bis Mania Community (BMC) di pantai Ringgung, kita jemput dia dan kita antar ya". Demikian WA dari istriku. Kemudian aku jawab "Ok siap. Hari ini aku ke kantor, karena ada acara Seafood Party, mau persiapan, info saja sudah sampai mana dia, ntar aku jemput". Kebetulan sang kiai sedang melakukan perjalanan dari titik O Sabang dengan menggunakan transportasi bis, dia merupakan seorang kiai, guru, penulis dan sekaligus penggemar bis (bis mania).
Kebetulan mobil kami sedang ada kendala saya coba pakai mobil kantor ternyata masih digunakan menjemput tamu dari Jakarta, sehingga sempat berpikir bagaimana menjemput dan mengantar sang kiai. Tetanggaku yang biasanya siap "direpotin" kebetulan juga lagi pulang kampung sehingga tidak ada pilihan lain harus sewa mobil atau pakai Grab.
Turun di bunderan Radin  Inten, ternyata sang kiai bersama 2 teman lainnya yang juga anggota bis mania, seorang dari Bali yang tinggal di Palembang, seorang lagi dari Muntilan yang tinggal di Sekayu Sumsel. Karena waktu menunjukan jam 14.00 wib dan mereka belum makan siang, mereka kami ajak makan siang di warung mahasiswa Mister Geprek. Warung ini berlokasi di dekat kampus negeri terbesar di Lampung, Unila. Warung yang cukup ramai karena rasaya yang memang enak, harga ekonomis dan lokasinya strategis. Warung ini dikelola oleh pak Aji dengan mempekerjakan anak-anak muda, untuk pagi - sore oleh karyawan, sore - malam dikerjakan oleh teman-teman mahasiswa yang kerja part time. Dengan harapan memberikan pembelajaran bagi siapapun untuk belajar wirausaha, pak Aji juga siap melakukan pendampingan. Bahkan untuk pesanan online (Gofood) disediakan tempat khusus buat mereka untuk menunggu. Kebetulan pemiliknya juga kenal, walau baru sekali bertemu.
Disini hal kebaikan itu muncul, kami di suguhi menu yang sebetulnya tidak ada di warung ini, pindang patin, spesial dimasak buat kami, ayam goreng khas warung ini dan terong tepung goreng sambel yang rasanya uuenaakk (menggambarkan karena sangat enak) sekali dengan minuman dingin dan terakhir kopi. Dan "amazing" nya, ibu warung disebelah (warung bu Wito) menambahi lauk kami dengan ikan goreng. Berenam kami makan dengan lahap, hanya karena kapasitas perut saja yang menghentikan untuk menyantap habis hidangan didepan meja.
Setelah berfoto dengan pemilik, istriku menuju kasir untuk bayar, ternyata dicegah oleh pemilik warung Mister Geprek pak Aji. Dengan kata lain, semua yang dihidangkan dan kami makan tidak harus dibayar alias gratis. Dan selanjutnya, saya diserahin kunci mobil beliau untuk kami pakai mengantar sang kiai dan temannya ke lokasi Jamnas di pantai Ringgung. Saya sempat terdiam sejenak, kok enak sekali memberikan kepercayaan mobilnya untuk kami pakai. "Pakai saja mobil saya, sampai malam juga tidak apa-apa" demikian pak Aji dengan entengnya memberikan kunci mobil kepadaku.
Sebelumnya dalam pertemuan singkat ini banyak kebetulan baik yang kami temukan, pertama salah satu anggota Bis Mania, Wayan (dokter hewan) adalah teman keponakanku waktu kuliah di Kedokteran hewan di Univ Airlangga Surabaya, Bude (demikian kami menyebut) pemilik warung Mister Geprek adalah menggemar tulisan istriku Yuli Nugrahani (seorang penulis, http://yulinugrahani.blogspot.co.id) sehingga sangat "exited" ketika ketemu.

Wednesday, February 28, 2018

RS Imanuel Bandarlampung


“Besok mesti ke Rumah sakit untuk periksa mata, kita coba pakai BPJS” begitu istriku menyarankan untuk periksa mata, karena mata kanan agak kabur. Dengan diantar istri, mengikuti prosedur, periksa ke dokter keluarga, kebetulan dekat rumah, klinik Bunderan sehat. Akhirnya di rujuk ke RS Imanuel. Selanjutnya kami ke RS Imanuel untuk ambil nomer antrian, ternyata untuk klinik mata sudah tidak ada kuota, jadi harus menunggu dua hari lagi (Jumat),
Tahap 1. Hari Jumat, kami pergi agak pagi (jam 07.30), ternyata setelah minta nomer antrian mendapat no 212 untuk klarifikasi berkas. Padahal nomor antrian baru nomer 52, bisa dibayangkan kalau 1 nomer antrian 5 menit maka 5 x 160 = 800 menit /60 = 13 Jam. Artinya kalau jam 08.00 wib mulai antri, maka baru jam 21.00 wib baru dipanaggil. Untungnya no antrian tersebut tidak update (tidak semua orang datang) sehingga jam 12.30 sudah dipanggil. Dan sementara tahap 1 sudah selesai.
Selanjutnya tahap 2, antri di klinik mata, kalau saya lihat di monitor baru menunjukan angka 17 artinya harus menunggu 16 orang lagi. Kalau tiap orang butuh 10 menit diperiksa maka perlu 160 menit atau 2,5 jam. Artinya jam 15.00 wib  baru diperiksa. Untuk itu, sementara kami tinggal makan siang di kantin. Setelah lama menunggu akhirnya giliran saya dipanggil untuk diperiksa, oleh dr. Indah Puspa sp.M. Pemeriksaan selesai, tanya jawab sebentar, beres.
Giliran ke tahap 3, ke bagian administrasi (Customer service) untuk stempel berkas, butuh waktu sekitar 5 menit.
Tahap 4, menunggu obat di ruang tunggu farmasi. Menunggu kira kira 10 menit obat sudah siap.
Secara umum pelayanan di RS Imanuel cukup tertib, mulai dari pengambilan nomor antrian sampai pengambilan obat. Ruang tunggu cukup nyaman. Pelayanan BPJS maupun umum dilayani dengan baik, hanya antrian pasien BPJS lebih panjang (lama) dari pada antrian umum.

Wednesday, February 21, 2018

STUDY TOUR, LAMPUNG, BALI, MALANG, JOGJAKARTA

Melakukan perjalanan kesuatu tempat bagiku sangat menyenangkan (apalagi tempat yang baru, yang belum pernah dikunjungi sebelumnya). Hal ini ternyata sangat menurun terhadap anak-anakku, Bernard anak ke dua ku, sangat menikmati sekali bila diajak jalan jalan. Namun kali ini dia melakukan perjalanan dengan rombongan sekolah. Sekolah rutin mengadakan study tour setiap 3 tahun sekali, dan kali kebetulan Bernard sudah kelas 8. Persiapan sudah dilakukan selama setahun ini, dari membayar iuran maupun menabung.
Berangkat hari Jumat 2 February  dan kembali pulang hari Sabtu 10 February 2018. Perjalanan dimulai dari terminal (pool) bus Puspa Jaya, yang kebetulan juga tidak terlalu jauh dari rumah. Pool yang biasanya sepi pada jam jam segini, sekarang penuh dengan riuh anak-anak yang mau pergi dan orang tua yang mengantarkan. Ada yang kuatir bagaimana anaknya nanti dalam perjalanan, tapi banyak juga orang tua yang sudah percaya bahwa anak mereka akan baik-baik saja (maklum mungkin baru kali berpisah jauh dan lama dengan anak kesayangannya). 
Dimulai dengan berdoa bersama, perjalanan diberangkatkan sekitar jam 07.10 wib dengan membagi peserta tour menjadi 4 bus. Bagi kami menyenangkan mempercayakan anak anak pada pihak sekolah, agar menjadi pembelajaran untuk mandiri. Melakukan perjalanan sendiri tanpa orang tua bagi Bernard akan membatu menumbuhkan kepercayaan diri, managemen diri. Melakukan perjalanan beberapa hari memang sudah biasa bagi Bernard, tapi kali ini pengalaman bepergian dengan teman-temannya merupakan pengalaman yang tidak akan terlupakan sepanjang hidupnya.
Memang beberapa tempat yang dituju sudah pernah dikunjungi, tetapi menjadi berbeda bila dikunjungi dengan rombongan sekolah / teman. 

PANTAI SUAK, KARUNIA ALAM TAK PERNAH HABIS



Pantai Suak berada di Desa Suak Kecamatan Sidomulyo Kabupaten Lampung Selatan. Kalau dari Bandarlampung bisa ditempuh dalam waktu sekitar 1 – 1,5 Jam. Sebelum pertigaan Sidomulyo, sebelah kanan ada pertigaan ke pantai Suak, jalan beberapa ratus meter masih ada yang berlubang, selebihnya sudah lumayan bagus.
Pantai ini masih jarang dikunjungi oleh wisatawan karena kurang dikenal. Tidak banyak wisatawan ketika kami menginjungi pantai Suak, hanya ada beberapa Orang Muda Katolik (OMK) yang sedang mengadakan acara outbound, dan beberapa penduduk lokal. Serta beberapa orang yang sedang mencari rumput laut. Karena kami sampai di pantai Suak sekitar jam 14.00 wib, laut sudah surut, dari bibir pantai sekitar 100 meter, baru ombak laut terasa, itupun langsung masuk ke laut dalam (berbahaya untuk bermain ombak).
Tidak banyak kegiatan yang bisa kami lakukan, kecuali hanya memandang laut lepas dengan beberapa perahu yang berlayar dan orang sekitar yang sedang mencari rumput laut. Rumput laut sangat banyak menempel di batu batu karang, mereka tinggal mencabutnya, memasukan kedalam karung. Bersiap untuk basah dan diterjang ombak, mereka mecabuti rumput laut yang berwarna kekuningan, harga jual sekitar Rp 1500 per kilogram kering, mereka bisa mengumpulkan sekitar 50 kg perhari (hanya bisa dilakukan ketika air laut surut). Ada pengepul yang siap membeli hasil panen mereka untuk dibawa ke pebrik di Jakarta, untuk diolah sebagai bahan makanan (agar-agar) makanan yang banyak mengandung serat.
Rumput laut jenis Sargassum sp ini merupakan rumput laut yang tergolong dalam  divisi Phaeophyceae (rumput laut coklat). Spesies ini dapat tumbuh sampai panjang 12 meter. Tubuhnya berwarna cokelat kuning kehijauan.
Ciri umumnya memiliki bentuk thallus silindris atau gepeng, pipih, licin, batang utama bulat agak kasar dan holdfast (bagian yang digunakan untuk melekat) berbentuk cakram. Cabangnya  rimbun  menyerupai pohon di  darat. Bentuk daun melebar, lonjong atau seperti pedang. Mempunyai gelembung udara (bladder) yang umumnya soliter. Warna thallus umumnya coklat
Rumput laut memiliki kandungan esensial yang sangat lengkap, yaitu air, protein, karbohidrat, lemak, serat kasar, abu, enzim, asam nukleat, asam amino, vitamin (A,B,C,D, E dan K), makro mineral seperti nitrogen, oksigen, kalsium, selenium serta mikro mineral semacam zat besi, magnesium dan natrium.
Rumput laut memiliki banyak manfaat, diantaranya sebagai pencegah kanker, sumber Yodium, Menurunkan berat badan, Kesehatan pencernaan, Kesehatan gigi dan mulut, Kesehatan jantung dan pembuluh darah, kesehatan kulit, Perawatan rambut



Wednesday, February 14, 2018

PUASA ALA PAUS FRANSISKUS 2018

Paus Fransiskus mengajukan 15 aksi kasih sederhana yang menjadi perwujudan konkret dari cinta:
1. TERSENYUMLAH.
Seorang Katolik selalu ceria.
2. Katakan TERIMA KASIH/BERSYUKURLAH untuk hal-hal sekecil apapun (bahkan jika kita tidak memilikinya)
3. Ingatkan yang lain bagaimana kamu sungguh MENCINTAI mereka.
4. BERI SALAM SUKACITA kepada orang2 yang kamu jumpai tiap hari
5. DENGARKAN cerita orang lain tanpa menghakimi, tapi dengan cinta.
6. Berhentilah jika ada yang membutuhkan bantuanmu. Jangan CUEK.
7. Cobalah untuk BANGKITKAN SEMANGAT orang-orang di sekitarmu.
8. RAYAKAN KESUKSESAN DAN KEBERHASILAN orang lain, hindarilah menjadi iri dan cemburu.
9. TATALAH barang-barang yang sudah tidak digunakan atau tidak dibutuhkan, dan BERIKAN ke mereka yang membutuhkan.
10. SIAP SEDIALAH UNTUK MEMBANTU ketika kamu dibutuhkan sehingga orang lain bisa beristirahat.
11. KOREKSILAH ORANG LAIN DENGAN CINTA, sesedikit mungkin jangan sampai membuat ia takut.
12. RAWATLAH relasi yang baik dengan mereka di dekatmu
13. JAGALAH KEBERSIHAN barang-barang yang kamu gunakan di rumah
14. TOLONGLAH yang lain mengatasi hambatan mereka
15. TELPONLAH ORANGTUAMU sesering mungkin.
Puasa yang Terbaik:
Rekomendasi dari Paus Fransiskus
1. Puasa mengeluarkan kata-kata yang menyerang dan ubahlah dengan kata-kata yang manis dan lembut
2. Puasa kecewa/tidak puas, dan penuhilah dirimu dengan rasa syukur.
3. Puasa marah dan penuhi dirimu dengan sikap taat dan sabar.
4. Puasa pesimis. Penuhilah dengan OPTIMIS
5. Puasa khawatir dan penuhilah dirimu dengan percaya pada Tuhan.
6. Puasa Meratap/Mengeluh dan nikmatilah hal-hal sederhana dalam kehidupan.
7. Puasa stress dan penuhilah dirimu dengan DOA
8. Puasa dari kesedihan dan kepahitan. Penuhilah hatimu dengan Sukacita.
9. Puasa egois, dan gantilah dengan bela rasa pada yang lain
10. Puasa dari sikap ga bisa mengampuni dan balas dendam. gantilah dengan pendamaian dan pengampunan.
11. Puasa ngomong banyak, dan penuhilah dirimu dengan keheningan dan siap sedia mendengarkan orang lain.
Jika kita semua mempraktikkan gaya berpuasa ini, setiap hari-hari kita akan dipenuhi dengan kedamaian, sukacita, dan percaya satu dengan yang lain, dan HIDUP.

Friday, February 09, 2018

KACA MATA

Penglihatan yang mulai berbayang, membaca tidak terlalu jelas, terutama mata kanan, membuatku "terpaksa" untuk memeriksakan mata di optik karena kebetulan lewat. Dan ternyata petugas optik menyarankan untuk memeriksakan ke dokter mata sebelum order kaca mata, karena mata kanan ada sedikit lapisan tipis.
Berurusan dengan dokter, bagiku memberikan kesan yang menyeramkan, terutama dengan jarum suntik. Pengalaman kecil, semua serba suntik, demam disuntik. Ini membekas sampai saat ini, teringat ketika suatu waktu, aku sakit demam selama 2 hari tidak turun turun panasnya. Sama orang tua dipanggilkan dokter puskesmas yang tidak terlalu jauh dari rumah. Kedatangan dokter ini membuatku tambah stress (hahaha....). Benar juga.... aku lebih baik melarikan diri dari seramnya jarum suntik, kabur melalui jendela kamar, padahal sudah dipegangi Ibu dan Bapak, dan tragisnya...dokternya sempat kena jaruk suntik. Aksi kabur ini menjadi aneh, demam, badan panas tapi justru lebih baik kabur dari pada disuntik.
Tapi kali ini mau tidak mau, suka tidak suka harus periksa ke dokter mata, (kalau baca di internet, mesti operasi kecil, hhiiii...). Dan ternyata dokter tidak merekomendasikan operasi, cukup di obati saja dan pakai kaca mata sesuai ukuran yang sudah diresepkan. Puji Tuhan.
Setelah beberapa hari order di optik, akhirnya kacamata jadi. Aku memutuskan untuk membeli 2 kacamata (kacamata baca dan kacamata jarak jauh). Karena selain pertimbangan harga juga pertimbangan pemakaian mana yang paling sering digunakan.
Penyesuaian penampilan dan  pemakaian, sehari ini, harus pasang dan lepas lagi untuk membedakan lebih enak pakai kacamata atau tidak. Untuk kacamata baca, lumayan membantu, tulisan lebih jelas, lebih terang, untuk tulisan menjadi lebih gelap. Hanya untuk baca dengan jarak sampai 40 cm, diatas itu kabur. Mesti ganti kaca mata yang jarak jauh. Ya...agak repot, tapi harus pakai, karena kata dokter, mata harus dikurangi kena paparan matahari langsung, debu atau asap.


HUJAN

Pagi ini hujan mengguyur  merata diseluruh wilayah Bandarlampung. Jalanan begitu padat, karena aktivitas harian (sekolah, kerja, dll), yang biasanya jalanan macet dengan dominasi sepeda motor, kali ini jalanan sesak kendaraan roda 4. Sepertinya kendaraan roda 4 semua keluar dari garasi, baik untuk pergi kerja maupun untuk antar anak sekolah. Membuktikan Bandarlampung sudah dipenuhi kendaraan roda 4.
Hujan tidak banyak memberikan pilihan bagi orang yang mengendarai kendaraan roda 2 (sepeda motor) yang mau bekerja atau sekolah selain berteduh sejenak, atau pakai jas hujan atau berganti moda transportasi masal atau online. Sepertinya banyak pilihan pengendara  untuk berteduh di emperan toko menunggu hujan reda. Emperan toko yang beratap/kanopi lebar menjadi tempat berteduh yang cukup melindungi dari air hujan. Walaupun beberapa halaman toko yang di batasi rantai (tidak ada bisa untuk berteduh). 
Hujan yang cukup deras, dibeberapa tempat sempat tergenang air, irigasi yang buruk menjadi salah satu penyebabnya, selain gorong gorong yang tersumbat sampat.
Hujan bagi sebagian orang menyusahkan, tetapi sebagian orang menjadi berkah. Beberapa anak kecil dengan tubuhnya yang kurus menyediakan ojek payung dibeberapa pertokoan atau tempat makan yang banyak dikunjungi orang. Basah, dingin tidak dihiraukan yang penting kesempatan baik ini menjadi berkah untuk mendapatkan kerelaan beberapa orang yang mau menyewa jasa mereka
Bagiku hujan sangat menyenangkan, menyegarkan. Kesempatan untuk hujan hujanan (bermain hujan) bagi orang kota menjadi sangat aneh, tetapi bagiku biasa saja, sama halnya dengan dengan menginjak tanah atau bermain tanah. Coba perhatikan, kapan anda terakhir bermain tanah atau setidaknya menginjak tanah, tanah yang benar benar tanah. Apakah dirumah anda masih tersisa halaman masih tanah? Lantai rumah keramik, halaman paving blok, keluar rumah pakai sepatu/sandal, lantai kantor/tempat kerja sama, juga sudah dikeramik.
Tidak memberikan kesempatan bagi tubuh kita yang fana ini berinteraksi langsung dengan air, tanah yang pada akhirnya kita semua akan dikubur bersamanya.
Hujan pagi ini memberikan ingatan bagiku, bahwa tubuh yang fana ini merupakan bagian dari alam yang juga fana, tidak bisa dipisahkan. Hujan tidak akan membuat kita sakit, kalau kita tidak memikirkannya hujan bisa membuat orang sakit. Kekuatan pikiranlah yang membuat kita sakit karena hujan, bukan sebaliknya.

Friday, February 02, 2018

PERJALANAN 6 (LUMAJANG – MALANG – BLITAR - KEDIRI)


Gladak Perak (Jembatan Perak) 
Setelah beberapa hari di Senduro, kami harus kembali ke Kediri. Kali ini kami melewati jalur selatan, yang jalannya berkelok kelok dan pemandangannya yang bagus. Karena rencana untuk mampir/berhenti dibeberapa tempat wisata ijalur yang kami lalui, maka kami berangkat pagi pagi.  Perjalananan dimuali jam 07.00 wib melalui jalur Senduro – Jambe arum – Candipuro, dari jalur ini sebenarnya bisa melewati beberapa obyek wisata Loji Besuk sat (tempat pengamatan Gn. Semeru), Loji Tawon songo, Hutan bambu. Kami hanya mampir di Gladak Perak (Jembatan perak), jembatan yang dibangun pada jaman Belanda yang menghubungkan kab. Lumajang dan kab. Malang. Dan sekarang sudah dibangun jembatan baru sebagai ganti, karena jembatan lama sudah tidak bisa menahan beban berat kendaraan.

Ditempat ini kita bisa melihat sungai Besuk sat yang merupakan sungai aliran lahar gunung Semeru, jadi sewaktu waktu bila terjadi hujan di gunung Semeru sungai ini debitnya akan naik. Mengingat sekitar tahun 1984, tempat ini juga menjadi salah satu pembuangan korban penembakan misterius. Aku sendiri mengalami melihat sendiri mayat yang dibuang ke dasar sungai. Tapi saat ini sudah ramai dengan pelintas jalan yang mampir untuk sekedar selfie, foto atau sekedar nongkrong di warung warung yang banyak di sekitaran.
Kalau beruntung, juga bisa menjumpai monyet monyet yang banyak berkeliaran disekitar tempat ini. Dari arah Lumajang disebelah kiri bisa melihat pemandangan laut selatan, disebelah kanan bisa melihat hutan lindung dan puncak Gn. Semeru. Harap hati-hati melintas maupun bermain ditempat ini, karena curamnya sungai, apalagi kalau dengan anak-anak.
Perjalanan dilanjutkan menuju Coban Sewu, ada yang menyebut juga Tumpak Sewu, sebuah air terjun yang berada di perbatasan Lumajang dan Malang.  Sebelumnya mampir sebentar di rumah saudara di Pronojiwo, dan salak yang menjadi andalan petani di sini menjadi oleh oleh bagi kami. Sebenarnya ada beberapa coban (air terjun) di sekitaran Pronojiwo salah satunya Gua Tetes, tapi karena tujuan awal kami ke coban Sewu, maka perjalanan dilanjutkan. Gua Tetes dan Coban Sewu sebenarnya terletak pada jalur yang sama dan tidak terlalu jauh, hanya aksesnya saja yang berbeda.

Coban Sewu
Coban Sewu
Petunjuk ke Gua Tetes maupun Coban Sewu sangat jelas terlihat. Tiket masuk Rp 5.000 / orang. Karena letaknya di jurang, maka perlu ekstra hati hati bila ke lokasi ini. Jalan yang menuruni tangga, dan berpegangan pada batu, pagar yang sudah dipasang sebagai pengaman. Melewati kebun salak, kebon kopi, menuruni tangga yang cukup curam akhinya sampai di lokasi pandang coban Sewu. Dan pertama yang terucap adalah “Menakjubkan”. Karunia Tuhan yang sungguh indah, memanjakan mata siapa saja yang melihatnya. Air terjun yang begitu besar dan tinggi dari aliran sungai Gn. Semeru yang agak keruh berpasir, tetapi disisi kanan dan kiri justru air terjun sangat bening bersih, karena bersumber dari celah bebatuan.
Bila dilihat dari atas dan matahari bersinar tepat dari atas, akan kelihatan pelangi yang begitu indah. Pelangi ini tercipta dari uap air terjun yang terpapar sinar matahari. Sungguh menakjubkan. Tidak akan bosan menikmati semua ini.
Setelah sedikit puas (perjalanan masih jauh, hehehe…), kami lanjutkan perjalanan ke arah Malang dan akhirnya sampai di Karangkater, tetapi karena waktu sudah jam 16.00, sudah tidak bisa masuk ke area waduk, akhirnya masuk ke waduk Lahor tidak jauh adri waduk Karangkates.
Menikmati Bakso Malang, sambil memandang luasnya waduk Lahor dan guyuran gerimis menjadi pengalaman sendiri bagi kami. Melewati waduk Lahor juga merupakan alternatif jalan menuju Blitar. Hujan agak deras, sehingga kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke Blitar.
Makam Bung Karno
Di Blitar kami mampir ke makam Bung Karno sang Proklamator. Tidak terlalu sulit mencapai tempat ini, karena petunjuk jalan sudah sangat jelas. Walau hari sudah agak malam, tetapi masih banyak wisatawan yang mengunjungi tempat ini, terutama wisatawan dari luar kota. Ada yang hanya sekedar berwiasata tetapi banyak juga dengan tujuan ziarah, baik perorangan maupun berombongan.

Tidak lama kami berada ditempat ini, akhirnya perjalanan dilanjutkan untuk pulang ke rumah orang tua di Kediri. 

Wednesday, January 31, 2018

PERJALANAN 5 ( PUNCAK B29 dan B30 )


Matahari terbit dilihat dari Puncak B29
Gunung Bromo dan lautan pasir
Sesuai janjiku pada Albert (anakku yang pertama) kalau mudik akan saya ajak ke Puncak B29, kali ini dengan Erlo (keponakan) dan Bernard (anak kedua) pergi ke dengan menggunakan 2 motor trail. Sebenarnya untuk menikmati pemandangan sunrise (matahari terbit) harus berangkat dari rumah jam 03.00 wib, tapi kali ini kami berangkat jam 05.00 wib. Dengan berbekal kamera DLSR, Camera Action, Camera HP, (tripot yang saya siapkan ternyata tidak ikut terbawa) kami berangkat, dan mesti menggunakan jaket tebal untuk mengusir dinginnya tempat yang kami kunjungi.

Perjalanan dari rumah (Senduro) hanya ditempuh sekitar 1 jam dengan menggunakan kendaraan roda 2 atau roda 4, jalanan yang menanjak dan berliku. Saat ini akses sudah lebih mudah, ingat waktu pertama kali ke Gn. Bromo sekitar tahu 1985, dengan jalur ini harus ditempuh seharian jalan kaki, fisik yang baik harus juga disiapkan karena medannya yang menanjak. Sepanjang perjalanan dari rumah ke Puncak B29 bisa menikmati pemandangan alam yang indah (hutan rimba, kebun sayur dan bukit bukit).
Bila menggunakan kendaraan roda 2, langsung menuju puncak B29, tetapi bila menggunakan kendaraan roda 4 harus berhenti di rest area yang telah disiapkan dan berganti dengan kendaraan roda 2 (ojek) dengan tarif  Rp. 50.000 – Rp. 80.000 PP tergantung negonya. Untuk pengendara harus hati hati karena medannya yang menanjak dan beberapa tempat kiri atau kanan kita adalah jurang.

Kami sampai di puncak B29 jam 06.00 wib, tidak bisa menikmati sunrise, disamping cuaca agak mendung, juga matahari sudah terbit. Tetapi pemandangannya yang disuguhkan alam Gn. Bromo memang menakjubkan, benar benar menakjubkan. Awan menyelimuti gn. Bromo dan lautan pasirnya yang luas. Pesona lautan pasir dengan latar belakang Gn. Bromo, Gn. Batok dan jauh dibelakang Gn. Arjuno disisi barat, sedang disisi selatan Gn. Semeru dengan puncak Mahamerunya juga kelihatan megah dan agung seta disisi timur Gn. Lemongan dan Gn. Argopuro (kab. Probolinggo), disisi utara kelihatan desa Sukapura yang merupakan akses termudah menuju Gn Bromo melalui Probolinggo.

Aliran awan yang mulai menghilang perlahan seperti mengalir dibibir jurang membuat suasana magis, sangat indah. Setiap kali saya kesini selalu menemukan keindahan yang terus berganti tak pernah kehilangan pesonanya, tak pernah kehilangan daya tariknya untuk menikamati kebesaran karya Tuhan. Alam yang harus dipelihara dan dimanfaatkan dengan bijak oleh manusia. Karena dengan demikian manusia juga yang akan menikmatinya, kelestariannya. Salah satunya adalah menjadi obyek wisata alam (pemandangan), wisata religi (Kasada), wisata Edukasi, maupun pengolahan tanah untuk bercocok tanaman sayur. Dengan kesuburan tanah yang baik dan pengolahan yang baik maka akan didapatkan hasil yang baik pula.


Puncak B29 berada diketinggian sekitar 3000 Mdpl, jadi tidak heran kalau tempat ini udaranya dingin dan selalu berkabut. Dan kalau kita mau menjelajah lebih jauh bisa juga ke puncak B30 puncak yang lebih tinggi lagi di sebelah barat laut dari puncak B29. Di puncak B30 ini terdapat Pura kecil yang biasa dipakai/tempat doa bagi saudara kita yang beragama Hindu Tengger. Dari tempat ini bisa dilihat lebih jelas puncak Gn. Semeru dan desa Sukapura. Dan merupakan perbatasan kab. Lumajang dan kab. Probolinggo. Agak jarang wisatawan kesini disamping jalannya menanjak dan sempit juga bagi sebagian orang sampai di puncak B29 sudah bisa menikmati Gn. Bromo dan sekitarnya.

Ladang Sayur
Di Puncak B29 maupun B30 kita bisa menikmati yang menjadi maskot pendaki yaitu bunga Edelweis (saya sarankan jangan petik bunga ini, demi kelestarian alam). Jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak, jangan bunuh sesuatu kecuali waktu, jangan ambil sesuatu kecuali gambar. Dan ada beberapa tumbuhan yang bisa kita nikmati (makan), redberry, kecalingan dll yang rasanya agak asem asem manis. Dan kali ini saya tunjukan pada kedua anakku dan keponakan. Tumbuhan sehat yang bisa dimakan, dan ternyata mereka sangat menyukainya walau dengan ekpresi lucu, karena rasanya yang asam manis. Membuktikan di alam banyak tersedia makanan yang bisa dikonsumsi, tapi harus hati hati agar tidak makan tumbuhan yang bisa membuat alergi atau bahkan beracun.

Matahari semakin tinggi, udara masih terasa dingin, dan ini yang kadang membuat kita coba berjemur, akhirnya kulit jadi terbakar tanpa disadari. Pemandanganpun juga mulai berubah, Sekitaran Gn. Bromo semakin jelas kelihatan, lautan pasir juga kelihatan membentang dengan lalu lalang kendaraan wisatawan. Bromo memang menakjubkan.

Tuesday, January 30, 2018

NEGERI DIATAS AWAN B29


Puncak B29 
Tempat ini sangat populer dikalangan traveler, terutama muda mudi. Apalagi 2 tahun belakangan ini, Semakin populer bagi mereka yang ingin menyaksikan Gunung Bromo dari sisi yang berbeda.
Puncak B29 berada di desa Argosari kecamatan Senduro kab Lumajang Jawa Timur. Dari kota Lumajang kearah Senduro sekitar 17 Km dan dilanjutkan sekitar 18 km lagi menuju desa Argosari.
Untuk mencapai lokasi ini bisa menggunakan angkutan umum dari Klojen ke Senduro hanya dibatasi sampai jam 17.00 wib sudah agak sulit mencari angkutan ini, tapi bisa juga menggunakan jasa ojek.


Negeri diatas awan
Dari desa Senduro bisa menggunakan jasa ojek sampai di puncak B29. Untuk lebih mudahnya memang harus menggunakan kendaraan pribadi, bila menggunakan kendaraan roda 4 maka harus parkir di rest area desa Argosari dan dilanjutkan menggunakan jasa Ojek (ongkosnya sekitar Rp. 80.000 PP), tapi kalau menggunakan kendaraan roda 2 bisa langsung ke Puncak B29.
Waktu yang tepat untuk mengabadikan kegiatan ini adalah pagi hari sekitar jam 04.30 - 06.00 Wib untuk menyaksikan matahari terbit dan awan yang mengambang dibawah puncak B29. Serasa kita berada diatas awan.

Latar belakang gn. Bromo, lautan pasir
Gunakan jaket agar tidak kedinginan dan wajib untuk menyiapkan kamera, handycam (minimal kamera HP,  hehehe,,,,,)
Pemandangan akan berganti setiap saat seirng waktu dan cuaca, inilah yang membuat puncak B29 begitu menarik untuk diabadikan. Setiap saat begitu indah, sayang dilewatkan untuk diabadikan sebagai oleh oleh.
Dalam perjalanan ke B29 atau sebaliknya, bisa melihat pemandangan penduduk suku Tengger yang sedang bercocok tanam sayuran, bawang pre (daun bawang), wortel, kol (kubis), kentang dll.

Puncak B29 diselimuti kabut pagi
Bercengkrama dengan penduduk setempat juga menjadi hiburan tersendiri, mereka sangat ramah terhadap pendatang (wisatawan). Kalau kita mau juga bisa ikut mencoba berladang dengan penduduk setempat. Hanya perlu kesiapan kita, karena medannya yang begitu curam, diantara lembah dan bukit. Kalau tidak terbiasa dipastikan napas akan ngos-ngosan. Belum lagi kalau mereka membawa hasil ladang dari lembah kejalan yang bisa diakses kendaraan, mesti dipikul. Jangan anda coba-coba untuk melakukannya, "tidak kuat, hahaha....". Biarkan saja mereka yang melakukan dengan caranya.


Latar belakang lautan pasir